Jumat, 25 Desember 2009

Kemurtadan Besar

Penyimpangan Besar yang Dimotori Oleh Sekelompok Orang ...

Judul Asli: The Great Apostasy

“Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan, oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenarana.” (1 Tim. 4:1-3)

Yesus mendirikan lembaga kerohanian terbesar, yaitu Gereja-Perjanjian Baru, dan menghendaki agar gereja-Nya dikelola menurut hukum yang Ia tetapkan. Setelah para rasul meninggal, penyimpangan pun mulai terjadi. Perubahan yang sedikit demi sedikit itu mengakibatkan institusi tersebut makin jauh dari kebenaran. F.W. Mattox dan E.M. Borden menyebutkan, perubahan-perubahan kecil seperti para penatua memilih kepala penatua atau bishop terjadi sekitar tahun 150 M.

Perubahan sedikit demi sedikit yang terjadi pada awal abad ke -3 M telah merubah iman dan persekutuan jemaat yang mula-mula ke dalam federasi episkopal keuskupan, yang dikepalai oleh para bishop yang mengklaim mendapat otoritas langsung dari rasul-rasul.

Secara berangsur-angsur, khususnya pada abad ke-4 M, bishop Roma menetapkan dirinya menjadi bishop kepala di antara para bishop. E.M Borden menyebutkan, pada tahun 606 ditahbiskanlah paus pertama yaitu Boniface III. Episkopal kepausan yang sama sekali tidak pernah disebutkan dalam organisasi Gereja Perjanjian Baru itu pun eksis. Tata cara ibadah dibentuk dan sakramen-sakaramen ditetapkan. Sekelompok orang yang murtad ini mengatakan semuanya itu dibutuhkan untuk mendapatkan keselamatan, dan itu hanya bisa dilaksanakan oleh para imam yang kepadanya diberikan kuasa dan otoritas.

Lalu, pada tahun 325 M, diterbitkanlah kredo-kredo untuk memimpin semua umat Kristiani, yang dikenal dengan Kredo Nicean, yang berawal dari pertemuan Dewan Bishop di Necia–Bithania, dekat kota Konstantinopel itu diprakasai oleh pemimpin Romawi, Kaisar Constantine. Kredo-kredo itu mereka terima secara aklamasi dan berkembang hingga keseluruh wilayah kekuasaan kaisar Roma. Setiap orang “Kristen” yang tidak mau menerima kredo tersebut dicap bida’ah (sesat, menyimpang).

Sangat mengherankan betapa cepat dan jauhnya kelompok yang murtad itu menyimpang dari pola Gereja Perjanjiaan Baru yang benar. Mereka tidak membutuhkan lagi otoritas Kitab Suci untuk mengajarkan dan mengamalkan apa yang mereka mau; pengekangan pun merajalela. Penyimpangan demi penyimpangan dari Kitab Suci bermunculan. Beberapa di antaranya bisa Anda perhatikan dalam daftar berikut ini:

  1. Perbedaan dan jarak di antara para penatua, dibuat.
  2. Doa-doa bagi orang mati, dimulai kira-kira tahun 300 M.
  3. Tanda salib, (dari dahi-ke dada terus ke kiri dan ke kanan) sebelum dan sesudah berdoa dipraktekkan sejak tahun 300 M.
  4. Penyalaan lilin sebagai bagian dari ritual tata-cara ibadah, sekitar tahun 320 M.
  5. Pemujaan malaikat, orang-orang kudus yang telah mati, serta penggunaan patung-patungnya, dimulai sekitar tahun 375 M.
  6. Misa ditambahkan sebagai perayaan sehari-hari, tahun 394 M.
  7. Pengagungan dan Pemujaan terhadap Maria dimulai, dengan gelar “Bunda Allah” dikenakan kepadanya, oleh Dewa Efesus pada tahun 431 M.
  8. Para imam mulai mengenakan pakaian yang berbeda (jubah) dari orang awam, tahun 500 M.
  9. “Pengurapan minyak suci” (untuk orang yang sedang sekarat), diperkenalkan sekitar tahun 526 M.
  10. Doktrin Purgatori (Api Penyucian), ditetapkan oleh Gregory I tahun 593 M.
  11. Pemakaian Bahasa Latin dalam doa dan ibadah ditetapkan oleh Gregory I, tahun 600 M.
  12. Doa ditujukan langsung kepada Maria, orang-orang suci yang telah mati, dan malaikat-malaikat, diperkenalkan sekitar tahun 600 M.
  13. Gelar “Paus” atau Bishop Universal diberikan kepada Baniface III oleh kaisar Pochas tahun 607 M.
  14. Instrumental musik ditambahkan ke dalam ibadah oleh paus Vitalia pada tahun 657 M, tapi karena banyaknya kemarahan dan penolakan, alat musik itu disingkirkan; namun beberapa tahun kemudiaan ditambahkan lagi.
  15. Mencium kaki paus dimulai ketika Paus Constatine bertakhta tahun 709 M.
  16. Kuasa para paus atas dunia, diberikan oleh Pepin, raja Franks, tahun 750 M.
  17. Penyembahan terhadap salib, patung-patung dan benda-benda keramat, diresmikan tahun 786 M.
  18. Air suci, yang dicampur dengan sejumput garam dan diberkati oleh imam, mulai dipraktekkan tahun 850 M.
  19. Pemujaan Santo Yosef, diperkenalkan tahun 890 M.
  20. Lembaga para kardinal, didirikan tahun 927 M.
  21. Baptisan lonceng, ditetapkan oleh Paus Yohanes XIII tahun 965 M.
  22. Kanonisasi orang-orang suci yang meninggal pertama kali dipraktekkan oleh Paus Yohanes XV tahun 995 M.
  23. Puasa setiap hari Jumat selama bulan puasa Saum, dimulai sekitar tahun 998 M.
  24. Menghadiri Misa, menjadi suatu korban persembahan, ditetapkan menjadi sebuah kewajiban pada abad XI.
  25. Selibasi (Pembujangan) para imam dan kardinal, dideklarasikan oleh Paus Gregory VII (Hildebrand) tahun 1079.
  26. Rosario, yang berisi butiran-butiran tasbih dipakai ketika berdoa, diciptakan tahun 1190.
  27. Penjualan surat pengampunan dosa dimulai sekitar tahun 1190.
  28. Transubstantiasi (dalam perjamuan, roti dan anggur saat dimakan dan diminum berubah menjadi tubuh dan darah Yesus yang sesungguhnya) diumumkan oleh Paus Innocent III tahun 1215.
  29. Pengakuan dosa kepada imam (bukan kepada Allah) juga ditetapkan oleh Paus Innocent III di hadapan Dewan Lateran tahun 1215.
  30. Pemujaan roti wafer (roti tipis yang dipakai saat ritual misa) didekritkan oleh Paus Honorius III tahun 1220.
  31. Alkitab terlarang bagi kaum awam dan ditempatkan dalam Indeks Kitab-kitab Terlarang oleh Dewan Valencia tahun 1229.
  32. Scapular, kain berbentuk syal yang dikenakan di atas bahu para biarawan, ditetapkan oleh Simon Stock, seorang biarawan Inggris, tahun 1251.
  33. Cawan Perjamuan terlarang bagi umat biasa, oleh Dewan Constance, tahun 1414.
  34. Purgatori (Api Penyucian) dinyatakan sebagai dogma oleh dewan Florence, tahun 1439.
  35. Doktrin Tujuh Sakramen, disahkan tahun 1439.
  36. Golongan para imam Jesuit, didirikan oleh Loyola tahun 1534.
  37. Tradisi dinyatakan setara otoritasnya dengan Alkitab, oleh Dewan Trent tahun 1545.
  38. Kitab-kitab Apokripa ditambahkan ke dalam Alkitab, oleh Dewan Trent tahun 1446.
  39. Kredo Paus Pius IV ditetapkan sebagai kredo resmi dan sah tahun 1560.
  40. Silabus atau Ikhtisar kesalahan-kesalahan diproklamirkan oleh Paus Pius IX dan disahkan oleh Dewan Vatican – mengecam kebebasan beragama, suara hati, pidato, surat kabar dan penemuaan-penemuan ilmiah yang tidak disetujui oleh gereja Roma (Katolik). Dokumen yang sama, yang diterima tahun 1864, menegaskan otoritas yang dimiliki paus di dunia atas seluruh pemimpin sipil.
  41. Keadaan paus tak dapat berbuat kesalahan dalam hal iman dan moral diumumkan oleh Dewan Vatikan tahun 1870.
  42. Sekolah umum dikecam oleh Paus Pius XI tahun 1930.
  43. Doktrin kenaikan Maria (tubuhnya terangkat langsung ke surga setelah mati) diajarkan oleh Paus Pius XII tahun 1950.
  44. Maria dinyatakan sebagai ibu gereja oleh paus Paulus VI, tahun 1965.

Doktrin-doktrin dan tata-cara ibadah pada daftar di atas benar-benar menyimpang jauh dari pengajaran Gereja-Perjanjian Baru yang didirikan Yesus tahun 33 M. Penyimpangan-penyimpangan tersebut diperkenalkan oleh gereja Roma, nyata sekali bertolak belakang dengan Kitab Suci.

Itu adalah institusi buatan manusia yang tidak mengamalkan kebenaran. Fakta ini bukannya tak diperhatikan oleh orang. Di bawah permukaan gereja yang kuasanya atas kehidupan dan pikiran orang-orang nampak absolut dan tak dapat diganggu-gugat itu terdapat pemberontakan bawah-tanah dan ketidaksepakatan. Kadangkala suara-suara pemberani akan menemukan caranya untuk menerobos ke atas dan berkata dengan tegas menentang penyimpangan-penyimpangan tersebut.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
© Copyright, Truth For Today, 2002.
http://www.biblecourses.com
Dialih-bahasakan oleh Marolop Simatupang
(dengan penyesuaian tata bahasa seperlunya)

Mengapa Perempuan Tak Diizinkan Memimpin Kebaktian Umum

Oleh : Clem Thurman

Yesus Kristus tentunya tidak berprasangka buruk terhadap kaum perempuan, tidak juga menganggap remeh kemampuan mereka. Demikian juga para rasul yang dipimpin oleh Roh Kudus yang Ia utus untuk memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Kitab Suci sangat menghargai kaum Hawa dan menempatkan mereka pada posisi terhormat

Yesus berdoa kepada Allah Bapa, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” (Yoh. 17:17). .

Firman Allah menyatakan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh mereka yang akan melayani sebagai “penatua-penatua ... diaken-diaken dan ... gembala-gembala.” (Ef. 4:11;1 Pet. 5:1-3; 1 Tim. 3:1-7; Tit. 1:5-11). Salah satu syarat-nya adalah “suami dari satu isteri.” (1 Tim. 3:2; Tit. 1:6). Itu yang dikatakan Firman Tuhan. Apakah kita akan mengabaikan hal itu?

Menempatkan atau mengangkat seseorang yang tidak memenuhi syarat dalam sebuah tugas atau pekerjaan bukanlah suatu sikap menunjukkan hormat. Saya tidak pernah ditunjuk menjadi Sekretaris Negara atau duduk di kursi Makamah Agung. Saya juga tidak pernah diangkat menjadi kepala dokter bedah di sebuah rumah sakit ternama. Namun itu bukan berarti saya tidak dihargai sama sekali, tapi karena saya tidak memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Itu juga tidak lantas membuat saya inferior dibandingkan dengan mereka yang memenuhi syarat pada pekerjaan tersebut. Itu hanya mengindikasikan bahwa kita melayani sesama di bidang yang berbeda. Akankah kondisinya lebih baik bila standar-standarnya direndahkan supaya penginjil seperti saya bisa mengoperasi pasien yang dalam kondisi sekarat? Itu bukan hanya suatu penghinaan bagi profesi kedokteran sebab saya tidak memenuhi syarat melakukan pekerjaan seperti itu.

Demikian juga, mencoba meninggikan seseorang dengan merubah peraturan yang telah ditetapkan oleh Allah merupakan suatu sikap tidak hormat pada gereja dan Tuhan yang telah membuat peraturan tersebut, yang mendirikan dan memerintah gereja melalui Firman-Nya. Dan salah satu peraturan yang disebutkan dalam Kitab Suci adalah bahwa perempuan tidak diizinkan memimpin dalam ibadah atau kebaktian umum.

Akan tetapi perlu diperhatikan meski dilarang oleh Kitab Suci, kaum perempuan bukanlah “anggota kelas dua” dalam Gereja yang didirikan oleh Yesus. Rasul yang diilhami itu dengan jelas menulis, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Gal. 3:28).

Namun setara bukan berarti semua punya tugas dan pekerjaan yang sama. “Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota … Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya … Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh … Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat.” (1 Kor. 12:14, 18, 20, 29).

Tidak semua anggota jemaat memenuhi syarat pada semua kategori pekerjaan-pekerjaan gereja, namun hal itu tidak lantas membuat mereka menjadi “anggota kelas dua.” Masing-masing adalah anggota dalam tubuh seperti yang ditetapkan oleh Yesus.

Ada tugas dan pekerjaan yang harus dikerjakan dan masing-masing telah diberkati dengan karunia-karunia yang berbeda-beda agar tugas itu dapat dilaksanakan. Dalam hal ini, karena tiap-tiap anggota memiliki karunia-karunia yang berbeda, apakah itu berarti Allah memandang rupa?

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Allah telah memberikan Yesus Kristus kepada Jemaat “... sebagai Kepala dari segala yang ada, Jemaat yang adalah tubuh-Nya…” (Ef. 1:22-23) Atas dasar itu, Yesus berfirman, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Mat. 28:18)

Yesus yang sama juga berfirman, “Aku akan mendirikan JemaatKu.” (Mat. 16:18). Ia mendirikan gereja-Nya, lalu mengajarkan segala rencana-Nya dan peraturan dalam Firman-Nya. Ia menetapkan bagaimana peraturan-peraturan itu diajarkan dan juga tentang pemerintahan dalam gereja-Nya. Tuhan tidak pernah bertanya kapada manusia apa yang disukai oleh manusia itu, demikian pun hingga saat ini.

Ia memerintahkan manusia, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mark. 16:15). Dalam surat kiriman Paulus, Tuhan berfirman, “Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.” (1 Kor. 14 :34). Itulah keinginan dan pengajaran Allah yang terdapat dalam Firman-Nya yang telah Ia ilhamkan.

Setelah Paulus, di jemaat-jemaat lokal, mengajarkan bahwa setiap orang dapat berdoa (dan mengajar) kemudian ia menulis, “Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.” (1 Tim. 2:11-12). Perhatikan kembali, itulah yang difirmankan Allah, itu bukan kata-kata manusia. Sebab apa yag ditulis Paulus bukan doktrin atau pengajaran manusia, tetapi “memang sungguh-sungguh demikian--sebagai firman Allah” (1 Tes. 2:13).

Frasa “memerintah atas laki-laki” mengandung arti berkuasa atas laki-laki, dan ketika perempuan mengambil alih kepemimpinan baik untuk mengajar (berkhotbah) atau pun menjadi pemimpin dalam pertemuan-pertemuan umum jemaat maka itu sudah menabrak batasan-batasan yang ditetapkan Kitab Suci.

Mengapa kaum perempuan tunduk di bawah kepemimpinan kaum Adam karena Kitab Suci menegaskan bahwa “Karena suami (laki-laki) adalah kepala istri (perempuan) sama seperti Kristus adalah Kepala jemaat...” (Ef. 5:23). *Note: Kata laki-laki dan perempuan dalam kurung hanya tambahan penulis dalam artikel ini).

Perlu digarisbawahi kaum perempuan diperintahkan untuk tidak berkhotbah atau mengambil alih kepimpinan dari laki-laki dalam pelayanan umum (ibadah) bukanlah suatu sikap radikal yang didukung oleh “gereja saya” (jika saya pemilik gereja!) tetapi itulah yang Tuhan kehendaki yang dituliskan rasul-Nya dalam Firman-Nya. Apakah kamu mau berdebat dengan Tuhan?

Gereja tidak pernah melarang perempuan berdoa dalam ibadah. Seluruh jemaat harus berdoa ketika seseorang memimpin mereka dalam doa. Namun, seperti yang dinyatakan ayat di atas, perempuan tidak diizinkan untuk memimpin da-lam ibadah umum.

Kaum perempuan masih tetap bisa berkarya dalam gereja-Nya, mengajar kaum perempuan dan sekolah minggu serta melakukan penginjilan. Ada contohnya dalam (Kis. 18:24-26). Priskila dan Akwila, ketika melihat Apolos mengajar namun apa yang diajarkannya itu tidak tepat, “mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah.” Apolos me-ngajar di depan umum, dalam perkumpulan. Namun Priskila tidak mengajar-nya di depan umum itu, ia menunggu sampai Apolos selesai mengajar, lalu kemudian bersama suaminya mengajar Apolos secara pribadi.

Rasul Paulus menyebutkan nama dua orang perempuan, Euodika dan Sinthike, dan menasihatkan, “Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens …” (Filp. 4:3).

Kedua pelayan yang saleh itu bukanlah “anggota kelas dua” dalam gereja-Nya. Kalau perempuan boleh memimpin dalam ibadah umum, maka Tuhan tentu tidak akan melarangnya. Namun dalam ayat-ayat kitab suci Tuhan maupun Rasul-Nya tidak pernah menempatkan perempuan untuk memimpin dalam ibadah umum gereja Perjanjian Baru. Kitab Suci dengan jelas berkata “tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengajarkan memerintah laki-laki.” (© GOSPEL MINUTES, Vol. 41, No. 6, FEB. 7, 1992).
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dialih-bahasakan oleh Marolop Simatupang
(dengan penyesuaian tata bahasa seperlunya)

Apakah Manusia Itu?


Raja Daud pernah bertanya, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm. 8:5)

Dalam beberapa hal, secara umum, manusia memiliki kesamaan dengan hewan. Menghirup udara yang sama, makan makanan yang jenisnya hampir sama, dan memiliki kebutuhan yang persis sama. Namun, manusia berbeda dengan hewan.

Karena kita berbeda dengan hewan, maka kita perlu tahu mengapa kita ada di dunia ini? Apa tujuannya kita hidup di muka bumi ini? Karena kita berbeda dari hewan, maka kita perlu tahu ke mana kita akan pergi setelah kita mati? Kita tahu bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Masih ada kehidupan yang abadi setelah ini.

Ayub pernah berkata, ”Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan.” (Ayub 14:1-2)

Apakah kita sama seperti hewan bila kita mati? Bagaimana kita dapat menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan di atas?

Pembaca yang dikasihi Tuhan, Allah telah menyediakan jawabannya untuk kita di dalam Alkitab. Allah telah mengatakan siapakah kita, mengapa kita ada di dunia ini dan ke mana kita akan pergi setelah hidup ini.

Apakah Manusia itu?
Apa yang membuat manusia itu berbeda dengan hewan? Rasul Paulus memberi jawabannya, ”Semoga Allah damai sejahtera me-nguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Tes. 5:23)

Manusia memiliki tubuh jasmani dan rohani, sementara hewan hanya jasmani. Tubuh jasmani kita akan mati, membusuk dan kembali ke tanah (Kej. 3:9; 35:18) Namun tubuh roh kita akan kembali kepada Dia yang mengaruniakannya.

“Dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang menga-runiakannya” (Pengk. 12:7)

Mengapa Kita Ada di Dunia Ini?
Hidup di bumi ini singkat. Kematian akan menjemput setiap orang. Sebab itu, tidaklah bijak bila kita hidup hanya untuk memuaskan keinginan tubuh kita. Tidaklah bijak juga apabila kita hanya memikirkan dan mementingkan kepentingan sendiri, tidak peduli pada lingkungan dan sesama.

Rasul Yohanes mengingatkan, ”Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di da-lamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab se-mua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan da-ging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. (1 Yoh. 2:15-17)

Yesus berfirman,”Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Mat. 16:26)

Tujuan kita hidup di muka bumi ini adalah untuk memuliakan Allah dan melakukan apa yang Ia kehendaki, sesuai dengan yang tertulis dalam Alkitab.

“Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perin-tah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban se-tiap orang.” (Pengk. 12:13)

Ke mana Kita akan Pergi?
Ke mana roh kita pergi setelah kita mati? Apa yang akan kita hadapi setelah kita meninggalkan dunia yang penuh dengan kejahatan ini?

Setelah kehidupan ini usai, kita , setiap orang, akan menghadap takhta penghakiman Allah. Penulis Kitab Ibrani menegaskan, “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu di-hakimi.” (Ibr. 9:27)

Rasul Paulus mengingatkan kita, “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” (Rom. 14:12) Dan “...kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dila-kukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” (2 Kor. 5:10)

Setelah penghakiman, ada dua tempat yang disediakan sebagai upah bagi kita yaitu Surga atau Neraka. Kehidupan sekarang inilah yang menentukan di mana jiwa manusia itu kelak. Surga, tempat yang penuh dengan sukacita, hidup bersama Anak Allah, suatu tempat bagi orang yang percaya dan taat kepada Allah. (Yoh. 14:1-3; Pilp. 3:20; Why. 21:3-5) Neraka, adalah tempat penghukuman, penuh dengan ratap tangis, penderitaan selamanya bagi mereka yang menolak percaya dan tidak taat kepada-Nya. (Mat. 10:28; 25:41,46; 2 Tes. 1:7-10)

Saya Harus Memilih ...
Allah sangat mengasihi kita. Ia ingin kita selamat. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan ber-oleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)

Namun, Ia tidak memaksa seorang pun. Ia mengundang dan menghendaki kita selamat. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepada-mu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Mat. 11:28-29)

Keselamatan hanya ada dalam nama Yesus. (Yoh. 14:6; Kis. 4:12) Apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan keselamatan itu? Apa yang harus kita lakukan untuk menjawab undangan Yesus?

Senin, 16 November 2009

Mendesak, Reformasi di Tubuh Kepolisian dan Kejaksaan

Oleh Marolop Simatupang

Menyusul penahanan oleh kepolisian terhadap dua unsur pimpinan (non-aktif) Komisi Pemberantas [an] Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah (telah ditangguhkan) dan kontroversi seputar rekaman kriminalisasi KPK yang diduga melibatkan oknum petinggi Polri dan beberapa jaksa, berbagai elemen masyarakat, aktivis anti-korupsi, para mahasiswa serta sejumlah organisasi non-pemerintah meminta agar kepolisian dan kejaksaan direformasi segera.

Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), antara lain Imparsial, Indonesia Police Watch, Transparency International Indonesia (TII), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia, dan Elsam, pekan lalu, menyampaikan permintaan tersebut kepada pemerintah melalui Tim Independen Verifikasi dan Proses Hukum Pimpinan (non-aktif) KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengambil tindakan tegas untuk menyelesaikan kasus yang melibatkan kepolisian dan kejaksaan serta melakukan reformasi menyeluruh di lembaga penegak hukum tersebut.

Permintaan sejumlah LSM tersebut tepat mewakili harapan masyarakat luas saat ini. Publik mengharapkan pemerintah, dalam hal ini Presiden SBY segera mengambil langkah-langkah signifikan terhadap penyelesaian kasus yang menyedot perhatian umum tersebut. Disamping itu, kasus yang melibatkan institusi yang kedudukannya berada di bawah Presiden ini harus menjadi momentum yang baik untuk melakukan reformasi di kedua institusi hamba wet tersebut. Sebab bukan kali ini saja lembaga penegak hukum, seperti kejaksaan, disibukkan oleh ulah tak elok oknumnya sendiri.

Masih segar diingatan publik bagaimana tertangkap-tangannya Urip Tri Gunawan, jaksa yang menangani kasus BLBI, beserta beberapa jaksa senior lainnya dalam kasus suap oleh Artalyta Suryani. Lalu ada jaksa yang terlibat kasus penyalahgunaan barang bukti narkoba. Dan yang terkini, kasus kriminalisasi dua unsur pimpinan non-aktif KPK yang diduga melibatkan beberapa jaksa senior di kejaksaan dan petinggi Polri.

Setali tiga uang dengan kepolisian. Tidak asing lagi membaca dan mendengar warta di media massa cetak dan elektronik betapa seringnya oknum kepolisian terlibat tindak kriminal, melakukan tindakan represif terhadap masyarakat-sipil, serta menginterogasi orang, yang diduga melakukan kejahatan, dengan kekerasan.

Bukan bermaksud menghakimi dan mengkriminalisasi lembaga penegak hukum ini serta menyimpulkan institusi tersebut sudah bobrok hanya karena “nila setitik” dan ulah negatif beberapa oknumnya. Namun, menelisik dan melihat apa yang telah dan sedang terjadi di sekitar lembaga hukum tersebut dari kacamata masyarakat umum, bahwa reformasi di tubuh kepolisian dan kejaksaan saat ini sangat mendesak, harus segera dilakukan. Bukan hanya di luarnya saja, apalagi sebatas wacana, tapi menyeluruh pada tingkat struktural, manajemen, jajaran personel serta pada tingkat kultur. Tidak cukup hanya reposisi atau mengganti pucuk pimpinan. Tapi juga harus menjatuhkan sanksi tegas kepada oknum yang menciderai hukum dan rasa keadilan.

Berbagai kalangan menilai, kondisi organisasi di tubuh kepolisian, terutama dalam konteks sifat dan perilaku masih bersifat militeristik, dan cenderung arogan. Sementara lembaga kejaksaan, alih-alih menjadi garda peradilan dan tempat masyarakat mencari keadilan, justru menjadi tempat terjadinya makelar kasus dan para mafia peradilan leluasa bergerak mempermainkan hukum.

Kini bukan rahasia lagi di khalayak umum bahwa betapa sulitnya mencari keadilan di negeri ini tanpa uang dan kongkalikong dengan orang berkuasa, dengan oknum penegak hukum. Pasal-pasal hukum kadang hanya berlaku kepada orang tak berpunya. Namun bagi orang berada dan punya “hubungan dekat” dengan “orang dalam” penegak hukum pasal-pasal tersebut dibuat ompong.

Reformasi total di tubuh kepolisian dan institusi kejaksaan serta tindakan tegas terhadap oknum-oknum yang melanggar hukum dan menyalahgunakan wewenang tidak boleh tidak harus segera dilakukan. Jika tidak, dikhawatirkan akan memunculkan ketidak-percayaan masyarakat (public distrust) pada fungsi lembaga negara dan institusi penegak hukum, dalam hal ini kepolisian dan kejaksaan yang sama-sama berwenang menegakkan hukum.

Saat ini, kepercayaan publik terhadap lembaga penegak hukum seperti kejaksaan, terutama kepolisian, tipis. Hampir semua masyarakat pernah merasakan betapa jika berhadapan dengan aparat kepolisian pasti ujungnya duit. Bila kondisi ini tidak segera dipulihkan, dan diperbaiki, dikhawatirkan nanti semua elemen masyarakat kompak menjadikan lembaga kepolisian dan kejaksaan musuh bersama. Bila itu sampai terjadi, gawatlah kesehatan demokrasi di negeri tercinta ini.
====================================================================
Telah dimuat di situs KabarIndonesia,
dan Majalah Forum Keadilan Edisi November 2009

Jumat, 30 Oktober 2009

Setelah Gempa di Padang, Selanjutnya di Mana?*

Oleh Marolop Simatupang

Gempa bumi yang menguncang kota Padang dan beberapa wilayah Sumatera Barat, Rabu (30/9) pukul 17.16 WIB sangat mengejutkan. Gempa berskala 7,6 skala Richter itu meluluhlantakkan kota Padang dan sekitarnya. Gempa tektonis di Bumi Andalas yang getarannya terasa nyaris sampai jarak 500 kilometer hingga Singapura dan Malaysia itu menelan ratusan korban jiwa dan ribuan korban luka-luka.

Setelah Padang, gempa juga mengguncang Kota Jambi. Gempa yang tercatat dengan skala 7,0 SR itu menghancurkan ratusan bangunan. Gempa yang tergolong gempa kuat itu menelan banyak korban. Empat minggu sebelumnya Tasikmalaya, Jawa Barat, juga diguncang gempa besar yang getarannya sampai ke Jakarta.

Keingintahuan pun menyeruak. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Setelah di Sumatera Barat dan Jambi, selanjutnya di mana? Akan adakah gempa susulan yang lebih besar?

Memang tak ada yang bisa menetapkan secara presisi kapan dan di mana akan terjadi gempa. Hingga saat ini para ahli hanya dapat memperhitungkan kemungkinan akan terjadinya gempa, baik vulkanik maupun tektonis di suatu kawasan.

Kepulauan Nusantara, yang terlatak di cincin api (ring fire) memang tergolong rawan gempa bumi, khususnya pesisir bagian barat Pulau Sumatera. Palung (tanah yang berlekuk dalam dan berisi air) Sumatera kawasan barat yang merupakan zona penunjaman Lempeng Eurasia ke Lempeng Indo-Australia mengakibatkan Pulau Sumatera rawan diguncang gempa tektonis besar.

Beberapa ahli gempa sebenarnya telah memprediksi akan terjadi gempa di kawasan barat Pulau Sumatera. Prakiraan tersebut dibuat terutama setelah terjadi gempa bumi berskala 9,3 skala Richter yang mengakibatkan tsunami dahsyat di Aceh pada penghujung tahun 2004.

Dari pengamatan sejak tahun 2004 pasca-tsunami Aceh, terjadi beberapa gempa bumi yang cukup besar, seperti di Nias tahun 2005 bersakla 8,2 SR; di Padang pada tahun yang sama tercata 7,4 SR; di Bengkulu tahun 2007 tercatat 7,9 SR, lalu Padang dan Jambi tahun 2007 berskala 7,7 SR; di Bengkulu pada bulan Oktober 2007 berskala 7,0 SR; di Nanggroe Aceh Darussalam bulan Februari 2008 berskala 7,3 SR; Bengkulu dan Kepulauan Mentawai pada bulan Februari 2008 berskala 7,2 SR dan yang terkini di kota Padang dan Jambi.

Yusuf Surachman, Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Mineral Badan Pengkajian danPenerapan teknologi (BPPT) mengatakan, energi di Padang memang sudah matang. Dan diperkirakan masih ada energi yang tersimpan. Pelepasan energi yang tidak sekaligus membuat gempa bumi tidak terlalu hebat namun dampaknya cukup mengerikan dan energi yang tersimpan dengan sendirinya akan berkurang.

Kalangan ahli gempa memerkirakan gempa di Sumatera Barat dan Jambi belum usai. Lempeng samudera dan lempeng benua akan terus bergerak melepaskan energi hingga mencapai posisi letak yang pas. Pergerakan inilah yang potensial akan menimbulkan gempa tektonis di sepanjang pesisir barat Pulau Sumatera.

Sri Widiayantoro, seorang guru besar dan ahli gempa dari ITB, seperti dikutip di sebuah media nasional mengatakan apakah pelepasan energi itu akan sering-sering tapi tidak terlalau besar atau akan dikeluarkan sekaligus besar tidak ada yang tahu. Para ahli gempa bumi tidak dapat memerkirakan kapan lagi terjadi pelepasan energi dan penunjaman lempeng samudra ke lempeng benua yang mengakibatkan gempa bumi tektonis.

Zona subduksi di kawasan Pulau Sumatera bagian barat yang panjangnya kurang lebih 1.200 kilometer membentang dari Aceh, Sumatera Utara, terus ke Padang, Bengkulu, Lampung bagian barat sampai ke Selat Sunda belum pecah semuanya. Artinya (mungkin) masih akan ada lagi gempa susulan di kawasan bagian barat Sumatera. Namun kapan, tak seorang pun tahu.

Inilah yang membuat masyarakat yang tinggal di pesisir Sumatera bagian barat dihantui kekwatiran dan harus terus waspada. Gempa yang mengguncang kota Padang dan Jambi bisa memicu gempa susulan di pesisir barat Pulau Sumatera, bahkan potensi skalanya bisa lebih besar. Artinya tidak tertutup kemungkinan gempa susulan mengguncang wilayah Kepulauan Mentawai hingga Lampung.

Hingga saat ini belum ada satu pun alat yang secara presisi dapat meramalkan kejadian gempa di bumi ini. Namun langkah antisipatif dapat dilakukan. Penataan ruang di wilayah rawan gempa harus segera diambil untuk menekan jumlah korban.

Masyarakat juga harus tahu mereka berada di wilayah yang tidak aman gempa sehingga mengerti konstruksi bangunan seperti apa yang layak digunakan dan apa yang harus mereka lakukan saat gempa terjadi. Pemerintah dan instansi terkait harus mengajarkan kepada masyarakat tentang cara-cara penyelamatan diri, ke mana harus pergi ketika bencana terjadi.
====================================================================
Telah dimuat di Majalah FORUM Keadilan
No. 24/12-18 Oktober 2009

Mencari Dia yang Telah Lahir

Oleh Marolop Simatupang

Popularitas, kekayaan, kebahagiaan semu! Kira-kira itulah yang dicari orang saat ini. Mencari Tuhan tidak lagi menjadi proritas utama kebanyakan orang sekarang. Mestinya manusia harus mencari Juruselamat. Di Atena, rasul Paulus berkata kepada orang banyak, “... Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang supaya mereka mencari Dia ... Ia tidak jauh dari masing-masing. (Kis. 17:25-27).

Raja Daud berdoa, “Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepadaMu ...” (Mzm. 63:1). Musa mendorong bangsa Israel agar “... mencari Tuhan, Allahmu,” serta meyakinkan mereka bahwa mereka akan “menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu.” (Ulg. 4:29).

Dalam kitab Matius 2:1-13, kita melihat beberapa orang mencari Dia yang baru lahir. Ki-sah ini sangat terkenal. Dari negeri nun jauh di Timur mereka berlelah datang ke Yerusa-lem agar bisa melihat Mesias yang baru lahir di palungan kandang domba itu. Pesan apa yang bisa kita pelajari dari pencarian mereka?

Mereka mencari Juruselamat
Siapa mereka? Kitab Suci menyebut orang-orang majus, yang pada saat itu berarti orang yang cerdik pandai dan mampu “melihat” sesuatu yang akan terjadi. Sekarang disebut orang bijak. Mereka berasal dari Timur, tapi kita tidak tahu tepatnya di mana. Beberapa sejarawan dan sarjana Kristen mengatakan mereka berasal dari jazirah Arab, yang lain berpendapat dari Persia, Babilon, Mesopotamia atau dari daerah timur lainnya. Memang tidak bisa pastikan, tepatnya, dari negara mana. Namun satu hal yang pasti bahwa mereka adalah non-Yahudi sebab mereka tidak berkata, “Raja kami,” tapi “Raja orang Yahudi.”

Meski informasi latar belakang orang-orang majus ini minim namun satu pelajaran positif dari mereka ialah bahwa mereka adalah para pencari Juruselamat yang tekun. Hikmat sejati mereka bukan terletak pada pengetahuan umum atau sekuler mereka, tapi dalam usaha mencari Dia yang baru lahir itu. Itulah hikmat sejati. Apakah Anda berpendidikan tinggi atau tidak, entahkah Anda kolongmerat atau bukan, namun jika Anda bersungguh-sungguh mencari Dia yang adalah “Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan,“ (Why. 19-16), maka Anda adalah orang berhikmat, orang bijak.

Misi mereka ke Yerusalem bukan untuk berdagang, bukan juga untuk berwisata ke Laut Mediterania atau pelesiran ke Laut Mati yang kesohor itu, tapi untuk melihat Imanuel yang telah lahir itu. Setibanya di Yerusalem mereka bertanya,”Dimanakah Dia, Raja orang Yahudi itu?” Mereka tentu harus mengorbankan waktu, tenaga dan materi yang ti-dak sedikit agar bisa berjumpa dengan-Nya. Sebuah usaha yang layak diapresiasi.

Adakah komitmen dalam diri kita untuk mengorbankan waktu, tenaga dan materi demi Yesus? Allah telah mengarunikan kepada kita segala berkat rohani di dalam Kristus. (Ef. 1:3). Allah mendorong agar setiap orang mencari Juruselamat, dan Ia akan “memberi upah kepada orang yang sungguh mencari Dia.” (Ibr 11: 6).

Ingat juga bahwa dalam mencari Dia, jangan mengandalkan hikmat sendiri sebagaimana orang majus itu mengikuti petunjuk bintang-Nya yang mereka lihat di Timur. Jika kita ingin bertemu dan mendapatkan keselamatan dari Juruselamat, maka kita harus mengi-kuti petunjuk-Nya. Nabi Yeremia mengatakan, “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.” (Yer. 10:23).

Kita wajib mengikuti petunjuk, bimbingan dan arahan-Nya agar mendapatkan Dia, seper-ti orang-orang majus bertemu dengan Dia yang baru lahir itu.

Mereka bertemu dengan Dia
Bertahun-tahun sebelum Kristus lahir, Daud berkata kepada Salomo, anaknya, ”Jika eng-kau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu ...” (1 Taw 28 : 9). Orang-orang ma-jus itu mencari Juruselamat dengan sikap dan di jalan yang benar, dan dengan pertolong-an Allah, mereka bertemu dan “melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya.” Kita bisa bayangkan betapa sukacitanya mereka saat melihat Dia yang mereka cari.

Pada zaman dahulu, orang Yunani, ketika menemukan apa yang mereka cari, mereka me-nunjukkan ekpresi sukacita dengan berkata “Eureka,” artinya “Saya menemukanya.” Kita tidak tahu apa yang mereka ucapkan pada saat melihat Dia, apakah mereka berteriak sukacita, atau meneteskan air mata bahagia. Tentunya mereka sangat bersukacita.

Jika mencari Tuhan dan keselamatan di jalan dan dengan sikap yang benar niscaya Allah pasti akan menolong kita. Dengan usaha yang sungguh-sungguh dan tekun di jalan-Nya, orang-orang yang mencari Dia akan menemukan-Nya dan dengan ekspresi sukacita bisa, seperti Filipus, mengatakan, ”Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dan kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” (Yoh. 1-45).

Seperti orang-orang majus itu, kita juga bisa berbahagia dengan sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan. (1 Pet. 1: 8).

Mereka sujud menyembah Dia
Setelah orang-orang majus itu melihat Dia bersama ibu-Nya, sujudlah mereka untuk me-nyembah Dia. Sikap yang layak untuk dicontoh! Mereka mencari Putra tunggal Bapa itu bukan untuk sensasi dan kesombongan, “Hey! Lihat, kami hebat! Kami telah melihat-Nya.” –tapi untuk menyembah-Nya. Mereka telah mengatakan komitmen ini sebelumnya. Mereka bertanya, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Mat. 2:2).

Mereka tidak hanya sujud menyembah, tapi juga membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan kepada-Nya: emas, kemenyan, dan mur. Beberapa orang melihat gambaran dan lambang persembahan tersebut seperti ini: emas, persembahan yang diberi-kan kepada raja, benar bahwa Ia adalah Raja di atas segala raja, (Wah 19:16); kemenyan, salah satu dari wangi-wangian dalam persembahan ukupan yang kudus, persembahan yang diberikan kepada imam (Kel. 30:34-38); dan mur, minyak yang dibubuhi di tubuh Yesus, Juruselamat yang telah mati bagi dosa manusia itu sebelum dikuburkan. (Yoh 19 : 36). Bahwa Yesus adalah Raja, Imam dan Juruselamat!

Signifikansi yang sesungguhnya terletak bukan pada apa yang mereka persembahkan tapi pada sikap dan ekspresi hormat yang mereka tunjukkan kepada Raja mereka. Bahwa iba-dah yang sejati dan persembahan tidak dapat dipisahkan. Pada zaman Perjanjian Lama, umat-Nya mempersembahkan korban bakaran, saat ini orang Kristen harus memberikan persembahan yang lebih baik.

Jika Anda tak punya emas, kemenyan atau minyak mur, itu tak masalah. Persembahkan-lah yang terbaik yang Anda punya. Pertama, persembahkan dan berikan diri –komitmen total– Anda kepada-Nya, “Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harap-kan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah ...” (2 Kor 8 : 5).

Tunjukanlah dedikasi sejati Anda kepada-Nya. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemu-rahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Rom. 12:1).

Orang-orang majus mencari Dia, Juruselamat manusia. Mereka mendapatkan-Nya serta mempersembahkan persembahan kepada-Nya. Semoga kita menjadi orang bijak, yang akan mencari dan mendapatkan Dia serta mempersembahkan persembahan terbaik kita kepada Mesias, Sang Penebus yang telah lahir itu.

Serafim dan Kerubium, Apakah Mereka Malaikat?


Apakah Dalam Alkitab Disebutkan Malaikat
Benar-benar Punya Sayap?

Oleh : Clem Thurman
Alih Bahasa : Marolop Simatupang
(dengan penyesuaian tata bahasa seperlunya)

“Serafim (berapi-api, yang terbakar): malaikat atau makhluk surgawi yang kerap diasosiasikan pada penglihatan nabi Yesaya, yang ‘melihat’ Bait Allah saat ia dipanggil untuk melayani dan bernubuat (Yes. 6:1-7). Hanya kitab inilah dalam Alkitab yang berbicara tentang makhluk misterius ini.” (Nelson’s Illustrated Bible Dictionary)

“Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” (Yes. 6:1-3).

Yesaya mengatakan bahwa tiap serafim itu punya 6 sayap. Dan sangat jelas dalam ayat di atas (satu-satunya ayat yang menyebut nama serafim dalam Kitab Suci) dikatakan bahwa makhluk-makhluk itu malaikat. Mereka berada di hadapan takhta Allah, di hadapan-Nya.

“Kerubium (bentuk jamak dari kerub): malaikat bersayap, yang identik dan dihubungkan dengan puji-pujian dan penyembahan kepada Allah. Kitab Kej. 3:24 yang pertama kali menyebut kerubium. Ketika Allah menghalau Adam dan Hawa dari Taman Eden, Ia menempatkan beberapa Kerub di sebelah timur Taman Eden, ‘dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.’ Sesuai dengan para nabi, Kerubium termasuk dalam kategori malaikat-malaikat yang tidak jatuh; perlu diketahui, Lucifer dulunya merupakan salah satu dari malaikat Kerub; (Yeh. 28:14, 16), sebelum ia memberontak terhadap Allah.” (Nelson’s Illustrated Bible Dictionary)

“Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.” (Kej. 3:24).

“Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu. Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya..” (Yehez. 28:14-16).

“Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur.” (Yes. 14:12-15)

Dari catatan di atas jelas bahwa “seraf” dan “kerub” adalah malaikat. Mereka punya sayap. Contoh, reprensestasi Kerubium dibuat di Kemah Suci di padang belantara. Dua Kerub yang terbuat dari emas ditempatkan di kedua ujung Tutup Pendamaian, di atas tabut perjanjian, di dalam tempat yang maha suci. (Kel. 25:17-22; 1 Taw. 28:18; Ibr. 9:5).

Ketika Salamo membangun Bait Suci, dibuatnya dua kerub dari kayu minyak dan dilapisi dengan emas, masing-masing 10 hasta tingginya, dengan kedua sayap panjangnya 10 hasta (1 Raja-raja 6:23-28).

Jadi, serafim dan kerubium merupakan malaikat Allah, bersayap. Pertanyaannya, apakah semua malaikat punya sayap? Wah, kalau itu saya tidak tahu. Namun kedua jenis malaikat yang disebutkan di atas punya sayap. Seperti jenis-jenis malaikat lainnya (jika benar para malaikat itu punya spesifikasi masing-masing), Kitab Suci berkata, “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?” (Ibr. 1:14). Poinnya, malalikat-malaikat Allah adalah pelayan-pelayan-Nya bagi orang Kristen, dan sanggup melakukan apa yang Allah kehendaki untuk mereka lakukan.

Beberapa malaikat punya sayap. Mungkin semuanya bersayap, kita tidak tahu, pastinya. Tergantung “pekerjaan” apa Allah berikan kepada mereka.

Contoh, meski banyak lukisan yang di dalamnya ada lukisan malaikat dengan wajah feminin plus beberapa ciri lainnya, seperti sayap, namun mayoritas malaikat yang disebutkan dalam Alkitab selalu berbentuk dalam rupa maskulin, serta tak ada indikasi punya sayap.

Ketika beberapa perempuan di Minggu pagi subuh datang menengok kubur Yesus, mereka dapati seorang malaikat telah menggulingkan batu penutup kubur itu, serta berkata kepada mereka, “Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit.” (Mat. 28:1-5) Namun kitab Markus 16:1-6, malaikat ini disebut “seorang muda yang memakai jubah putih.” Mungkin rupanya saat itu kelihatan muda. Dengan kata lain, disimpulkan, malaikat-malaikat dapat mengambil rupa dalam berbagai bentuk –rupa– menurut apa yang Allah kehendaki.*)
-------------------------------------------------------------------------------------------------
(Copyright Gospel Minutes Vol. 53, No. 21, May 21, 2004.)