Jumat, 24 Juli 2009

Kedatangan Kristus yang Kedua Kali

(Judul Asli: The Second Coming of Christ)
Oleh : Perry B. Cotham*

Kristus akan datang lagi. Lebih dari tiga ratus ayat dalam Perjanjian Baru yang menyinggung tentang hal itu. Namun sayangnya, banyak doktrin mengenai subjek ini (dan sangat banyak yang kontroversi) yang kurang diperhatikan oleh orang Kristen dengan saksama.

I. Kedatangan-Nya Pasti
Kedatangan Kristus yang kedua kali tak diragukan lagi memang diajarkan dalam Alkitab. Pada saat kenaikan-Nya, malaikat-malaikat berkata kepada rasul-rasul ketika mereka menatap ke langit waktu Ia naik ke sorga, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” (Kis. 1:11). Yesus sendiri berkata bahwa Ia akan datang kembali. (Yoh. 14:2-3). Para rasul menegaskan bahwa Kristus akan datang lagi. (1 Tes. 4:16).

Penulis kitab Ibrani mengatakan bahwa “Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi.” (Ibr. 9:28). Yohanes mengatakan “... kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” (1 Yoh. 3:2).

Dewasa ini, banyak orang, sama seperti pada abad yang mula-mula, meragukan akan kedatangan Tuhan. (2 Pet. 3:3, 4). Meskipun orang-orang skeptis tidak yakin dan para pencemooh mengejek tentang kedatangan-Nya itu, namun kita tetap percaya akan kedatangan-Nya sebab kita lebih percaya pada Alkitab. Bumi dan segala anasirnya akan berakhir. Yesus akan datang lagi. Kedatangan Kristus yang kedua kali akan menjadi akhir sejarah dunia.

II. Kedatangan-Nya Akan Kelihatan
Cara kedatangan-Nya bersifat personal, nampak, dapat didengar, penuh kemuliaan dan tiba-tiba. Ketika Yesus datang “setiap mata akan memandang Dia,” bahkan oleh mereka yang terlibat dalam penyaliban Anak Allah itu, (Why. 1:7).
Kita tidak perlu pergi ke tempat khusus agar dapat melihat-Nya saat Ia datang. Semua bangsa, di manapun berada di muka bumi ini, akan menyaksikan kedatangan-Nya: “...Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi... akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan.” (Mat. 24:27, 30).

Ia akan datang “dengan awan-awan” (Kis. 1:9, 11; Why. 1:7), “di dalam api yang bernyala-nyala,” “bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya,” (2 Tes. 1:7; Mat. 16:27), “dengan beribu-ribu orang kudus-Nya,” (Yudas 14), “pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi.” (1 Tes. 4:16).

III. Waktu Kedatangan-Nya Tidak Diketahui
Tentang waktu kedatangan-Nya, itu tersembunyi dalam rencana Allah, menjadi salah satu dari hal-hal yang tersembunyi bagi Allah (Kel. 29:29). Allah tidak pernah mengungkapkannya kepada manusia.

Mengenai hari dan saatnya itu, Yesus berkata, “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.” (Mark. 13:32). Kedatangan-Nya yang kedua kali itu mungkin saja pada waktu tengah malam, atau pagi-pagi buta; kapan saja Ia bisa datang –bisa saja hari ini.

Kedatangan-Nya tiba-tiba dan tanpa peringatan; Ia akan datang pada saat yang tak diduga-duga dan tanpa pemberitahuan, bahkan seperti “seorang pencuri di malam hari.” (2 Pet. 3:10; 1 Tes. 5:2) Sebab itu, peringatan yang sungguh-sungguh adalah “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Mat. 24:44; Mark. 13:35-37).

A. Orang-orang yang Menetapkan Waktu Kedatangan-Nya, Menyesatkan
Karena tak seorangpun yang tahu tentang waktu kedatangan-Nya, maka sangat tidak masuk akal dan aneh bila manusia coba menetapkan waktu kedatangan-Nya. Namun, itulah yang terjadi, manusia coba menetapkan waktu kedatangan-Nya, dan sampai sekarang hal itu masih berlangsung, Orang-orang yang tulus hatinya diperdaya oleh “mereka yang mencoba menetapkan waktu kedatangan-Nya.”

Contoh, William Miller, pendiri pergerakan Advent, meramalkan Kristus akan datang pada bulan Oktober 18431. Para pengikutnya kemudian menjual harta benda mereka, mempersiapkan diri dengan jubah putih menunggu kedatangan Tuhan dengan riang gembira.

Bulan Oktober 1843 tiba, namun Yesus tidak datang. Meski kecewa, Miller tak mau kalah. Ia berkata kepada pengikutnya ia salah kalkulasi satu tahun dalam prediksinya, dan Tuhan akan datang tahun berikutnya pada bulan yang sama. Bulan Oktober 1844 tiba, namun Kristus belum jua datang.

Kemudian, Charles T. Russell, pendiri kelompok keagamaan Saksi Yehovah menulis tentang kedatangan Yesus yang kedua kali. Ia berkata bahwa Tuhan akan datang pada bulan Oktober 1874, tapi hanya orang-orang tertentu (para pengikutnya) yang tahu akan hal itu –bagi orang lain Ia tidak kelihatan2.

Kontras dengan apa yang tertulis dalam kitab suci, bila Yesus datang kelak, “setiap mata akan melihat Dia.” (Why. 1:7). Kedatangan-Nya bersifat personal dan dapat dilihat, tidak hanya kepada orang-orang benar tapi juga kepada orang fasik.

“Pastor” Russell, sebagaimana ia kerap disapa, membuat banyak prediksi tentang “Zaman Keemasan” yang menilai ada kaitannya dengan kedatangan Kristus yang kedua kali; namun prediksinya dalam hal ini malah membuktikan bahwa ia adalah seorang nabi palsu. (Ulg. 18:22).

Setelah kematian Russell tahun 1916, “Hakim” Rutherford mewarisi “takhtanya” dan ikut-ikutan membuat prediksi. Pada tahun 1920, ia menerbitkan sebuah buku mini berjudul “Jutaan orang yang Hidup Sekarang Tidak Akan Pernah Mati” di mana ia meramalkan tahun 1925 orang-orang saleh yang telah mati akan bangkit dan orang-orang lanjut usia (lansia) yang masih hidup, yang telah menerima Juruselamat akan kembali ke usia muda mereka dan “hidup di muka bumi ini selamanya dan tidak akan pernah mati.3” Ini berarti bahwa orang-orang lansia yang memakai tongkat kayu akan mendapatkan tungkai kaki baru, semua yang memakai gigi palsu akan mendapatkan gigi baru, dan semua kepala yang telah botak akan mendapatkan rambut baru ... tahun 1925!

Ia juga menubuatkan Abraham, Yakub, Ishak dan Daud, bersama-sama dengan tokoh-tokoh saleh Perjanjian Lama lainnya akan hidup di muka bumi ini, dapat dilihat –setelah tahun 1925.

Katanya, tahun 1925 akan menjadi awal “Zaman Keemasan.” Bagi orang yang hidup sebelum tahun 1925 semua itu kedengarannya enak. Namun sang “hakim” itu sendiri meninggal sesudah tahun 1925! Ia adalah salah seorang dari jutaan orang yang hidup ketika tahun 1925 tiba, namun ia mati juga. Ia nabi palsu.

Ada seseorang yang berkata bahwa Kristus akan datang pada tahun 1939. Beberapa orang meramalkan Ia akan datang pada tahun-tahun belakangan ini. Apakah Ia telah datang pada tahun-tahun tersebut? Jadi, orang-orang yang memprediksi waktu kedatangan-Nya itu akan terus-menerus menyesatkan orang-orang yang tidak mengetahui firman Allah.

Kristus belum datang pada tahun-tahun yang ditetapkan itu, maka tentu saja itu menjadi bukti jelas bahwa manusia sama sekali tidak tahu tentang waktu kedatangan-Nya itu, kapan.

Dengan melihat fakta-fakta ini, mengapa beberapa orang masih terus-menerus coba menetapkan waktu kedatangan-Nya? Dan anehnya, mengapa beberapa orang masih percaya bahwa orang-orang yang mengaku-ngaku nabi itu tahu apa yang sedang meraka bicarakan ketika mereka memberitahukan orang-orang suatu waktu akan kedatangan Kristus? Sebegitu mudahnyakah manusia ditipu? Waktu kedatangan-Nya itu tidak pernah dinyatakan kepada seorang pun.

B. Orang-orang Yang Coba Menentukan Waktu Kedatangan-Nya Meskipun Waktunya Tidak Spesifik Disebutkan, Juga Menyesatkan
Beberapa orang tidak menyebutkan suatu hari spesifik tentang kedatangan-Nya, namun menekankan kedatangan-Nya sudah dekat, itu akan terjadi pada “tahun ini,” atau pada “generasi ini.” Walaupun ini tentu mungkin, namun Alkitab tidak mengajarkan seperti itu. Kitab Suci, pada abad pertama, tidak mengajarkan kedatangan Kristus sudah dekat (2 Tes. 2:1-3), dan juga tidak mengajarkan kedatangan Kristus sudah dekat, sekarang.

Barangkali saat ini orang-orang lebih memikirkan tentang akhir dunia ini daripada yang pernah sebelumnya. Sementara beberapa orang telah dipengaruhi oleh tulisan-tulisan dan khotbah tipe sensasional yang lain, mungkin tidak mau ambil pusing, entah itu kepada nabi-nabi palsu, dan entah itu kepada pengajaran Alkitab tentang akhir zaman.

C. Banyak Tanda Dalam Matius 24 yang Disalah-artikan
Orang-orang yang sering berbicara tentang tanda-tanda, kegenapan nubuatan dan kedatangan Kristus yang akan segera terjadi biasanya mengacu kepada bagian pertama kitab Mat. 24 untuk mendapatkan bukti interpretasi mereka mengenai saat akhir zaman. Ini sebuah pasal yang sangat penting dan harus dipelajari dengan saksama. Sekarang, perhatikanlah beberapa hal yang sering diputar-balikkan dari ayat-ayat tersebut.

Sebelum penyaliban-Nya, dan sesudah khotbah terakhir-Nya di muka umum, Ia meninggalkan Bait Allah, beserta dengan murid-murid-Nya, naik ke Bukit Zaitun. Saat mereka meninggalkan Bait Allah itu, murid-murid itu menunjukkan kepada Yesus “bangunan-bangunan Bait Allah.” (ay. 1). Yesus berkata kepada mereka bahwa “tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” (ay. 2).

Kemudian, “Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya... Kata mereka: Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (ay. 3). Yesus menjawab dengan menubuatkan tentang kehancuran Bait Allah dan kedatangan-Nya yang kedua kali.

Perhatikanlah dengan cermat bahwa Kristus menjawab dua pertanyaan, yakni: (1) “Bilamanakah itu akan terjadi?” (mengenai kehancuran Yerusalem dan Bait Allah yang baru saja Ia nubuatkan) dan (2) “Apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (murid-murid itu mengira bahwa semua peristiwa itu akan terjadi simultan, tapi mereka salah). Yesus menjawab pertanyaan mereka dalam jawaban yang sama saat mereka bertanya.

Kehancuran Yerusalem terjadi pada tahun 70 M di bawah pimpinan Titus, kaisar Romawi, 40 tahun setelah Yesus menubuatkannya. Saat ini sebuah masjid berdiri di tempat di mana Bait Allah itu berada sebelumnya. Nubuatan Kristus di Bukit Zaitun secara literal digenapi –tak satu batupun dibiarkan terletak di atas bangunan Bait Allah itu. Sesuai dengan catatan sejarah, tak satu orang Kristen pun yang yang menjadi korban dalam bencana yang mengerikan itu.

Harus diperhatikan, Yesus berkata (dalam ay. 34) bahwa semua peristiwa yang disebutkan itu akan digenapi pada masa generasi itu masih hidup. Setiap tanda-tanda yang disebutkan dalam Matius 24, kecuali hal-hal yang menyangkut saat kedatangan-Nya yang kedua kali, telah digenapi; generasi itu tidak berlalu “sebelum semuanya ini terjadi.”

Namun sayangnya, saat ini, beberapa pengajaran dari Matius 24:4-28 yang dinyatakan oleh Yesus mengenai kehancuran Yerusalem dan akhir keberadaan bangsa Yahudi dipakai dan disalah-artikan kepada kedatangan-Nya yang kedua kali dan pada akhir zaman. (Bandingkan dengan Ulg. 28:48-58).

Kitab Mat. 24 harus selalu ditelaah paralel dengan catatan dalam kitab Mark. 13 dan Luk. 21:5-28. Kitab Luk. 21:20 memuat susunan kata yang sangat jelas mengenai statemen dari kitab Mat. 24:15 tentang penaklukan Yerusalem oleh pasukan Romawi. “Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat.” (Luk. 21:20). [Bandingkan dengan Dan. 9:24-27; Mark. 13:14].

Beberapa orang mengutip pernyataan Yesus (yang Ia katakan kira-kira tahun 30 M) yang berbunyi: “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya,” (Mat. 24:14) [Bandingkan dengan Mark. 13:10] dan berkata bahwa akhir zaman telah dekat.

Namun sebelum tahun 70 M, Paulus menulis Injil telah diberitakan “ke seluruh dunia ... sampai ke ujung bumi,” (Rom. 10:18) dan “diseluruh alam di bawah langit.” (Kol. 1:23).

Jadi, “mesias-mesias palsu” (ay. 5), “deru perang dan kabar-kabar tentang perang” (ay. 6), “nabi-nabi palsu” (ay. 11,24) dan Injil diberitakan ke “seluruh dunia” (ay. 14) ditujukan kepada masa sebelum kehancuran Yerusalem.

Juga, menurut Yosefus, seorang ahli sejarah Yahudi, peristiwa yang melaluinya pasukan Romawi mengakhiri eksistensi bangsa Yahudi adalah suatu masa di mana “terjadi siksaan yang dahsyat” (ay. 21).

Jika kasih karunia Allah tidak dikemukakan demi keselamatan para pengikut Kristus itu, maka seluruh bangsa Yahudi yang mendiami negeri itu akan disapu bersih; dari segala “yang hidup” tidak akan ada yang selamat (ay. 22; Bdg. Dan. 12:1; 1 Tes. 2:16). Maka, siksaan yang berat, sebagaimana sering disebut oleh para pelajar Alkitab, itu adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada masa lampau, dan telah digenapi.

Tujuan pengajaran yang disampaikan Yesus di Bukit Zaitun itu bukan untuk memberitahukan kepada murid-murid-Nya tentang tanda-tanda kedatangan-Nya yang kedua kali, tapi untuk memperingatkan orang-orang bahwa kehancuran Yerusalem sudah mendekat, dan juga untuk memberikan suatu tanda yang pasti agar mereka bisa menyelamatkan diri dengan cara keluar dari kota itu.

Jika mereka melihat tentara Romawi mengepung Yerusalem (Luk. 21:20; Mat. 24:15), itu artinya saatnya untuk bergegas menyelamatkan diri keluar dari Yerusalem dan Yudea. Namun, dengan jelas, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya jangan melihat peristiwa-peristiwa seperti perang, kelaparan, gempa bumi dan berbagai-bagai jenis wabah penyakit sebagai tanda kedatangan-Nya yang kedua kali.

Maka sangat mengherankan di mana orang-orang saat ini akan terus menerus mengira hal-hal yang disebutkan di atas sebagai tanda-tanda kedatangan-Nya, meskipun Yesus telah menegaskan jangan mengira hal-hal itu sebagai tanda-tandanya.

“Tanda-tanda” ini, karena telah digenapi sebelum generasi itu berlalu, tidak bisa ditujukan kepada kedatangan-Nya yang kedua kali, tapi kepada nubuatan-Nya tentang kehancuran Yerusalem. Menjadikan “tanda-tanda” itu sebagai pertanda kedatangan-Nya akan bertentangan dengan pernyataan positif-Nya bahwa tidak ada tanda-tanda dan peringatan akan kedatangan-Nya yang kedua kali (Mark. 13:22).

Jika keseluruhan percakapan Yesus dengan murid-murid-Nya itu ditelaah dengan cermat maka kita bisa melihat Tuhan membagi dua peristiwa yang akan terjadi itu ke dalam dua periode yang berbeda: Periode Pertama, mulai dari saat itu hingga ke kehancuran Yerusalem; dan Kedua, dari kehancuran Yerusalem sampai kedatangan-Nya yang kedua kali dan akhir zaman.

Tentang periode pertama, Yesus berkata, “Hati-hatilah kamu! Aku sudah terlebih dahulu mengatakan semuanya ini kepada kamu.” (Mark. 13:23); namun mengenai periode yang kedua, Ia tidak memberitahukan tanda-tanda agar umat-Nya tahu dengan jelas bilamana akhir zaman telah mendekat, tapi hanya berbicara dalam istilah-istilah umum dan membuatnya semakin jelas bahwa tidak ada tanda-tanda yang mendahului disebutkan sehingga umat-Nya tahu saat kedatangan-Nya yang kedua kali sudah dekat.

Ia berkata, “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Mat. 24:36). Hanya Allah yang tahu hari dan saat kedatangan Kristus yang kedua kali (Kis. 17:31).

Jadi, kedatangan Kristus tidak akan terjadi selama pengepungan kota itu, juga tidak pada saat kehancuran-Nya, tapi sesudahnya. Berapa lama “sesudah siksaan itu” hingga sebelum kedatangan Tuhan dan akhir zaman, Kristus tidak mengatakannya; demikian juga Alkitab.

Perumpamaan yang dibentangkan Yesus mengenai kedatangan-Nya yang kedua kali hanya menekankan agar setiap orang mempersiapkan diri, bukan tentang hari kedatangan-Nya: Bahwa hamba itu harus melakukan kehendak tuannya setiap saat kalau-kalau tuannya kembali pada saat yang tak diduga-duga dan mendapatinya tanpa persiapan (ay. 41-51).

Kemudian dua perumpamaan dalam pasal selanjutnya – Sepuluh Anak dara dan Talenta. Satu-satunya poin yang ditekankan dalam pelajaran itu adalah murid-murid-Nya harus selalu berharap dan siap sedia pada kedatangan-Nya yang kedua kali.

Perumpamaan tentang Pohon Ara, dalam pasal 24, dibentangkan untuk mengilustrasikan kehancuran Yerusalem. Dalam perumpamaan itu Ia menunjukkan bahwa sama seperti pohon ara yang mulai bertunas suatu pertanda musim panas sudah dekat; kehadiran pasukan Romawi di Yudea menjadi suatu pertanda kehancuran Yerusalem sudah dekat. Sebaliknya dikatakan tentang kedatangan-Nya yang kedua kali tidak akan diawali oleh pertanda apa pun.

Maka, dari pernyataan-pernyataan Yesus ini, seseorang bisa mengerti dengan jelas adalah tidak mungkin, dari berbagai-bagai nubuatan dalam Alkitab, untuk memprediksi tahun kedatangan Tuhan. Lebih lanjut ia bisa melihat betapa bertolak-belakangnya pemahaman bahwa Tuhan akan “datang” pada akhir “siksaan yang dahsyat” itu.

Dewasa ini, banyak pemeluk agama yang, kendatipun peringatan yang jelas ini telah Yesus sampaikan kepada murid-murid-Nya, dipenuhi dengan kekaguman kepada pendeta yang berkhotbah dan sok tahu seperti orang terpelajar mengenai “tanda-tanda akhir zaman.” Pendeta itu berusaha menunjukkan kepada audiensnya tentang perang yang mengerikan, gempa bumi dahsyat atau kelaparan hebat itu, “sesuai dengan nubuatan,” adalah suatu pertanda kedatangan Yesus segera.

Namun Yesus telah menekankan bahwa tak seorang pun yang tahu mengenai waktu atau harinya, itu akan terjadi pada waktu manusia tidak lagi memikirkannya. (Mat. 24:44) Meskipun waktu kedatangan-Nya tidak pasti, kapan, namun kedatangan Kristus yang kedua kali itu pasti.

IV. Ketika Yesus Datang, Bumi akan Hilang Lenyap, Orang-orang Mati Bangkit, dan Dunia Dihakimi.
Peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kedatangan Kristus juga dinyatakan dengan jelas dalam Kitab Suci, yaitu:
(1) Akhir dunia, ketika bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. “Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik ... hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.” [Ayat ini terkadang dianggap telalu dibesar-besarkan, namun di zaman Bom Atom dan Hydrogen sekarang hal tersebut nampaknya tidak terlalu sulit untuk dipahami karena semua orang tahu bagaimana nubuatan-nubuatan ini akan benar-benar nyata].
(2) Kebangkitan semua orang mati dengan serentak, baik orang saleh maupun jahat. “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” (Yoh. 5:28-29). Bandingkan juga dengan kitab 1 Kor. 5:22-24, 52).
(3) Penghakiman terakhir bagi semua manusia, baik orang benar maupun orang fasik. “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing ....” (Mat. 25:31-32). “... Kristus Yesus ... akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati. (2 Tim. 4:1). (Why. 20:11-12).

Ayat-ayat di atas dengan jelas menghubungkan akhir zaman, kebangkitan orang-orang mati secara menyeluruh dan penghakiman terakhir dengan kedatangan Kristus yang kedua kali. Meskipun waktu kedatangan-Nya itu tidak diungkapkan kepada manusia, namun Ia mengatakan Ia pasti akan datang kembali untuk membangkitkan orang-orang mati, baik itu orang saleh maupun orang fasik, serta untuk menghakimi seluruh umat manusia.

A. Kristus Tidak Akan Mendirikan Kerajaan Duniawi
Bila Ia datang kelak, Ia tidak bermaksud untuk mendirikan kerajaan duniawi di muka bumi ini dan memerintah atasnya. Alkitab mengatakan bahwa Kristus adalah Raja saat ini (1 Tim. 6:15). Kerajaan-Nya di muka bumi ini adalah Gereja (Mat. 16:18 19), namun “itu bukan dari dunia ini.” (Yoh. 18:36). Orang Kristen yang mula-mula telah memasuki Kerajaan itu. (Kol. 1:13, 14; Ibr. 12:28; Why. 1:9).

Dengan membandingkan kitab Markus 9:1; Kisah Rasul 1:8 dan Kisah Rasul 2: 14, maka faktanya dapat diketahui bahwa Kerajaan Kristus telah berdiri di muka bumi ini pada hari Pentakosta, setelah kebangkitan-Nya, di kota Yerusalem.

Bilamana Ia datang kelak, Ia akan menyerahkan kekuasaan-Nya dan memberikan Kerajaan itu kepada Allah Bapa (1 Kor. 15:24-26; Kis. 2:29-36; Zakh. 6:12, 13; Ibr. 8:1, 4). Tidak ada catatan dalam Kitab Suci yang mengatakan Kristus akan memerintah dalam sebuah kerajaan duniawi, baik itu sebelum atau sesudah kedatangan-Nya yang kedua kali.

Jadi, doktrin “Kerajaan Kristus Seribu Tahun” itu mesti ditolak karena itu ajaran palsu. Pengajaran itu hanya berdasarkan interpretasi yang salah akan simbol-simbol dan bahasa kiasan yang terdapat dalam kitab Wahyu 20:1-7. Pengajaran itu benar-benar kontradik dengan kitab suci.

Ayat-ayat dalam Wahyu 20:1-7 tidak menyebutkan: (1) Kedatangan Kristus yang kedua kali, (2) Kebangkitan secara jasmani, (3) Semua orang benar, (4) Berkuasa di muka bumi ini, (5) Kristus di muka bumi ini, (6) Jangka waktu Kristus berkuasa, atau (7) Yerusalem sebagai pusat pemerintahan dan Kristus sebagai raja.

Yohanes hanya berkata, “Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun ... Inilah kebangkitan pertama.” (ay. 4, 5). Tidak ada disebutkan “di muka bumi ini” dalam ayat tersebut. Faktanya, Tuhan tidak akan benar-benar menjejakkan kaki-Nya di muka bumi ini lagi sebab pada saat kedatangan-Nya kelak bumi akan hilang lenyap (2 Pet. 3:10), dan orang-orang saleh akan “menyongsong Tuhan di angkasa.” (1 Tes. 4:17).

Jadi, kitab suci mengajarkan Kristus mulai berkuasa di bumi ini pada hari Pentakosta dan akan terus memerintah hingga akhir zaman, saat Ia datang kembali. Menerjemahkan kerajaan seribu tahun Kristus memerintah di bumi ini secara literal merupakan sebuah kemustahilan, sebab dispensasi kekristenan (Injil) adalah dispensasi yang terakhir. (Kis. 2:47). Tidak ada lagi zaman duniawi setelah zaman kekristenan sekarang. “Masa seribu tahun” terjadi sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali, pada akhir zaman. Karena itu, “kebangkitan yang pertama” itu harus diartikan secara rohani, maksudnya kebangkitan.

Tidak ada ayat dalam Alkitab yang mendukung doktrin Kristus akan memerintah selama seribu tahun di bumi ini. Kitab Suci mengajarkan bilamana Kristus datang:
(1) Zaman akan berakhir,
(2) Semua orang mati akan dibangkitkan pada saat yang sama,
(3) Akan ada penghakiman yang terakhir,
(4) Kekekalan akan mulai.

Wahyu 20:2-6 adalah simbol dan harus diartikan selaras dengan ayat lainnya khususnya yang berbicara mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali, kebangkitan dan penghakiman. Doktrin masa kerajaan seribu tahun bertentangan dengan ayat-ayat Alkitab. Akar kesalahannya adalah karena menafsirkan kitab Wahyu secara harafiah atau literal.

Wahyu 20:1-6 adalah sebuah simbol-gambaran kebangkitan kekristenan –kemenangan orang-orang yang teraniaya. Orang Kristen saat ini hidup pada zaman “Seribu Tahun” dan Kristus memerintah dalam hati orang Kristen dan gereja.

Karena itu, “Kebangkitan yang pertama” itu bersifat rohani. Alkitab mengatakan tentang kebangkitan orang-orang (bersifat spiritual) dalam bahasa figuratif dan juga literal (jasmaniah). Lihat catatan Yoh. 5:25; Rom. 6:4; Yehz. 37:1-14; Malk. 4:5; Mat. 11:11-14; Mark. 9:11-13; Luk. 1:17. Jadi, doktrin premilenialisme itu doktrin palsu, sebab Kristus memerintah saat ini.

B. Penghakiman Akan Menjadi Suatu Hari yang Besar
Sesudah kedatangan-Nya dan kebangkitan orang mati, Ia akan menghakimi semua umat manusia, termasuk orang-orang yang dibangkitkan dari kematian dan juga yang masih hidup pada saat Ia datang. Alkitab dengan jelas mengajarkan kelak akan ada hari penghakiman.

Dibandingkan dengan topik-topik lainnya, pengajaran yang dikhotbahkan yang berbicara tentang kedatangan Kristus yang kedua kali, kebangkitan orang-orang mati dan penghakiman terakhir sangat minim. Namun, subjek yang paling sering diberitakan oleh para nabi, rasul-rasul dan Kristus adalah tentang akhir zaman dan penghakiman terakhir. Subjek tersebut perlu dipikirkan dengan serius karena melibatkan tanggung-jawab.

Daniel Webster pernah ditanya, “Apakah hal yang paling serius yang pernah berkecamuk dalam pikiranmu?” Ia menjawab, “Tanggung-jawab pribadi saya kepada Allah.”

Penghakiman bagi semua manusia, pasti. Hidup ini diselubungi dengan ketidakpastian; tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Satu hal yang pasti, kita semua akan menghadap takhta pengadilan Yesus. “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,” (Ibr. 9:27). Seorang pun tak kuasa membatalkan janji ini.

Semua orang akan berkumpul di sana; yang masih hidup, yang sudah mati, dari segenap penjuru bumi dan dari sejak zaman Adam hingga saat kedatangan Tuhan. Orang-orang besar, kecil, saleh, jahat, kaya, miskin, yang bijak dan yang tidak bijak, semua ras dan bahasa, akan menghadap takhta putih agung.

C. Allah Akan Menghakimi Dunia Melalui Kristus
Kristus, akan menjadi hakim kelak. Kehormatan untuk menghakimi orang yang masih hidup dan sudah mati telah dianugerahkan kepada-Nya, dan di hadapan penghakiman-Nya semua orang harus berdiri (Yoh. 5:22, 27; Kis. 17:31; Mat. 25:31, 32).

Yesus memberikan sebuah gambaran suasana penghakiman pada saat Ia menggambarkan diri-Nya seperti seorang gembala, dan memisahkan orang-orang seperti domba-domba dan kambing. “Dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan... Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya ... Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat. 25:33-46).

Sang Juruselamat dunia itu memenuhi syarat untuk menjadi Hakim pada akhir zaman nanti sebab Ia sempurna, dan tahu segala perbuatan dan pikiran manusia. Kristus tahu apa yang ada dalam hati manusia (Yoh. 2:24, 25); tidak ada satu makhluk pun yang tersembunyi dari pandangan mata-Nya (Ibr. 4:13; Ams. 15:3). Ia juga punya rasa simpati karena Ia pernah hidup di bumi ini, kepada orang yang selalu bermurah hati Ia akan bermurah hati dengan keadilan dan kebenaran yang sempurna.

D. Setiap Orang Akan Mempertanggungjawabkan Kehidupannya
Yang akan menjadi dasar penghakiman adalah perbuatan, perkataan dan pikiran manusia. Pada hari penghakiman nanti, buku kehidupan manusia akan dibuka, seluruh perbuatannya akan diungkap dan setiap orang akan mempertanggung-jawabkan apa yang telah diperbuatnya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya, baik ataupun jahat (2 Kor. 5:10). (Mat. 16:27).

Setiap perbuatan akan diungkap, bahkan hal-hal yang tersembunyi dan tak terlihat, entah itu baik, entah itu jahat, akan diperlihatkan. “Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.” (Pengk. 12:14). Pada hari penghakiman nanti semuanya akan ketahuan. (Matius 12:36-37). Allah tidak hanya mencatat segala perbuatan manusia, tapi juga perkataannya. (Malk. 3:16; Ef. 4:29).

Sang Hakim Agung tidak hanya akan menuntut pertanggungjawaban atas perbuatan dan perkataan jahat, tapi juga “... apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati.” (1 Kor. 4:5) Ia akan menghakimi “segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia.” (Rom. 2:16).

Bisa saja dosa dan kejahatan yang dilakukan dalam dunia ini ditutup-tutupi, seperti yang dilakukan banyak orang, namun pada hari penghakiman yang besar itu nanti semuanya akan dibuka, dan semua manusia, masing-masing, akan menghadapinya.

E. Firman Akan Menghakimi Manusia
Manusia akan dihakimi selaras dengan hukum Allah. Ini kita pelajari dari penglihatan Yohanes tentang penghakiman (dalam Wahyu 20:12) dan dari firman Kristus, “Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.” (Yoh. 12:48). Pada akhir zaman nanti semua akan dihakimi, bukan dengan ajaran dan dogma manusia tetapi dengan firman Allah.

Faktanya, yang akan menjadi dasar apakah seseorang itu berkenan kepada-Nya adalah imannya dalam Kristus Yesus yang dimanifestasikan melalui ketaatannya pada kehendak Tuhan dan sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ia miliki. (Ibr. 5:8; Mat. 7:21-27; 12:41, 42; 25:15, 35-45; Why. 2:12, 12, Luk 10:12-14; 12:47).

Setiap orang, pada hari penghakiman nanti, akan mendengar penghukuman akhir, dari Allah, untuk jiwanya: kebahagiaan yang kekal atau siksaan yang abadi. Sebagaian orang akan menang bersama dengan orang-orang yang berbahagia, sementara yang sebagian lagi akan binasa bersama-sama dengan orang yang dihukum.

Saat itu, kelak, orang baik dan jahat akan dipisahkan selamanya. Hukuman yang diberikan tidak akan pernah surut. Pada hari penghakiman, setiap orang, seperti yang dikatakan tentang Yudas, akan pergi ke “tempat yang wajar baginya,” (Kis. 1:25), tempat yang telah ia tentukan sendiri baginya melalui pilihan dan perbuatan-perbuatannya dalam hidupnya; dan di tempat itu ia akan tinggal selama-lamanya. Karena itu, semua orang, pada saat yang sama, akan diberi upah atau dihukum ... pada hari terakhir nanti. (Yoh. 6:39, 40, 44; 12:48; Yudas 14, 15; Gal. 6:7, 8).

Dalam Matius 25:31-46 disebutkan dengan jelas: (1) Waktu penghakiman –pada saat kedatangan Kristus yang kedua kali; (2) Hakimnya –Yesus Kristus; (3) Yang akan dihakimi –semua bangsa; (4) Hukuman yang akan diberikan –masuk ke tempat hidup yang kekal, atau ke tempat penghukuman.

V. “Bersiaplah untuk Bertemu Dengan Allahmu.”
Pemisahan yang paling menyedihkan akan terjadi ketika seseorang dipisahkan masuk ke dalam penghukuman yang kekal. Orang-orang yang satu keluarga akan dipisahkan, tidak akan pernah bertemu lagi. Akan tetapi, Allah tidak menghendaki satu orang pun binasa. Ia menghendaki semua orang sampai kepada pertobatan, dan Ia, oleh anugerah-Nya, memungkinan dosa manusia diampuni melalui penumpahan darah Yesus Kristus. (Ef. 2:8, 9; Mark. 16:16; Kis. 2:38).

Ketika seseorang, oleh ketaatannya, bersalutkan darah Kristus, maka dosa-dosanya diampuni, tidak akan disebutkan lagi oleh Hakim pada saat penghaliman nanti, karena Allah telah berfirman, “Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.” (Ibr. 8:12).

Menunda-nunda untuk menaati Injil sangat berbahaya (2 Tes. 1:7-9). Hari ini adalah hari keselamatan itu. Hanya dengan menjadi orang Kristen yang setialah seseorang itu selalu siap sedia pada kedatangan Kristus yang kedua kali. Orang-orang yang belum mempersiapkan diri harus mempersiapkan diri, sekarang, untuk bertemu dengan Allah pada hari penghakiman nanti.

“Hai jiwa-jiwa yang bersikap masa bodoh, dengarkanlah peringatan ini,
Karena hidupmu akan segera berlalu,
Oh betapa menyedihkannya menghadapi penghakiman,
Tanpa persiapan untuk bertemu dengan Allahmu.” –J. H. Stanley

* Misionaris, telah memberitakan Injil hampir di 70 negara,
Pembicara di berbagai Seminar, Guru Alkitab,
tinggal di Amerika.


(Alih Bahasa dan diedit seperlunya oleh: Marolop Simatupang)

Mengapa Perempuan Tak Diizinkan Memimpin Kebaktian Umum

“Mengapa Perempuan Tak Diizinkan Memimpin Kebaktian Umum?”
Oleh: Clem Thurman

Yesus Kristus tentunya tidak berprasangka buruk terhadap kaum perempuan, demikian juga para rasul yang dipimpin oleh Roh Kudus yang Ia utus untuk memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Yesus berdoa kepada Allah Bapa, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” (Yoh. 17:17).

Firman yang sama juga menyatakan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh mereka yang akan melayani sebagai “penatua-penatua ... diaken-diaken dan ... gembala-gembala.” (Ef. 4:11;1 Pet.5:1-3; 1 Tim. 3:1-7; Tit. 1:5-11). Salah satu syaratnya adalah “suami dari satu isteri.” (1 Tim. 3:2; Tit. 1:6). Itu yang dikatakan Firman Tuhan. Apakah kita akan mengabaikan hal itu?

Menempatkan atau mengangkat seseorang yang tidak memenuhi syarat dalam sebuah tugas atau pekerjaan bukanlah suatu sikap menunjukkan hormat. Saya tidak pernah ditunjuk untuk menjadi Sekretaris Negara atau duduk di kursi Makamah Agama. Saya juga tidak pernah diangkat menjadi kepala dokter bedah di sebuah rumah sakit ternama. Namun itu bukan berarti saya tidak dihargai sama sekali sebab saya tidak memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan pada posisi yang disebutkan di atas.

Itu juga tidak lantas membuat saya inferior dibandingkan dengan mereka yang memenuhi syarat pada pekerjaan tersebut. Itu hanya mengindikasikan bahwa kita melayani sesama di bidang yang berbeda. Akankah kondisinya lebih baik bila standar-standarnya direndahkan supaya penginjil seperti saya bisa mengoperasi pasien yang dalam kondisi sekarat? Itu bukan hanya suatu penghinaan bagi profesi kedokteran sebab saya tidak memenuhi syarat melakukan pekerjaan seperti itu.

Demikian juga, mencoba meninggikan seseorang dengan merubah peraturan yang telah ditetapkan oleh Allah merupakan suatu sikap tidak hormat pada gereja dan Tuhan yang telah membuat peraturan tersebut, yang mendirikan dan memerintah gereja melalui Firman-Nya. Dan salah satu peraturan yang disebutkan dalam Kitab Suci adalah bahwa perempuan tidak diizinkan memimpin dalam ibadah atau kebaktian umum.

Akan tetapi perlu diperhatikan meski dilarang oleh Kitab Suci, kaum perempuan bukanlah “anggota kelas dua” dalam Gereja yang didirikan oleh Yesus. Rasul yang diilhami itu dengan jelas menulis, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Gal. 3:28).

Namun setara bukan berarti semua punya tugas dan pekerjaan yang sama. “Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota … Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya … Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh … Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat.” (1 Kor. 12:14, 18, 20, 29).

Tidak semua anggota jemaat memenuhi syarat pada semua kategori pekerjaan-pekerjaan gereja, namun hal itu tidak lantas membuat mereka menjadi “anggota kelas dua.” Masing-masing adalah anggota dalam tubuh seperti yang ditetapkan oleh Yesus. Ada tugas dan pekerjaan yang harus dikerjakan dan masing-masing telah diberkati dengan karunia-karunia yang berbeda-beda agar tugas itu dapat dilaksanakan. Dalam hal ini, karena tiap-tiap anggota memiliki karunia-karunia yang berbeda, apakah itu berarti Allah memandang rupa?

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Allah telah memberikan Yesus Kristus kepada Jemaat “... sebagai Kepala dari segala yang ada, Jemaat yang adalah tubuh-Nya…” (Ef. 1:22-23) Atas dasar itu, Yesus berfirman, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Mat. 28:18)

Yesus yang sama juga berfirman, “Aku akan mendirikan JemaatKu.” (Mat. 16:18). Ia mendirikan gereja-Nya, lalu mengajarkan segala rencana-Nya dan peraturan dalam Firman-Nya. Ia menetapkan bagaimana peraturan-peraturan itu diajarkan dan juga tentang pemerintahan dalam gereja-Nya. Tuhan tidak pernah bertanya kapada manusia apa yang disukai oleh manusia itu, demikian pun hingga saat ini.

Ia memerintahkan manusia, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mark. 16:15). Dalam surat kiriman Paulus, Allah berfirman, “Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.” (1 Kor. 14 :34). Itulah keinginan dan pengajaran Allah yang terdapat dalam Firman-Nya yang telah Ia ilhamkan.

Setelah Paulus, di jemaat-jemaat lokal, mengajarkan bahwa setiap orang dapat berdoa (dan mengajar) kemudian ia menulis, “Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.” (1 Tim. 2:11-12). Perhatikan kembali, itulah yang difirmankan Allah, itu bukan kata-kata manusia. Sebab apa yag ditulis Paulus bukan doktrin atau pengajaran manusia, tetapi “memang sungguh-sungguh demikian--sebagai firman Allah” (1 Tes. 2:13).

Frasa “memerintah atas laki-laki” mengandung arti berkuasa atas laki-laki, dan ketika perempuan mengambil alih kepemimpinan baik untuk mengajar (berkhotbah) atau pun menjadi pemimpin dalam pertemuan-pertemuan umum jemaat maka itu sudah menabrak batasan-batasan yang ditetapkan Kitab Suci.

Mengapa kaum perempuan tunduk di bawah kepemimpinan kaum Adam karena Kitab Suci menegaskan bahwa “Karena suami (laki-laki) adalah kepala istri (perempuan) sama seperti Kristus adalah Kepala jemaat...” (Ef. 5:23). *Note: Kata laki-laki dan perempuan dalam kurung hanya tambahan belaka).

Perlu digarisbawahi bahwa kaum perempuan diperintahkan untuk tidak berkhotbah atau mengambil alih pimpinan dari laki-laki dalam pelayanan umum (ibadah) bukanlah suatu sikap radikal yang didukung oleh “gereja saya” (jika saya pemilik gereja!) tetapi itulah yang Tuhan kehendaki yang dituliskan rasul-Nya dalam Firman-Nya. Apakah kamu mau berdebat dengan Tuhan?

Gereja tidak pernah melarang perempuan berdoa dalam ibadah. Seluruh jemaat harus berdoa ketika seseorang memimpi mereka dalam doa. Namun, seperti yang dinyatakan ayat di atas, perempuan tidak diizinkan untuk memimpin dalam ibadah umum.

Kaum perempuan masih tetap bisa berkarya dalam gereja-Nya, mengajar kaum perempuan dan sekolah minggu serta melakukan penginjilan. Ada contohnya dalam (Kis. 18:24-26). Priskila dan Akwila, ketika melihat Apolos mengajar namun apa yang diajarkannya itu tidak tepat, “mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah.” Apolos mengajar di depan umum, dalam perkumpulan. Namun Priskila tidak mengajarnya di depan umum itu, ia menunggu sampai Apolos selesai mengajar, lalu kemudian bersama suaminya mengajar Apolos secara pribadi.

Rasul Paulus menyebutkan nama dua orang perempuan, Euodika dan Sinthike, dan menasihatkan, “Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens …” (Filp. 4:3).

Kedua pelayan yang saleh itu bukanlah “anggota kelas dua” dalam gereja-Nya. Kalau perempuan boleh memimpin dalam ibadah umum, maka Tuhan tentu tidak akan melarangnya. Namun dalam ayat-ayat kitab suci Tuhan maupun Rasul-Nya tidak pernah menempatkan perempuan untuk memimpi dalam ibadah umum gereja. Kitab Suci dengan jelas berkata “tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengajarkan memerintah laki-laki.” (© GOSPEL MINUTES, Vol. 41, No. 6, FEB. 7, 1992).

Rabu, 24 Juni 2009

Maaf, Ini Tentang Kentut

Oleh Marolop Simatupang

Setiap orang pasti pernah kentut. Kentut, atau dalam bahasa ilmiahnya flatulensi adalah suatu proses dimana mahkluk hidup mengeluarkan gas buangan dari lubang yang berada di belakang (anus) akibat akumulasi gas dalam perut, terutama dalam usus besar. Peristiwa keluarnya gas dengan suara dan “aroma” khas ini sering juga, untuk bahasa halusnya, disebut buang angin.

Bisa kentut merupakan sebuah karunia kesehatan yang tak ternilai, terlebih bila frekuensinya normal. Namun bila melebihi batas normal dan ia keluar pada waktu dan di tempat yang salah bisa menjadi petaka. Buang angin dengan teratur pertanda proses pencernaan dalam tubuh berjalan baik. Bahkan seorang pasien yang menjalani operasi dengan bius total baru bisa makan dan minum setelah ia kentut.

Proses kentut ini pada umumnya disebabkan karena terdesaknya udara, atau lebih tepatnya gas dalam perut oleh makanan, terlebih jika tidak dikunyah dengan baik, dan minuman yang kita konsumsi, juga karena posisi perut tertekan.

Gas dalam usus besar keluar melalui lubang anus oleh karena gelombang kontraksi berturut-turut pada alat pencernaan yang mendorong sisa makanan ke arah anus. Gerak peristaltik ini membuat ruang menjadi bertekanan sehingga memaksa isi usus termasuk gasnya bergerak ke daerah yang bertekanan lebih rendah, sekitar lubang dubur.

Gas dalam perut itu terdiri dari gelembung-gelembung kecil, namun kemudian menyatu menjadi gelembung besar. Jika tidak ada gerak peristaltik, gas itu perlahan-lahan akan menerobos ke atas lagi namun tidak terlalu jauh karena bentuk usus yang rumit dan berbelit-belit.

Lalu kenapa kentut sering mengeluarkan suara? Karena adanya vibrasi di lubang dubur dan sfingter ani (otot halus berbentuk cincin yang berfungsi mengontraksikan lubang anus) ikut bergetar saat gasnya keluar. Dan kerasnya bunyi tergantung pada speed gasnya pada saat keluar. Makanya kentut dengan dicicil, perlahan-lahan, relatif tak bersuara, tidak kedengaran, namun aroma khasnya tidak bisa disembunyikan.

Dari mana gas dalam perut itu? Manuskrip tentang kesehatan menyebutkan gas itu masuk, tanpa kita sadari, melalui mulut pada saat kita makan atau mengunyah. Makanya banyak orang pada saat atau sehabis makan bersendawa. Sendawa (serdawa) terjadi bukan pertanda kenyang tapi karena udara yang ikut tertelan tadi terdesak keluar melalui kerongkongan oleh makanan yang kita telan, juga karena gas di lambung banyak. Namun gas yang keluar itu tidak berbau sebab komposisi kimianya lain dengan kentut serta mengandung udara lebih banyak. Kadang orang beserdawa juga karena masuk angin.

Beberapa jenis makanan yang kita konsumsi berkontribusi banyak memproduksi gas dalam usus besar. Seperti kacang-kacangan yang mengandung zat gula (raffinose), jagung, paprika, kubis, kembang kol membuat proses fermentasi dalam perut makin cepat dan bakteri dalam usus akan memproduksi banyak gas yang menjadi penyebab kentut, namun tidak terlalu menyengat baunya.

Kadang gas yang keluar dari dubur baunya terlalu khas dan amat menyengat. Namun bau kentut tiap-tiap individu berbeda. Bahkan dalam satu individu aromanya tidak sama, tergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi.

Para ahli kesehatan mengatakan buang angin yang baunya terkadang kebangetan itu karena makanan yang dikonsumsi terlalu keras, seperti daging, dan usus tidak dapat memprosesnya sampai tuntas halus sehingga meninggalkan ampas makanan dalam perut. Semakin lama ampas tersebut dalam perut, karena buang air besar tidak teratur (BAB tidak lancar), semakin bau pulalah gas yang keluar seperti yang sering “dialami” pada saat buang air besar disertai dut dut dut...

Sponsor dan sumber bau kentut lainnya adalah bakteri serta makanan yang banyak mengandung hydrogen sulfida dan merkaptan. Seperti yang umum diketahui, kedua senyawa ini mengandung belerang. Semakin banyak kandungan sulfur dan protein dalam makanan yang dikonsumsi, seperti telur, semakin banyak sulfida dan merkaptan yang diproduksi bakteri dalam perut dan semakin baulah gas yang keluar dari anus. Telur rebus, terlalu banyak makan daging serta makanan sejenis rempah-rempah disinyalir menjadi penyebab kentut yang baunya paling dahsyat.

Meski volumenya sedikit dan intensitasnya jarang, tapi karena fermentasi bakteri dan proses pencernaan memproduksi panas, maka hasil sampingnya adalah bau tak sedap walau volumenya kecil, bahkan relatif tak mengeluarkan bunyi, namun SBD (Silent But Deadly).

Gas yang ada dalam usus besar terutama berisi nitrogen (20-90%), oksigen (0-10%), methane, (0-10%) (diproduksi kuman atau bakteri dan mudah terbakar), karbon dioksida (10-39%), dan hidrogen (0-50%), yang combustible (mudah terbakar, gas alam mengandung komponen ini juga). Berarti kentut flammable (?).

Gas yang keluar itu bau, selain karena faktor makanan, juga karena kandungan gas bergugus indol yang telah tercampur. Dan indera penciuman manusia cukup reaktif terhadap senyawa-senyawa yang mengandung gugus ini. Makanya orang langsung tutup hidup hidung begitu mendengar atau mencium sedikit saja aroma khas kentut.

Meski tidak selalu, kentut biasanya ditandai dengan rasa mulas di perut. Ini sering menjadi pertanda kalau seseorang itu kelebihan makanan tertentu, ingin BAB, karena efek samping obat-obat tertentu, masuk angin, dll.

Komposisi dan volume buang angin pada umumnya bervariasi, tergantung pada jenis makanan yang kita konsumsi dan berapa lama kita menahan kentut. Volume itu juga dipengaruhi oleh banyak tidaknya bakteri serta reaksi kimia antara asam perut dan cairan dalam usus yang menghasilkan karbon dioksida.

Seperti yang umum diketahui, bakteri dan proses fermentasi menghasilkan metan dan hidrogen yang mudah terbakar, seperti gas alam. Makanya gas bio-metan dari septic tank (tangki kakus) MCK plus-plus bisa difungsikan menjadi bahan bakar untuk memasak.

Setiap orang pasti pernah kentut. Bahkan konon katanya orang sesaat setelah meninggal pun masih bisa kentut. Namun intensitas buang angin tiap-tiap individu tidak sama. Seberapa sering kentut, menurut buku-buku kedokteran rata-rata 14 kali sehari, sadar atau tidak, temasuk saat tidur. Tapi itu juga tergantung pada kesehatan dan pola diet yang bersangkutan. Selain karena masuk angin, sering kentut juga karena kebanyakan ngemil, ngunyah permen karet, makan terburu-buru serta banyak minum minuman softdrink.

Selain itu, naik pesawat bisa juga menyebabkan intensitas kentut meningkat dibanding dengan berkendara lewat jalan darat oleh karena tekanan udara dalam kabin pesawat lebih rendah sehingga gas dalam usus mengalami kontraksi dan ekspansi, lalu muncul sebagai kentut. Itu sebabnya rata-rata orang begitu turun dari pesawat langsung mencari toilet.

Buang angin itu tidak salah, tentu tergantung tempat dan situasi. Angin yang ada dalam usus jika tidak dikeluarkan bisa berakibat fatal. Kentut dengan volume dan frekuensi normal pertanda kesehatan dan proses pencernaan dalam perut lancar.

Gas dalam perut kalau ditahan-tahan, tidak dikeluarkan, tidak hilang atau diabsorbsi darah, tapi bermigrasi ke bagian atas, lalu naik lagi ke usus besar dan pada akhirnya akan keluar juga. Jadi tidak lenyap lewat pori-pori atau lubang-lubang lain, hanya mengalami penundaan. Itu sebabnya orang paling sering kentut pagi hari di toilet, yang disebut “morning thunder” karena gas produksi setelah makan malam masih tertahan dalam perut. (Saya belum pernah melihat atau mendengar orang kentut saat tertidur lelap).

Kentut itu bagian dari proses kesehatan tubuh. Alami. Referensi tentang kentut memang minim. Dan, setahu saya, belum ada laboratorium pengujian atau sampel-sampel kentut. Tapi jangan kuatir. Selama frekuensi kentut masih normal, dan ia keluar di tempat dan pada waktu yang tepat, enjoy aja. Namun bila melebihi batas normal dan ia keluar pada waktu dan di tempat yang salah bisa menjadi musibah.*

Sumber: Intisari Edisi Mei 2009, wikipedia.com, kapanlagi.com, mail-archive.com.

Mengapa Cincin Kawin Disematkan di Jari Manis


Mengapa cincin kawin disematkan di jari manis?
Ikuti langkah berikut ini! Tuhan benar-benar membuat keajaiban.

1. Pertama, tunjukkan telapak tangan Anda, jari tengah ditekuk ke dalam (lihat gambar).

2. Kemudian, 4 jari yang lain pertemukan ujungnya.

3. Permainan dimulai, 5 pasang jari tetapi hanya 1 pasang yang tidak terpisahkan…

4. Cobalah membuka ibu jari anda!
Ibu jari mewakili orangtua. Ibu jari bisa dibuka karena semua manusia
mengalami sakit dan mati. Dengan demikian orangtua kita akan meninggalkan
kita suatu hari nanti

5. Tutup kembali ibu jari Anda, kemudian buka jari telunjuk.
Jari telunjuk mewakili kakak dan adik, mereke akan memiliki keluarga sendiri, sehingga mereka juga akan meninggalkan kita.

6. Sekarang tutup kembali jari telunjuk Anda, buka jari kelingking, yang mewakili anak-anak. Cepat atau lambat anak-anak juga akan meninggalkan kita.

7. Selanjutnya, tutup jari kelingking Anda, bukalah jari manis Anda tempat di mana kita menaruh cincin perkawinan. Anda akan heran karena jari tersebut tidak akan bisa dibuka. Jari manis mewakili suami dan istri. Selama hidup, Anda dan pasangan Anda akan terus melekat satu sama lain. “Karena apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan manusia.”*

Salam setia selalu dong ....

(MS)

Moncak Batak Telah Punah?

Oleh Marolop Simatupang

Pada zaman kolonial Belanda puluhan tahun yang silam, menurut kisah, banyak orang Batak yang berjuang melawan penjajah dengan tangan kosong. Mereka melawan kompeni dengan keahlian beladiri khas Batak yang disebut Moncak (baca: Mossak) Batak.

Menurut cerita para orangtua dan manuskrip Batak kuno (laklak), para jagoan beladiri Batak tersebut konon memiliki keahlian dan keistimewaan tersendiri, seperti tidak mempan senjata tajam (sajam), bisa meloncat jauh, berlari dengan kencang, bahkan kebal terhadap timah panas dari bedil-bedil penjajah.

Ilmu dan jurus para ahli Moncak zaman dahulu bervariasi. Ada Moncak jurus bodat (monkey), jurus alogo (wind), jurus udan (rain), dan yang paling kesohor jurus harimo (tiger). Dan masih banyak lagi jurus Moncak Batak yang sangat ditakuti oleh penjajah pada saat itu. Jurus-jurus tersebut nampak dari gerakan-gerakan para Parmoncak (pemain Moncak) pada saat unjuk kebolehan, atau ketika bertarung melawan musuh.

Di samping itu, para ahli beladiri khas Batak itu juga ceritanya mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Dengan ramuan-ramuan tradisional, semacam herbal atau jamu-jamuan sekarang, mereka membantu sesama yang sakit, atau menolong rekan-rekan seperjuangan mereka yang terluka di medan laga. Semakin tinggi ilmu atau jurus-jurus yang dimiliki seorang Parmoncak, semakin banyak penyakit yang bisa disembuhkan. Parmoncak yang sudah ahli itu disebut Guru Moncak, dalam bahasa sekarang Suhu (master).

Namun kini, jarang kita mendengar atau membaca tentang Moncak Batak. Budaya beladiri turun temurun itu telah tersisih oleh perkembangan zaman, serta seiring muncul dan berkembangnya berbagai jenis olahraga beladiri modern seperti kara-te, taek-won-do, kung-fu, pencak silat, dan sebagainya. Pada hal, kalau diperhatikan dengan saksama, gerakan-gerakan olahraga Pencak Silat hampir mirip dengan Moncak Batak.

Moncak Batak pun kini terancam tinggal sejarah. Olahraga khas Batak yang juga menjadi salah satu dari kekayaan budaya Indonesia ini pudar selain karena suhu-suhunya telah meninggal juga karena minimnya generasi muda yang melek budaya lokal, khususnya dari pihak halak hita (untuk menyebut orang kita Batak) yang mengembangkannya sehingga tidak ada yang meneruskan (mengajarkan) dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sejatinya, kalau dicari, pasti banyak orang Batak yang tinggal di Bona Pasogit (Sumatera Utara, khususnya daerah di sekitaran Kabupaten Toba Samosir) atau mungkin juga yang tinggal di perantauan, yang, paling tidak, masih bisa memperagakan Moncak Batak ini, namun enggan unjuk kebolehan karena parmoncak di masa lalu identik dengan kekerasan.

Ada baiknya, dengan kemasan seni budaya, olahraga beladiri bernilai tinggi ini dipromosikan untuk tujuan pengenalan budaya lokal dan menghibur. Dan kelak bisa diandalkan menjadi daya tarik wisatawan lokal dan mancanegara agar berkunjung ke Indonesia, khususnya ke Tano Batak (Tanah Batak).***

(Telah dimuat di situs: bersamatoba.com, kabarindonesia.com

Gangguan Jiwa


Oleh Dr Widodo Judarwanto, SpA*

Gangguan jiwa mencakup berbagai keadaan gangguan fungsi mental dan perilaku seseorang seperti psikosis fungsional termasuk skizofrenia, gangguan mood dan afek, gangguan waham dan sebagainya. Demikian banyaknya jenis gangguan jiwa dan beragam manusia berbeda akibat reaksi secara holistik baik fisik, psikis dan sosial. Sehingga penyebab gangguan jiwa adalah multifaktorial atau multidimensional. Bahkan hingga saat ini belum ada kesepahaman definisi tentang Gangguan Jiwa.

Seseorang dikatakan mengalami gangguan jiwa bila terdapat gangguan pada unsur psikis berupa pikiran, perasaan, perilaku, dan dapat disertai gangguan fisik dan sosial. Penyebab gangguan jiwa biasanya tidak tunggal tapi multiple.

Berbagai penyebab gangguan jiwa, baik fisik, psikis dan sosial sekaligus sebagai penyebab yang saling mempengaruhi. Sehingga dalam membuat diagnosa biasanya dibuat diagnosa multiaksial (multifaktorial/multidimensional) seperti yang digunakan pada Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ) yang mengacu kepada The Diagnosis And Statistical Manual of Mental Disorder (DSM).

Tanda dan gejala gangguan jiwa sangat bervariasi, tergantung jenis gangguann jiwa yang terjadi. Secara umum, biasanya, beberapa gejala yang muncul bersamaan, gejala itu membuat dirinya lain daripada sebelumnya atau bertahan sampai jangka waktu yang cukup lama dan muncul terus-menerus.

Berbagai penyakit jiwa juga dapat dikenali melalui tanda dan gejala fisik, psikis dan sosial. Banyak sekali gejala kejiwaan seperti sedih, marah, cemas, yang langsung dapat mempengaruhi kondisi fisik orang yang bersangkutan. Manifestasi ini yang seringkali disebut sebagai psikosomatis atau reaksi psikofisiologi, yaitu gangguan jiwa yang dapat menimbulkan manifestasi pada gangguan tubuh.

Penyakit-penyakit yang biasanya dapat terpicu oleh reaksi psikosomatis. antara lain: sakit kepala, insomnia, gangguan saluran cerna, diare atau asma. Gejala yang mungkin timbul adalah sakit kepala, nyeri perut, mual, muntah, sulit makan, diare, batuk, atau nafas sesak. Bila dikaitkan dengan psikosomatis, biasanya gejalanya berlangsung lama atau lebih dari dua minggu hilang timbul.

Sedangkan gejala psikis yang bisa muncul adalah persepsi yang kacau, pemikiran yang menyimpang dan kacau, ekpresi dari emosi yang keliru, depresi macam-macam pengekspresian emosi, reaksi emosi yang tidak tepat, aktivitas motorik yang tidak normal, atau aktivitas yang tidak terkendalikan.

Selain itu terdapat gejala dan tanda-tanda lain yang dapat terjadi pada penderita gangguanj jiwa. Tanda-tanda lain tersebut seringkali dapat diketemukan dalam kehidupan sehari-hari dari orang-orang yang normal. Di antaranya adalah disorientasi; dimana seorang bisa tidak tahu di mana ia berada, siapa dirinya, hari apa sekarang.

Tanda lain adalah menarik diri dari pertemuan-pertemuan dengan orang-orang lain, kecurigaan dan kepekaan yang berlebih-lebihan, rangsangan dan kebutuhan seksual yang tidak normal atau kekanak-kanakan. Tanda dan gejala gangguan sosial juga dapat menyertai gangguan jiwa. Biasanya yang disebut abnormal oleh karena ia menunjukkan tingkah-laku, sikap, cara berpikir yang tidak cocok dengan standar normal masyarakat atau lingkungan di mana ia hidup.

Manusia adalah makhluk sosial, yang mempunyai kebutuhan-kebutuhan sosial dan ingin menjadi bagian integral lingkungannya. Karena itu normal jika ia selalu cenderung untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Baru bisa mengenali adanya gejala abnormal, jikalau orang yang bersangkutan secara tidak sadar bertingkah laku yang tidak sesuai dengan standar normal masyarakat, yang secara integral ia sendiri menjadi bagian di dalamnya.

Gejala-gejala penyakit jiwa dapat pula mengekspresikan diri secara spiritual, misalnya gagasan perasaan berdosa yang tidak terampunkan, fanatisme tinggi atau malah sebaliknya keragu-raguan yang terus-menerus.

(Copyright © Majalah FORUM KEADILAN: No. 01/27 April-03 Mei 2009)

*)Dokter di Rumah Sakit Bunda, Jakarta)

Selasa, 12 Mei 2009

Menggunakan Akal Sehat

Oleh Jon Runtu Ropelemba*

Rasul Paulus berkata “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Di sini Paulus menekankan pentingnya suatu pengertian yang baik untuk mengerti atau memahami “Kehendak Tuhan”. Dengan kata lain, setiap orang harus menggunakan “Akal Sehat” agar dapat mengerti kehendak Tuhan dalam hidupnya.

Salah satu musuh Alkitab yang paling berbahaya adalah pelajar Alkitab yang menggunakan akal sehat/pemikiran yang miskin. Kita perlu sadari bahwa Kitab Suci berbeda dengan buku-buku yang lain, sebab Alkitab diwahyukan Allah.

Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pemahaman yang tepat dan benar dalam memahaminya, sehingga seseorang itu dapat melakukan perintah Allah dengan benar dan jiwanya selamat. Alkitab harus dipahami dengan menggunakan logika dan akal sehat sebagaimana buku-buku atau tulisan-tulisan yang lain.

Kadang-kadang pemikiran manusia itu disalahgunakan dan seringkali hal itu menjadi dewa seseorang. Dengan kata lain pemikiran itu digunakan sebagai satu-satunya patokan dan mengabaikan faktor yang lainnya.

Sekarang, bagaimanakah penggunaan pemikiran yang baik dalam subjek ini? Melalui daya pemikiran, kita dapat:

(1) Menentukan berdasarkan bukti-bukti bahwa Alkitab adalah Firman Allah,

(2) Gunakan daya pikir ini untuk mengerti Firman Allah.

Jangan pernah menggunakan pemikiran untuk menciptakan suatu agama, tetapi gambarkan agama itu melalui pemikiran kita dalam bentuk yang sebenarnya.

APAKAH PEMIKIRAN YANG BAIK? PIKIRAN SUKAR DIJELASKAN

Pada dasarnya pemikiran yang baik adalah suatu aktifitas mental dimana seseorang akan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk melihat bagaimana fakta-fakta itu saling berhubungan, kemudian mengambil gambarannya yang benar dan akhirnya dapat mengambil kesimpulan yang benar.

Kita perlu melakukan hal ini dalam kehidupan kita setiap hari. Jika kita melanggar prinsip-prinsip logika dan akal sehat dalam politik, bisnis atau dalam hal-hal lainnya, maka akan terjadi suatu kekacauan yang dapat mengakibatkan kehancuran. Hal yang sama akan terjadi dalam kita mempelajari Alkitab. Maka dari itu, sangat penting bagi seorang pelajar untuk belajar seni akal sehat.

Firman Allah berkali-kali mengatakan bahwa manusia gampang tertipu, Matius 24:5; 1 Korintus 3:18; 2 Petrus 2:1-3; Epesus 5:6; 2 Tesalonika 2:3. Untuk itulah manusia itu perlu berhati-hati.

Seni pemikiran yang baik adalah suatu kualifikasi alami dan harus dipahami dan dikembangkan. Itu dapat dilakukan dengan meluangkan waktu/kesempatan untuk mempelajari aturan-aturan logika, kemudian melakukan observasi dan disiplin pribadi. Namun seseorang itu harus rendah hati dan mau belajar. Beberapa tindakan ini akan banyak membantu dalam memahami dan mengembangkan seni pemikiran yang baik.

Ingat sebuah pepatah yang mengatakan: Jangan terlalu sibuk memotong kayu dengan gergaji sehingga kamu tidak ada waktu untuk mengasah mata gergaji itu. Pertimbangan yang baik dapat bertumbuh; karena itu, dia perlu diperhatikan dan dipelihara.

KELEMAHAN-KELEMAHAN PEMIKIRAN

Pemikiran mempunyai beberapa kelemahan, dan itu merusak pemikiran itu sendiri. Seringkali Firman Allah itu disalahgunakan, diabaikan, disalahmengerti dan salah mengajarkannya. Nah, ini semua diakibatkan oleh pemikiran rusak seseorang akibat kelemahan-kelemahan dari pikiran itu sendiri. Mari kita lihat beberapa kelemahan-kelemahan pemikiran yang sering menjangkiti pemikiran manusia.

1. Prejudice

Prejudice adalah suatu sikap prasangka dan memihak, yang kadang-kadang merasuki pikiran manusia; tidak ada seseorang yang lepas dari sikap prejudis. Untuk bisa bebas dari sikap prejudis seseorang itu perlu memiliki suatu keinginan yang murni untuk sampai pada kebenaran Firman Allah yang utuh tanpa terpengaruh dengan opini atau diganggu oleh perasaan suka atau tidak suka.

Mengapa seseorang itu bersikap prejudis? Karena terlalu banyak terpengaruh dengan pengalaman pribadi. Cenderung kepada ide-ide yang difavoritkan, seseorang memiliki keinginan yang kurang puas dan sering dikendalikan perasaan.

2. Preconceived Opinion (Pendapat yang Terbentuk Sebelumnya)

Sikap ini berasal dari praktek menganggap sesuatu itu ada atau berasumsi bahwa sesuatu ada meski tanpa bukti dan analisa yang cukup. Kadangkala kita sudah membuat kesimpulan sebelum melihat fakta-fakta dalam Alkitab. Ini praktek yang berbahaya. Hal ini sering mengakibatkan munculnya ide-ide yang salah/palsu, serta merusak pemikiran/sikap seorang pelajar Alkitab.

Hal ini juga menyebabkan sebagian orang membuat ide bahwa Alkitab sebagai pembuktian belaka dan bukan sebagai pengujian. Ini berakibat seseorang mencomot beberapa ayat Alkitab dalam mempertahankan opininya dan mengabaikan ayat-ayat yang kontradiks dengan pendapatnya.

Sikap demikian akan menjadikan Alkitab sebagai cermin dari pandangan-pandangan seseorang seperti halnya orang-orang Yahudi pada zaman Yesus. Berdasarkan opini mereka, yang telah terbentuk sebelumnya, mereka sudah membayangkan seperti apa Mesias itu. Jadi ketika Yesus datang dan menyatakan bahwa Dia adalah Mesias, mereka mengambil ayat-ayat Alkitab untuk menyokong ide mereka tentang Yesus dan tidak mempelajari ayat-ayat itu.

3. Wishful Thinking (Jalan Pikiran yang Lebih Berdasarkan Keinginan daripada Fakta)

Sebagian orang sangat menghendaki sesuatu itu benar supaya mereka percaya dengan pasti bahwa itu benar. Semua orang memiliki keinginan, kehendak dan cinta dan juga perasaan. Tetapi mengharapkan sesuatu itu benar dan bahkan mengulangi beberapa kali tidak lantas akan membuat sesuatu itu benar.

Hal ini sama seperti seseorang yang mengharapkan kekasihnya yang telah mati, dan dengan kebaikan-kebaikan yang pernah dia lakukan, lalu dia berharap kekasihnya selamat padahal sang kekasih tidak pernah menaati Injil.

4. Generalization (Penyamarataan)

Ini adalah suatu kesalahan dalam menarik kesimpulan yang cepat dari suatu peristiwa tertentu. Hampir setiap hari hal yang demikian dilakukan. Contohnya, mari kita lihat 1 Timotius 5:23, Paulus berkata, “...minumlah sedikit anggur...” Tanpa mempertimbangkan ayat-ayat ini dan ayat lain yang berhubungan dengan konteks, seseorang langsung dengan cepat menarik kesimpulan dan membuat ajarannya bahwa kita bisa minum-minuman keras.

5. Appeals to Human Authority (Berpegang pada Otoritas Manusia)

Ini adalah suatu praktek mengagungkan nama atau otoritas orang yang populer tanpa menghiraukan kebenaran dan kondisi untuk mempertahankan posisinya. Biasanya sikap ini berat sebelah. Mungkin kita pernah mendengar seseorang yang mempertahankan posisinya dengan menggunakan kata pamungkas, “Ilmu pengetahuan berkata demikian ....” Atau dalam keagamaan, untuk mempertahankan opininya seseorang berkata, “.... pendeta/penginjil saya berkata demikian...”, “Itulah yang diajarkan gereja saya ...” Tidak seorang pun di dunia ini yang bisa menjadi final otoritas selain Allah.

6. Appeals to The Popular (Berpegang pada Kepopuleran)

Ini adalah suatu motifasi yang dikenal dengan istilah “ikut-ikutan”. Kadang-kadang kita mempraktekkan hal ini dalam mempelajari Alkitab. Namun jangan pernah takut untuk berdiri sendiri, berdirilah bagi kebenaran dan jangan terpengaruh.

Akal sehat adalah suatu ability untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Tanpa akal sehat, akan sulit bagi kita untuk membedakan yang salah dan benar. Akal sehat juga adalah suatu kecakapan alami yang ada dalam setiap diri manusia, yang berkembang dengan baik jika dilatih dan dipergunakan dengan baik pula.

Seseorang pernah berkata, “Jika seseorang kurang pengetahuan, dia bisa mendapatkannya dari temannya. Jika seseorang kurang beragama, dia bisa menanyakannya, tetapi jika seseorang tidak berakal sehat, maka dia akan terkatung-katung dalam hidupnya.”

Pernyataaan di atas menunjukkan bahwa akal sehat memegang peranan penting dalam setiap aspek kehidupan manusia. Agar akal sehat kita berkembang dengan baik, hindarilah hal-hal yang dapat melemahkannya. (Sabda Hidup-Jurnal Rohani, Copyright © AASBS, Lampung: 2008)

(Note: telah diedit seperlunya, tidak merubah arti)

Sumber:

Palmer, Robert. How To Understand The Bible, Standard Publishing Cincinnati, Ohio- Sebagai sumber utama penulisan.

*)Penulis adalah salah seorang penginjil di

Gereja Sidang Jemaat Kristus Indonesia