Minggu, 29 Maret 2009

Bermain Judi

Oleh : Lindell Mitchell
Alih Bahasa : Marolop Simatupang
Ketika Anda menentang praktek judi, Anda akan dituduh “coba mengatur moralitas!” dan membuat orang mengaku salah. Bagaimanapun, legislasi menunjukkan sikap moralitas pembuatnya. “Namun kamu berusaha memaksakan keyakinanmu pada orang lain,” teriak yang lainnya. “Tepat sekali,” jawab saya. Keyakinan saya mengenai pokok persoalan penting ini merefleksikan kebenaran, dan kebenaran akan selalu menang.
Menjadi sebuah pokok persoalan moral ketika pemerintah memutuskan untuk menambah pendapatan negara dari suatu aktifitas yang lebih banyak merugikan orang miskin daripada orang kaya. Menjadi sebuah pokok masalah yang layak diangkat ke permukaan ketika pemerintah mendorong warganya berpartisapasi dalam suatu bentuk pengumpulan pajak dari kegiatan imoral dan tidak tepat guna.
Juga menjadi sebuah isu moral yang mesti dikritisi ketika pemerintah melegalkan suatu bentuk usaha yang dilindungi untuk menarik pajak dan mendapatkan lebih banyak lagi dana dari orang-orang miskin, yang diklaim dipakai untuk menolong. Jangan tertipu oleh tabir asap, Anda didorong untuk tidak terlibat dalam permainan judi, mempromosikan, atau mendukung perbuatan jahat itu.
Bisnis Judi Dibangun di Atas Kebohongan
Orang-orang yang menyokong perjudian menjanjikan rejeki nomplok yang tak pernah nyata. Judi merampok orang-orang miskin untuk “mensubsidi” orang kaya. Masih ingat ketika kita, penduduk Texas, diminta untuk membeli lotere negara? Katanya dana hasil penjualan lotere itu akan dipakai untuk mendirikan sekolah-sekolah. Mana buktinya?
Ingat kembali, mengapa bentuk judi lotere baru-baru ini diperbaharui? Karena orang-orang telah mencampakkan lotere itu, mereka sadar mereka sebenarnya tak punya kesempatan untuk menang. Judi kasino tidak menghasilkan ekonomi durian runtuh bagi Atlantic City, New Jersey; Tunica, Mississippi, dll. Tidak juga memberikan ekonomi yang jatuh dari langit di masyarakat di mana Anda tinggal. Judi hanya akan memperkaya orang-orang yang menjalankan bisnis haram itu. Bermain judi hanya akan menimbulkan banyak masalah, mudarat yang lebih berat daripada manfaat finansialnya.
Kebohongan kedua adalah judi merupakan suatu industri kokoh yang menyediakan diversifikasi ekonomi. Tetapi sesungguhnya, judi adalah suatu bisnis yang penuh dengan intrik dan ketidak-jujuran. Judi bukanlah suatu industri dalam pengertian yang sebenarnya. Judi tidak menghasilkan produk yang sah. Tidak juga memberikan pelayanan terhormat. Lebih besar kesempatannya Anda disambar geledek daripada memenangkan hadian utama di meja judi kasino. Judi lotere tidak memberikan apa yang dijanjikan. Pajuan kuda, dan pacuan anjing, tidak memberikan hasil pada janji-janji muluk mereka. Setali tiga uang dengan kasino.
Kebohongan ketiga adalah bahwa bermain judi tidak mengambil uang dari orang-orang miskin. Ringkasan Laporan Dalam sebuah Penelitian Parlemen tentang Melegalkan Judi menyebutkan, “Judi adalah suatu bisnis yang bersifat parasit, yang sama sekali tidak produktif, di mana dalam aktifitas perjudian itu cenderung tidak menciptakan orang kaya baru, tapi hanya membagi-bagi lagi kekayaan dari kelompok-kelompok orang berpenghasilan rendah kepada kelompok-kelompok berpenghasilan tinggi.” (Congressional Research Service Report No. 83-84E, Updated, April 22, 1983). Tidak ada yang berubah dalam bisnis judi. Itu masih merupakan bisnis bersifat pasilan, atau benalu. Judi masih mengenakan pajak di atas pengharapan orang-orang.
Kebohongan ke-empat, bahwa judi semata-mata hanya menampung keinginan para maniak judi. Tapi sesungguhnya, melegalkan bisnis kasino berarti negara menyetujui dan turut mengembangkan judi. Ketika pemerintah terlibat, masuk ke dalam bisnis-bisnis permainan yang tidak murni dalam hal moral, mereka sebenarnya sedang mempromosikan kegiatan-kegiatan yang paling buruk, bukan yang terbaik kepada warganya.
Bermain Judi Melanggar Hukum Ilahi
Berjudi melanggar prinsip-prinsip kasih alkitabiah. Yesus bersabda, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat. 7:12).
Tak ada orang berjudi agar orang lain menang. Orang yang berjudi berharap lawannya kalah. Semakin banyak lawannya kalah semakin banyaklah ia menang. Sementara sikap mementingkan diri sendiri, tidak peduli dengan orang lain bertentangan dengan prinsip-prinsip kasih alkitabiah.
Rasul Paulus berkata, “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filp. 2:3, 4). Ketika keuntungan pribadi didapat di atas kerugian dan kekalahan orang lain, prinsip-prinsip kasih benar-benar ditabrak.
Berjudi juga melanggar hukum Ilahi mengenai hukum bekerja dan mencari nafkah hidup. Allah telah memberikan jalan yang baik untuk mencari nafkah hidup. Paulus berkata, “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan … Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.” (2 Tes. 3:10, 12).
Orang-orang yang mendukung perjudian melanggar prinsip-prinsip yang baik tersebut. Mereka hanya mendorong suatu sikap “mendapatkan sesuatu tanpa mengeluarkan apa pun.” Bisnis judi didirikan di atas keserakahan dan bukan produktifitas yang positif dan pelayanan. Bermain judi melanggar prinsip-prinsip penatalayanan alkitabiah dan pertanggungjawaban ekonomis. Segala sesuatunya milik Tuhan. Ia mempercayakan harta milik-Nya kepada para penatalayan-Nya. Paulus berkata, “Bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.” (1 Kor. 10:26)
Karena Tuhan mempercayakan harta milik-Nya kepada manusia, maka itu harus digunakan untuk hal-hal yang berguna, positif dan sah, seperti: kebutuhan-kebutuhan hidup utama sehari-hari (2 Tes. 3:10); menafkahi keluarga, (1 Tim. 5:8); mendukung pekerjaan Tuhan (1 Kor. 16:1, 2); membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan (Ef. 4:28); membayar pajak (Mat. 22:21). Sumber-sumber alam dipercayakan kepada manusia bukan untuk dihambur-hamburkan!
Bermain Judi Mendorong Keserakahan
Yesus memperingatkan, “... dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” (Lukas 12:15). Namun orang-orang yang pro-judi, didorong oleh kepentingan pribadi, menjadikan kecenderungan sifat rakus orang lain sebagai alat untuk menipu mereka. Mereka berusaha meyakinkan orang-orang bahwa mereka “bisa mendapatkan sesuatu tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.”
Judi penuh dengan intrik-tipu-daya dan ketidakjujuran. Orang-orang yang aktif dan mendorong bisnis judi coba memusatkan perhatian orang pada betapa enaknya bila kamu memenangkan hadiah utama. Namun mereka tidak pernah memberitahukan kalau judi itu telah diatur sedemikian rupa dan dilakukan dengan curang agar tiap-tiap orang percaya dan mau mempertaruhkan sembilan puluh persen (90%) hasil pencaharian atau income mereka [Bingo]. Namun itu malah menelan pendapatan keluarga yang mungkin bisa dipakai untuk usaha atau bisnis halal lainnya.
Bermain judi itu salah karena akibat yang ditimbulkannya. “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.” (Mat. 7:17-18).
Dengan sederhana bisa dibuat daftar akibat-akibat buruk karena bermain judi, seperti: penyalahgunaan narkoba, prostitusi, memperlakukan anak dengan kejam, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), rumah tangga berantakan, ditimpa utang, terlibat dalam tindak kriminal, kecanduan, korupsi, dll. Tidak sulit untuk melihat bahwa judi tidak menghasilkan apa pun yang baik bagi masyarakat umum.
Judi merusak nilai-nilai moral, memperolok-olok prinsip kerja, membuat orang terlibat kejahatan finansial, menculik anak-anak, diperbudak ketagihan judi, melawan pemerintah, dan meracuni apa pun yang disentuh oleh judi.
Alkitab mendorong orang Kristen untuk menolak janji-janji palsu judi dan berkata tidak untuk judi. Orang berhikmat berkata, “Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan.” (Amsal 16:8). (Firm Foundation: Vol. 116, No. 6, Juni, 2001: Damon, TX).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar atau Kritik Membangun