Minggu, 29 Maret 2009

Humor di Tengah Kepenatan Sosial

Oleh Marolop Simatupang
Rasanya kepenatan selalu mendera setiap hari. Persoalan datang silih berganti tanpa henti-hentinya. Persoalan yang satu belum tuntas sudah muncul persoalan yang lain, dalam bentuk yang lain, kadang lebih berat. Persoalan-persoalan itu terkadang kian menyesakkan.
Bukan hanya beban hidup-sosial, tapi juga beragam informasi negatif lewat media massa cetak dan elektronik yang menjejali kita, semakin menghimpit kehidupan. Krisis finansial global, resesi ekonomi yang selalu mengancam. Harga-harga kebutuhan pokok tidak stabil. Para pekerja khususnya di sektor industri kerajinan dan tekstil terancam PHK. Bencana alam seperti banjir, kekeringan, kerusuhan di berbagai daerah pascapilkada membuat beban masyarakat semakin besar.
Dalam situasi seperti ini dibutuhkan jalan keluar guna menjaga psikologis, akal sehat dan pikiran tidak kacau. Pelbagai persoalan tersebut tak ayal membuat hidup makin penat. Dalam situasi seperti ini kita butuh keseimbangan agar tetap berakal sehat, tetap berpikiran jernih dalam menyikapi semua yang terjadi, untuk menjaga kewarasan. Maka solusi yang tepat untuk itu adalah humor.
Mencetuskan humor-humor segar bisa melepaskan diri sejenak dari berbagai persoalan yang menghimpit, keluar dari ketegangan yang mengekang, melepaskan ketegangan lewat humor. Sebab humor bisa menjadi pencair yang bagus dalam suasana ketegangan. Bisa juga membuat pikiran rileks sejenak, yang olehnya kemudian muncul ide brilian untuk memecahkan masalah.
Humor biasanya muncul dalam bentuk narasi. Namun tidak melulu dalam bentuk cerita-guyonan. Bisa juga dalam bentuk lukisan, di mana rasa humor dan kelucuan dibangkitkan lewat deformasi bentuk pada objek, manusia maupun hewan. Humor seperti ini sering muncul dalam bentuk karikatur di berbagai media cetak dan elektronik. Gambar-gambar deformatif semacam ini bisa mencairkan pikiran sejenak. Membuat kita tertawa dalam hati, memancing senyum.
Terkadang humor muncul sebagai bentuk aspirasi ketidakberdayaan untuk menetralisasi suasana. Di sini humor berfungsi sebagai daya tahan psikologis seseorang dalam menghadapi sebuah situasi, seperti guyonan yang pernah dipopulerkan Gus Dur.
Pada tahun 1960-an seorang supir taksi di Jakarta mengantarkan penumpang asal Amerika Serikat (AS). Sang penumpang itu kerap bertanya tentang gedung-gedung yang dilewati selama perjalanan.
“Itu gedung apa?” tanya penumpang itu.
“Oh itu Sarinah, pusat perbelanjaan termodern saat ini. Dibangun dalam empat tahun,” jawabnya.
“Wah, kalau di AS hanya butuh dua tahun membangun gedung seperti itu. Kalau yang itu gedung apa?” timpal sang penumpang.
“Itu Hotel Indonesia, dibangun hanya dalam waktu dua tahun,” jawab sopir itu lebih lugas. “Kalau di AS, gedung seperti itu pasti sudah berdiri hanya dalam waktu satu tahun,” lagi-lagi, bule itu menimpali dengan agak pongah. Sang sopir mulai kesal.
Ketika melewati Stadion Senayan kembali warga AS itu bertanya tentang bangunan yang dilewati taksi itu.
Kali ini sang sopir menjawab agak kalem, “Wah, saya tidak tahu. Kemarin sih belum ada!”
Terkadang humor muncul untuk menyindir tanpa menghakimi. Walau sekedar humor, yang muncul lewat pelbagai media, entah berasal dari siapa, namun layak juga untuk dicermati. Seperti humor “Kisah di Neraka” yang pernah saya baca dalam sebuah majalah musik berikut ini.
Seorang warga Indonesia, koruptor kakap, meninggal dunia. Kemudian ia diadili di pengadilan korupsi internasional. Di sana sudah dikumpulkan para koruptor dari berbagai negara. Sebelum sidang, para terdakwa dikumpulkan di sebuah ruangan. Di ruangan itu terdapat beberapa jam dinding yang kecepatan putaran jamnya berbeda-beda, tergantung tingkat korupsi di negara terdakwa.
Para terdakawa itu melihat-lihat, ada jam dari Nigeria yang putaran jamnya sedikit cepat. Berarti korupsi di negara itu tidak parah. Ada jam dari Filipina, putarannya sedikit lebih cepat. Ada jam dari Kamboja, lebih cepat lagi, dari Etiopia, makin cepat. Namun mereka heran koq enggak ada jam dari Indonesia.
Akhirnya mereka bertanya kepada seorang hakim. “Jam dari Indonesia tidak ada?” “Oh, ada koq,” jawabnya, kalem, “tapi kami taruh di gudang, sebab di sana lebih efektif dijadikan kipas angin!” Ehm..!
Menurut Steven R. Covey (Tujuh Kebiasaan Manusia yang Efektif: 1997), manusia mempunyai empat plus satu bakat unik, (1) Kesadaran Diri, (2) Hati nurani, (3) Imajinasi, (4) Kehendak Diri, plus satu yaitu humor. Kesadaran diri dan imajinasi kreatif itulah yang menghubungkan segala hal dengan cara-cara baru dan lucu sehingga tidak terus menerus tercekik, tegang atau tenggelam.
Dalam buku “Menulis di Media Massa GAMPANG!” (2005) dikatakan selain lima indera yang sudah dimiliki agar lengkap orang memerlukan indera keenam: humor.
Terkadang datangnya sebuah humor tidak diketahui asalnya dari mana. Namun humor-humor itu tiba-tiba muncul dalam pelbagai jalan, dan disebarkan lewat pelbagai media. Tapi ada juga humor yang muncul atau dipopulerkan oleh seseorang, seperti Gus Dur.
Bagi sebagian orang, guyonan yang kerap dilontarkan Gus Dur, terlebih saat masih menjabat presiden RI, mencerminkan ketidakseriusannya dalam memerintah, menggampangkan persoalan. Namun bagi sebagian kalangan, sense of humor yang tinggi itu justru menunjukkan spiritual intelligence (SI) yang tinggi dari seseorang. Bukan hanya bagi orang yang mempopulerkan humor itu tapi juga yang mendengarkannya.
Kalau tidak ada respon atau tawa sama sekali dari orang yang mendengarkan humor yang menggelikan hati, yang mengocok perut, maka bisa dikatakan inteligensinya mungkin agak lelet. Bahasa gaulnya telmi. Namun bagi orang yang meresponnya dengan tawa, minimal senyum, artinya inteligensinya tinggi. Cepat nangkap.
Terkadang humor dilontarkan dalam bentuk pertanyaan-guyonan yang membuat kita keluar sesaat dari jalur, tapi siapa peduli?
“Apa bedanya naik mobil sama naik motor?”
“Kalau naik mobil panas enggak kepanasan, hujan enggak kehujanan. Tapi kalau naik motor panas enggak kehujanan, hujan enggak kepanasan!”
Dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat juga kadang terselip humor. Meski awalnya bukan sebuah humor, namun dengan dibumbui sedikit ramuan guyonan menjadikannya humor memancing tawa. Seperti humor berikut ini.
Seorang pemuda dengan sedikit agak ketakutan menuntun seekor kambing bertemu dengan Pak RT di tengah jalan.
“Pak RT, maaf, saya baru saja nyolong kambing. Apa yang harus saya lakukan, Pak?” ngakunya dengan terus terang.
“Astaga! Sekarang juga kamu balikin kambing itu kepada pemiliknya, dan minta pengampunan dari Yang Mahakuasa,” jawab Pak RT, tegas.
“Tapi gimana kalau pemiliknya tidak mau?” tanya pemuda itu.
“Kamu ceritakan dengan jujur, kamu minta maaf pada pemiliknya!”
“Tapi, Pak, nanti kalau tidak mau menerima, gimana?” tanya pemuda, lagi.
“Coba aja dulu.”
“Nanti kalau tetap tidak mau?”
“Kalau begitu kamu bawa aja kambing itu ke rumahmu, anggap aja rezekimu,” kata Pak RT itu. Sampai di rumah, Pak RT kaget setengah mati, kambing kesayangan satu-satunya hilang! (Dari sebuah koran harian umum tetrbitan Jakarta)
Patut dicatat humor dan tawa bisa menjadi pencair yang bagus dalam suasan ketegangan. Sebab, seperti dikatakan, bahwa tawa (juga senyum) adalah penghasil endorfin dan zat kimia pengubah suasana hati lainnya dalam otak yang memberikan suatu kenyamanan dan kelegaan dari rasa sakit. Dan salah satu obat yang konon sangat manjur untuk mengobati ‘penyakit’ adalah canda-tawa-lelucon-humor.
Sang Khalik sungguh Mahakuasa sebab Ia menciptakan dalam struktur raga manusia sebuah zat, enzim pemicu kegirangan: endorfin. Enzim pelepas ketegangan ini dilepaskan oleh otak manakala orang tertawa, paling tidak tersenyum, lebih-lebih terbahak-bahak. Itu sebabnya para dokter dianjurkan untuk, paling tidak, memiliki sedikit rasa humor demi percepatan proses penyembuhan pasien mereka.
Tapi hendaknya diperhatikan bahwa humor sejati menggunakan hati nurani dan imajinasi kreatif sehingga membangkitkan semangat, tidak dalam kepalsuan sinisme. Hati-hati juga dengan humor yang setingnya melulu di ranjang, atau yang hanya mengeksplorasi unsur seks. Ini bukannya menghasilkan enzim endorfin melainkan justru memicu libido. (Dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar atau Kritik Membangun