Minggu, 29 Maret 2009

Metode Perjumpaan Terakhir

Oleh Marolop Simatupang
Bayangkan Anda sedang bersama dengan teman Anda, atau keluarga Anda। Teman atau kerabat Anda itu besok akan pergi melaksanakan tugas di negeri yang jauh dalam waktu yang sangat lama। Berarti malam ini malam terakhir bersamanya। Apa yang akan Anda lakukan terhadap teman atau kerabat Anda itu?

Kemudian Anda mengantarnya ke terminal, ke stasiun, atau ke bandara। Selama perjalanan, atau saat menunggu keberangkatan, bagaimana sikap Anda terhadapnya? Biasanya, sikap dan cara pergaulan Anda berubah drastis। Anda pasti berusaha menunjukkan perhatian dan kasih sayang Anda kepadanya dengan lebih baik। Paling tidak berusaha menghadirkan kesan yang indah dan hangat terhadapnya. Inilah yang disebut dengan metode perjumpaan terakhir, (Yusuf Luxori, 2001:156). Mengapa perasaan, tindakan dan kesan seperti ini tidak bisa tejadi setiap hari? Bukan hanya pada saat perjumpaan terakhir saja?
Bila ada teman atau kerabat kita yang akan pergi jauh, khususnya jika itu adalah pertemuan terakhir kita dengannya, biasanya kita akan memberikan pelayanan terbaik, kesan yang indah dan kehangatan persahabatan yang tulus। Kita berusaha menghadirkan perasaan-perasaan positif terhadapnya। Membangun suasana positif, sikap yang रामः.
Coba ingat ketika Anda merasa kesal, marah atau sebal terhadap seseorang dalam suatu perjumpaan terakhir। Apakah Anda menginginkan pertemuan dengannya segera? Atau ingin agar perjumpaan terakhir itu segera berakhir?

Huh... kalau saja setiap orang menunjukkan metode perjumpaan terakhir setiap hari। Atmosfernya akan lebih hangat, intim dan romantis, bukan? Namun yang kerap terjadi malah sebaliknya. Sering kita bertemu atau bergaul dengan orang yang selalu bermuka cembetot (papaya face). Atau jangan-jangan kita sendiri yang sering seperti itu?

Dengan berusaha mempraktekkan metode perjumpaan terakhir kepada konco-konco kita, keluarga, siapa aja, berusaha menunjukkan persahabatan yang positif, bukankah manfaatnya akan diterima kedua belah pihak? Kita meninggalkan kesan yang indah, pengaruh yang baik kepada orang lain, di sisi lain kita tebantu dan terdorong untuk tumbuh semakin dewasa। Bukan cuma itu saja, hal ini juga bisa memperluas jaringan kerja kita. Semakin luas network dan pergaulan kita, semakin besar profit yang kita dapat. Setuju?

Tentu Anda pernah dengar “The Golden Rule,” bukan? “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang lain perbuat kepada kamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka।” Itulah Hukum Emas!

Kita ingin orang lain menunjukkan ketulusan dalam persahabatan, kehangatan, kesan yang baik। Kita ingin mereka menghadirkan perasaan-perasaan positif dan semangat optimisme terhadap kita. Tapi mestinya kita juga, kalau bisa lebih dulu, menghadirkan dan menunjukkan hal-hal positif itu terhadap mereka. Ingat prinsip simbiotis?

Steven R Covey (Tujuh Kebiasaan Manusia yang Paling Efektif, 1997:201) menyebutnya dengan prinsip berpikir Menang/Menang। Kemenangan jangka panjang bagi kedua belah pihak. Inilah kerangka pikiran yang harus selalu terpatri dalam hati dan pikiran kita dalam berinteraksi dengan sesama. Ini akan mempengaruhi kualitas harga diri kita, orang lain, yang pada akhirnya kualitas hubungan kita dengan orang lain.

Prinsip ini sangat fundamental untuk keberhasilan pada semua lini interaksi kita। Ini dimulai dengan karakter, bergerak ke arah hubungan yang baik, yang dipelihara dalam atmosfer yang kondusif, dan tentu ini memerlukan proses. Prosesnya? Ya itu tadi, kehangatan yang tulus dalam persahabatan, kesan yang baik, berusaha menghadirkan perasaan-perasaan positif. Metode perjumpaan terakhir!

Jika kita ingin menghadirkan kemenangan jangka panjang, berinteraksi secara efektif, menunjukkan metode perjumpaan terakhir harus dilakukan dengan hati yang tulus. Bila kita menggunakan teknik-teknik tertentu, manipulatif, orang akan merasakan sikap muka dua.
Ingatlah bahwa karakter kita terus-menerus memancar, berkomunikasi। Siapa kita sesungguhnya terpancar nyata, mengalir dengan sendirinya dari karakter kita. Tingkah laku aktual sehari-hari kita berbicara, memberitahukan kepada orang siapa kita sebenarnya.

Jika hidup kita berjalan panas dan dingin, jika kualitas interaksi pribadi kita angin-anginan, bila sehari-hari kita sinis, namun pada saat perjumpaan terakhir kita baik hati orang akan tahu baik hati kita itu hanya akting। Tidak murni. Praktekkanlah metode perjumpaan terakhir dalam interaksi setiap hari tanpa harus menunggu saat perjumpaan terakhir, profitabilitasnya sangat luar biasa!

Kehangatan yang tulus dalam pergaulan, kesan yang indah, positif dan mendalam memberikan dampak yang memesona jiwa dan melahirkan kepercayaan di dalam jiwa tersebut। Kehidupan sehari-hari kita bisa menjadi lebih bahagia tergantung pada usaha kita, kerja keras kita.

Mungkin Anda, dalam waktu yang cukup lama, tak akan berjumpa dengan teman atau keluarga yang Anda antar ke terminal, stasiun atau ke bandara tadi. Atau sebaliknya Anda sendiri yang pergi ke tempat jauh. Namun dengan menunjukkan metode perjumpaan terakhir ini Anda selalu berjumpa dengannya setiap saat, dalam hati. Cinta dan kasih sayang itu semakin besar. Anda punya kekuatan untuk menunjukkan metode ini. Percayalah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Beri Komentar atau Kritik Membangun