Selasa, 08 Februari 2011

Pembelahan Laut Merah (Menurut Hukum Fisika, Terbukti)



“Angin dari timur yang berhembus kencang dikabarkan membantu terbelahnya Laut Merah oleh Nabi Musa seperti yang tertulis pada Kitab Suci Alkitab,” kata para ilmuwan Amerika Serikat, baru-baru ini.

Simulasi komputer memperlihatkan bagaimana angin dapat menghempaskan air laut sehingga mencapai dasar lautan dan membentuk laguna, kata kelompok peneliti di Badan Nasional Penelitian Atmosfir dan Universitas Colorado di Boulder.

Simulasi tersebut hampir cocok dengan bukti pada rombongan Musa,” kata pemimpin penelitian itu, Carl Drews dari NCAR.

Menurut Carl, berdasarkan ilmu fisika, angin dapat menghempaskan air menjadi sebuah jalur yang aman untuk dilintasi karena sifatnya yang luwes, kemudian kembali mengalir seperti semula.

Menurut tulisan dari Alkitab, Nabi Musa memimpin umat Yahudi keluar dari Mesir atas kejaran Firaun pada ±3.000 tahun yang lalu. Laut Merah saat itu terbelah sementara untuk membantu rombongan Musa melintas dan langsung menutup kembali, menenggelamkan para tentara Firaun yang mengejar mereka.

Drews dan kelompoknya meneliti tentang angin topan yang berasal dari Samudera Pasifik menciptakan badai besar yang dapat menghempaskan air di laut dalam.

Kelompoknya menunjukkan kawasan selatan Laut Mediterania yang diduga menjadi tempat penyeberangan itu, dan memaparkan bentuk tanah yang berbeda karena terbentuk setelahnya serta memicu isu mengenai lautan yang terbelah.

Pemaparan tersebut membutuhkan ben-tuk tapal kuda Sungai Nil dan laguna dangkal di sepanjang garis pantai. Hal ini memperlihatkan angin berkecepatan sekitar 101 kilometer per jam yang ber-hembus selama 12 jam, dapat menghempaskan air pada kedalaman sekitar dua meter.

“Laguna itu memiliki panjang sejauh 3-4 kilometer dan lebar sejauh lima kilometer yang terbelah selama empat jam,” kata mereka di dalam Jurnal Perpustakaan Umum Ilmu Pengetahuan, PloS ONE.

“Masyarakat telah dibuat kagum atas cerita pembelahan laut itu, membayangkan bahwa hal itu terjadi secara nyata,” kata Drew menambahkan bahwa penelitian ini menjelaskan tentang pembelahan laut tersebut berdasarkan hukum fisika. (ANTARA/Reuters).

Note: Peristiwa yang dicatat dalam Alkitab adalah nyata, tidak pernah bertentangan dengan sejarah. Hal ini semakin mengukuhkan dan menguatkan bahwa informasi dalam Alkitab bukanlah hasil karangan manusia, tetapi karya dan atas kehendak Tuhan. (MS)

Zakheus, Badan Pendek Namun Semangat Tinggi


“Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: ‘Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus me-numpang di rumahmu.’... Kata Yesus kepadanya: ‘Hari ini telah terjadi kesela-matan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.’” (Lukas 19:5, 9, 10).

Mengetahui Yesus masuk ke kota Yerikho dan hendak melintasi kota itu, Zakheus, seorang pemungut cukai, berusaha ingin tahu, ingin melihat orang apakah Yesus itu. Tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak sebab badannya pendek.

Maka berlarilah ia mendahului orang banyak itu, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus yang akan lewat di situ. Ia pun dapat melihat Yesus. Yesus mengapresiasi usahanya, dan Ia pun bermaksud hendak menumpang di rumah Zakheus.

Zakheus berhasil mengalahkan rintangan — orang banyak, sebab badannya pendek — agar dapat mengenal Yesus lebih dekat. Zakheus punya determinasi dan kemauan kuat — berlari dan memanjat pohon — agar bisa melihat Sang Penebus itu.

Menunjukkan iman kepada Yesus setiap hari tidak mudah. Menunjukkan kekristenan ke semua orang tidak gampang. Selalu ada rintangan yang merintangi usaha kita. Pertanyaannya bukan apa rintangannya, tapi apakah kita punya kemauan dan kegigihan menunjukkan kekristenan kita setiap hari dan mengalahkan ringangan itu?

Beda orang beda rintangan yang dihadapi. Namun kita semua punya kesamaan, bahwa kita adalah orang Kristen, anggota Jemaat Kristus, yang harus menunjukkan komitmen dan kerja keras kita kepada Tuhan, kepada gereja-Nya. Bahwa kita adalah umat tebusan Allah yang harus menunjukkan determinasi tinggi agar suatu saat kelak berjumpa dengan Yesus di kehidupan yang kekal.

Terkadang kita harus melakukan usaha ekstra keras — seperti Zakheus, yang harus berlari dan memanjat pohon — agar dapat “bertemu” dengan Yesus. Terkadang harus mengeluarkan “energi ekstra” untuk mendapatkan dan mempertahankan keselamatan kita. Kita mungkin harus mengorbankan banyak hal, waktu, tenaga, dan lain-lain agar nama Jemaat Tuhan dikenal dunia.

Sekecil apa pun yang kita kerjakan buat dan dalam nama Tuhan, itu tidak pernah sia-sia. Pengorbanan dan pengabdian kita kepada Tuhan selalu akan berbuah manis. Rasul Paulus menasihatkan, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1 Kor. 15:58).

Zakheus memiliki kemauan tinggi untuk bertemu dengan Yesus. Kemauan tinggi seperti ini yang dibutuhkan jemaat Tuhan saat ini. Kemauan untuk memberitakan Injil, kemauan kuat untuk membangun jemaat-Nya agar bertumbuh, kemauan tinggi untuk mempererat persekutuan dalam jemaat.

Badan Zakheus boleh pendek, tapi semangatnya tinggi. Jumlah anggota jemaat Tuhan mungkin tak seberapa, tapi semangat anggota jemaat Tuhan harus besar dan tak terhingga.*)

Hanya Satu ...


Pikirkanlah akan pentingnya SATU.

SATU - bunyi alarm bohongan dapat mengakibatkan kepanikan.
SATU - anak sekolah nakal bisa membuat satu kelas gaduh.
SATU - langkah salah bisa membuat hidup hancur.
SATU - anak tidak dengar-dengaran pada dapat membuat hati seorang ibu sedih.
SATU - kebohongan bisa merusak reputasi dan karakter seseorang.
SATU - pengunjung dibawa setiap anggota jemaat akan membuat jumlah kehadiran berlipat ganda.
SATU - rupiah tambahan persembahan oleh tiap anggota jemaat membuat
pekerjaan jemaat berkembang dengan baik.
SATU - jiwa ditobatkan oleh tiap SATU anggota jemaat tiap SATU tahun
membuat makin banyak jiwa yang selamat.
SATU - pasal Alkitab dibaca tiap hari akan berdampak posotif terhadap
peningkatan pengetahuan akan Alkitab.

Ingatlah, Anda memang SATU. Namun oleh SATU kehadiran, doa, dan kontribusi Anda mampu membuat kemajuan yang signifikan bagi sebuah jemaat lokal.
(The Green Plain Proclaimer, Green Plain Church of Christ, Kentucky)

Alkitab Itu Lengkap dan Final*


(Oleh Alex Daniel)

Catatan penting apa pun, walaupun benar, belumlah lengkap jika tidak disertai dengan informasi yang cukup. Sebuah pesan yang tidak komplit bukanlah sebuah pesan yang jelas. Manusia mem-butuhkan cerita yang lengkap, semua kebenaran yang penting jika tidak maka dia akan salah langkah.

Kalau kita pelajari isi Alkitab, kita akan menemukan thema agungnya, yaitu hubungan ilahi dengan umat manusia dan itu sudah final. Ada kelengkapan dari setiap rencana Ilahi dan akhir dari sejarah panjang umat manusia, yaitu rencana penebusan yang telah digenapi oleh kematian Kristus di kayu salib. Ada pola yang sempurna untuk kehidupan orang Kristen dan kemuliaan lahir dari keselamatan manusia.

Apalagi yang hendak dikatakan? Tidak ada lagi wahyu, apa lagi kita butuhkan? Tidak ada lagi. Sebab Alkitab itu sudah lengkap dan final. Seseungguhnya, Alkitab itu adalah “... Iman yang sudah sekali bagi sekalian dikaruniakan kepada oranng suci.” (Yudas 3). Jadi, Alkitab itu sudah final dan komplit, kita tidak dapat menambah atau mengurangi.

“Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta.” (Amsal 30:6).

“Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari ki-tab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18-19).

Semua kebenaran yang ingin Allah sampaikan kepada manusia sudah Ia sampaikan. Segala yang perlu diketahui oleh manusia untuk keselamatan sudah tertulis dalam Alkitab.

Paulus menulis, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Tim. 3:15-17).
(*Sabda Hidup Jurnal Rohani, Edisi Januari-Maret 2008)

Hadapi Teguran

“Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.” (Ams. 27:6)

Pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri, siapakah sebenarnya orang yang paling baik terhadap kita? Dan model bagaimanakah orang itu? Mungkin pertanyaan ini dijawab dengan jawaban yang cukup beragam bagi setiap orang. Ada yang mungkin menjawab yang terbaik adalah isteri, sahabat, orangtua, bos, dll. Itu jawaban yang baik, tetapi sebenarnya bukan itu jawaban yang terbaik.

Amsal 27:6 berkata bahwa seorang kawan “memukul” kita dengan tujuan baik. Pukulan tersebut berupa kata-kata keras, teguran yang spontan, hardikan, dll. Sehingga orang yang terbaik yang sebenarnya adalah seseorang yang tulus menegur kita karena kesalahan kita. Memang, mungkin saja kita marah ketika ditegur dengan keras, terluka, namun kita harus sadar bahwa itu dilakukan murni dari hati yang tulus yang sangat mengasihi kita.

Orang yang menegur kita adalah orang yang teliti terhadap kehidupan kita. Kalau tegurannya benar berarti dia tahu persis siapa dan bagaimana pribadi kita. Justru kita harus bersyukur masih ada yang memerhatikan tingkah laku dan kekeliruan kita, yaitu dia yang menegur kita!

Namun, adakah kita sebaliknya malah senang dengan seseorang yang kita anggap baik namun tidak pernah menegur kita? Bersikap masa bodoh meski kita telah melakukan suatu kesalahan. Hal ini berbahaya sebab orang seperti bisa dikatagorikan sebagai seorang lawan yang mencium kita.

Namun saat kita ditegur seseorang yang mengasihi kita, kita harus sadar bahwa dia baik dan peduli pada kita. Dia mau kita berubah ke arah yang lebih baik. Jangan melihat dan menanggapinya dengan cara negatif, misalnya merasa direndahkan atau merasa dipermalukan.

Sikap dan respon kita menentukan suasana hati kita setelah ditegur. Respon negatif membuat kita teluka, sikap positif – menerima – dengan sikap dewasa membuat kita makin dewasa. Sebab agar sampai pada kedewasaan itu harus melewati berbagai teguran dan “bantingan.” Jadi, hadapi teguran. (*) /Adaptasi Intimacy.

Hati-Hati Gunakan Lidahmu...

Oleh Timbul MT Sirait,

“Hati-hati gunakan lidahmu. Hati-hati gunakan lidahmu,
Karena Bapa di Surga, melihat ke bawah,
hati-hati gunakan lidahmu!”

Kutipan di atas adalah sebuah syair lagu anak Sekolah Minggu. Kita berpikir ini adalah hanya lagu anak-anak sekolah minggu. Tetapi sebenarnya, lebih dari pada sebuah lagu anak. Lagu di atas mengingatkan kita agar berhati-hati menggunakan lidah.

Kemampuan untuk berbicara adalah sebuah anugerah. Bila seseorang menerima anugerah tersebut maka dia harus menggunakannya secara penuh tanggungjawab. Jika tidak, orang tersebut akan menerima konsekwensi penyalahgunaan kemampuan yang dia miliki untuk berbicara.

Lidah, anggota yang kecil dalam tubuh manusia namun sangat berfungsi dan memiliki kekuatan besar, yang memungkinkan seseorang itu mampu berbicara verbal dengan normal. Lidah akan memampukan seseorang untuk berbicara. Namun bila disalahgunakan, lidah bahkan bisa menghancurkan dunia.

Karena itulah, Yakobus mengatakan, “... lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat me-megahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai selu-ruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri di-nyalakan oleh api neraka.” (Yak. 3:5-6).

Kata-kata yang tidak tekontrol, yang keluar dari mulut kita, bisa berakibat fatal. Dalam ayat di atas Yakobus memberi gambaran bagaiamana lidah itu bisa menghancurkan. Semua binatang liar dapat dijinakkan oleh manusia, namun tak seorang pun yang bisa yang berkuasa menjinakkan lidah. (Yak. 3:7-8).

Berhubungan dengan lidah, perhatikanlah beberapa hal berikut:
1. Lidah adalah alat komunikasi yang dipakai manusia.
2. Lidah akan menjadi alat yang kuat bila dipergunakan dengan semestinya.
3. Kita memakai lidah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah melalui doa
4. Kita memuliakan Allah dalam nyanyian melalui lidah.
5. Kita memakai lidah untuk mengajar dan memberitakan firman. Komunikasi yang keluar dari mulut kita, seharusnya, “perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”
6. Saran yang diberikan Yakobus untuk membantu kita menjaga lidah adalah dengan lambat berkata-kata, agar peribadatan kita tidak sia-sia.
7. Banyak masalah yang muncul karena lidah yang tak terkontrol, dan Yakobus telah menunjukkan betapa sangat menghancurkannya lidah yang tidak dikontrol.

Untuk itu kita perlu belajar mengendalikan lidah kita. Jika gagal memeliharanya, lidah bisa melukai. Yakobus juga mengatakan, “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.” (Yak. 3:9-10).

(Belajar Dari Kitab Yakobus)

Menjadi Dekat Oleh Darah Kristus

Oleh Marolop Simatupang

Rasul Paulus menulis, “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’ sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus.” (Efesus 2:13)

Inilah unsur yang paling agung, yang membuat semua bangsa bisa menjadi bangsa yang “dekat” kepada Allah. Rasul Paulus menambahkan, “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengam-punan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Efesus 1:7).

Berkat darah Yesus, semua manusia bisa dekat kepada Allah. Darah binatang yang dikorbankan di atas mezbah orang Yahudi hanya untuk orang Yahudi. Imam besar di bawah Hukum Taurat hanya untuk ke-12 suku Israel. Tapi darah “Anak Domba Allah” itu untuk semua bangsa.

Kuasa darah Yesus melintasi suku, ras dan golongan bangsa. Ia adalah Imam Mahabesar yang melintasi segala langit (Ibr. 4:13). Darah-Nya memungkinkan semua bangsa menjadi umat yang dekat kepada-Nya.

Penebusan oleh darah-Nya membuka pintu sehingga semua orang dapat masuk. Kematian-Nya men-ciptakan perdamaian, merobohkan tembok pemisah (Ef. 2:14) dan menjadi satu dalam tubuh-Nya.

Frasa ”Di dalam Kristus Yesus” dan “Oleh Darah Kristus” perlu disimak lebih cermat lagi. Yesus membuat perdamaian universal, antara manusia dengan Allah. Tapi tidak secara otomatis, begitu saja tercipta perdamaian antara manusia dengan Allah. Agar perdamaian itu diperoleh, manusia harus datang dan menaati firman-Nya. Kitab Suci menegaskan bahwa “...Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibr. 5:9).

Sesungguhnya, Allah tidak menjauh dari kita, dan “Ia tidak jauh dari kita masing-masing” (Kis. 17:27). Tidak juga membentingi diri-Nya dengan protokol yang amat rumit. Sejujurnya, manusialah yang menjauhkan diri dari Allah (Yes. 59:1-3). Sang Khalik menghendaki semua bangsa menjadi umat-Nya. Betapa indahnya bila masing-masing orang Kristen memberitakan penebusan oleh darah Yesus dan mendorong orang agar dekat kepada-Nya!

Orang tidak mengenal Allah yang benar, hidup tanpa tanpa pengharapan, bahkan hidup tanpa Allah di dalam dunia ini. Sekarang, semua orang yang taat kepada-Nya dibawa mendekat dan mengenal Allah melalui Yesus. Darah-Nya membawa kita ke dalam persekutuan yang indah dengan Allah.

Sebagaimana orang Yahudi menghampiri Allah dengan darah korban binatang yang mereka persembahkan, kita sekarang boleh menghampiri-Nya oleh darah suci Kristus Yesus, yang telah berkorban untuk dosa dunia.

“Dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal”. (Ibrani 9:12).

ORGANISASI GEREJA PERJANJIAN BARU (PB)

ORGANISASI GEREJA PERJANJIAN BARU (PB)
Oleh Samuel B. Obeng

Gereja Perjanjian Baru (PB) tidak diperintah oleh suatu dewan, sinode atau dewan konferensi. Organisasinya sebagai berikut:

 Kristus adalah Kepala Gereja. Tidak seorang manusia pun dapat mengaku sebagai kepala gereja. Bukan paus kepala gereja. Tidak ada istilah paus dalam PB.

 Penatua-penatua. Para penatua diangkat untuk mengawasi masing-masing jemaat (tidak lebih dari satu). Alasannya, karena tiap-tiap jemaat adalah otonom. Kita tidak menemukan ada penatua suatu jemaat mengawasi atau bertindak untuk jemaat lain. Sebelum diangkat, para kandidat harus memenuhi syarat-syarat. (1 Tim. 3:1-7).

 Diakon. Anggota jemaat yang memenuhi syarat diangkat khusus untuk melayani jemaat. Mereka berada dibawah para penatua (1 Tim. 3:8-13).

 Penginjil atau Pengkhotbah. Yaitu orang yang berkhotbah atau memberitakan Injil Kristus. Penginjil tidak pernah disebut Pastor atau Reverend. Kata “Reverend” (disingkat Rev.) dipakai hanya satu kali dalam Kitab Suci (Mzm. 111:9).

Kata “reverend” ditujukan kepada Allah: nama-Nya kudus dan dahsyat. Maka pemakaian gelar “Reverend” oleh manusia tidaklah tepat. Tidak ada juga indikasi perbedaan seperti kaum “pendeta” dengan “kaum awam.” Perjanjian Baru tidak mengenal istilah “kaum awam.”

 Anggota-anggota jemaat. Disebut juga anggota tubuh Kristus. Tubuh Kristus adalah gereja-Nya (Kol. 1:18). Anggota jemaat terdiri dari orang-orang yang telah dipanggil keluar dari dunia dan dipindahkan ke dalam terang, ke dalam gereja-Nya melalui ketaatan. Setiap anggota berperan dalam kesatuan dan fungsi dari gereja untuk melaksanakan misi agung: memenangkan jiwa-jiwa. Anggota-anggota ini disebut “orang Kristen” atau “murid-murid.” (Kis. 11:26; 1 Pet. 4:16).

Note: Tentang nama “Kristen,” Perjanjian Baru (PB) tidak pernah membuat pembagian atau pengelompokan. PB tidak mengenal “Kristen Protestan,” “Katholik,” “Karismatik,” dll, hanya “Kristen.”

BELAJAR DARI JEMAAT-JEMAAT DI MAKEDONIA


BELAJAR DARI JEMAAT-JEMAAT DI MAKEDONIA
(Oleh Leroy Brownlow)

“Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam ke-murahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.” (2 Kor. 8:1-5).

Mereka miskin, namun kaya dalam kemurahan, (ay. 2) Kemurahan tidak diukur oleh jumlah, tapi semangat dan bagian. Itulah sebabnya janda miskin itu dikatakan memasukkan lebih banyak ketimbang yang lainnya yang juga memberikan persembahan. (Markus 12:41-44).

Mereka memberi “menurut kemampuan mereka” dan bahkan “melampui kemampuan mereka,” (ay. 3) Mereka “memberi sampai pemberian itu melukai” tapi pemberian itu tidak membuat mereka terluka. Adalah mungkin untuk “memberi sampai pemberian itu melukai” dan memberi hingga tidak melukai.

Mereka mendesak Paulus dengan sangat agar menerima pemberian mereka, (ay. 4) Mereka memandang pemberian sebagai suatu kesempatan bukan beban. Bagaimana kita memandangnya?

“Mereka memberi diri mereka pertama-tama kepada Allah,” (ay. 5). Inilah rahasia kemurahan orang Kristen. Itu sama seperti berlayar dengan perintah yang dirahasiakan. Ke mana? Kamu tidak tahu. Kapan? Kamu tidak bisa mengatakannya. Itu menyatakan sebuah pernyataan kekal “Ya” kepada Allah dan “Tidak” kepada diri sendiri. Itu sama seperti membuat nama dan tanda tangan di atas selembar cek kosong dan biarlah Tuhan yang menuliskan jumlahnya. (Some Do’s and Dont’s For Christian)

Jumat, 12 November 2010

Di Dalam Iman Yang Melihat (2 Korintus 4:7-5:12)

Surat kedua rasul Paulus kepada jemaat di Korintus menunjukkan peran iman yang memampukannnya untuk memuji “Allah sumber segala penghiburan.” Jika Paulus tidak belajar untuk lebih memercayai mata Allah daripada mata jasmaninya sendiri, ia tidak akan mampu bertahan terhadap arus gelombang rasa sakit dan penderitaan yang kerap menerjang hidupnya. Jika ia berketetapan untuk memercayai apa yang mampu dilihat oleh mata jasmaninya, hidupnya akan dipenuhi dengan keputusasaan. Oleh karena itu, Paulus menulis:

“Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (2 Korintus 4:13-18).

Penekanan pada iman yang memberi penghiburan tidaklah berarti Tuhan menginginkan kita untuk membuang akal pikiran, penilaian yang baik dan logika kita. Justru sebaliknya, Tuhan ingin kita mengakkui bahwa lebih masuk akal untuk memercayai Allah yang membangkitkan Kristus dari kematian daripada memercayai apa yang nampak dari keadaan-keadaan kita yang kerap berubah-ubah.

Kita sering lebih bersandar dan mengandalkan apa yang dikatakan keluarga, teman-teman, atau rekan kerja kita, yang menceritakan kepada kita hal-hal yang telah mereka saksikan, tetapi jauh di luar apa yang dapat kita lihat. Namun demikian, kita perlu memercayai Tuhan untuk sesuatu yang hanya dapat dilihat oleh-Nya. Saat kita melakukannya, kita akan bersama Paulus untuk menemukan alasan supaya tidak ”tawar hati.” Apapun yang dinyatakan emosi diri dan keadaan yang kita alami, kita dapat percaya bahwa ...

* Masalah ada hanyalah untuk sementara seperti yang dikatakan Allah;
* Melayani orang lain sangat penting sekali seperti yang dikatakan Allah;
* Kita adalah makhluk abadi seperti yang dikatakan Allah;
* Masa depan kita sangat cerah seperti yang dikatakan Allah.

Paulus tetap memegang teguh imannya di tengah-tengah masa-masa yang paling berat, mengecewakan, dan membingungkan (2 Kor. 4:8-10). Iman tersebut, yang diberdayakan oleh Roh-Nya, memampukan Paulus untuk menjadi pelayan perkasa Allah, gigih dan berani mengahadapi maut seperti yang kita kenal. Roh-Nya tidak hanya menguatkan hatinya, tetapi juga memampukannya untuk dapat membagikan semangat penuh syukur itu kepada orang lain juga (2 Kor. 4:15).

(Adaptasi dari RBC: Menemukan Penghiburan Sejati)

Iri Hati

Iri hati didefenisikan sebagai suatu “Perasaan tidak senag atas keunggulan atau keberuntungan orang lain. Dalam Alkitab sering disebut dengan kedengkian, atau dendam.” (Cruden’s Complete Corcordance)

Iri hati harus dibedakan dari kecemburuan. Kita cemburu atas kepunyaan kita; kita iri kepada kepunyaan orang lain. Cemburu ialah takut kehilangan apa yang dimilikinya; iri

hati adalah sakit hati melihat orang lain punya. (Crabb’s English Synonymus).

Alkitab menempatkan iri hati ke dalam daftar “perbuatan daging.” “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (Gal. 5:19-21). Kontras sekali dengan daftar “buah-buah Roh.” (Gal. 5:22, 23). Iri hati merupakan sifat asli Iblis, akar kejahatan.

Dalam kitab Roma pasal 1, iri hati digolongkan dengan keserakahan, kebencian, perselisihan, tipu muslihat, fitnah dan pembunuhan, menjadi salah satu dari dosa-dosa yang membawa pada maut. Dosa-dosa tersebut dikecam oleh Alkitab.

Iri hati sangat merusak kehidupan. Seorang yang iri, akan berusaha merusak kebaikan-kebaikan yang nampak dalam diri orang lain. Irihati membuat orang “merendahkan reputasi baik orang dan memutar-balikkannya ke dalam nama yang buruk.”

Alkitab mengecam sifat iri hati. Salomo mengatakan, “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.” (Ams. 14:30). Iri hati itu seperti penyakit kanker, menggerogoti vitalitas hidup dan jiwa manusia.

Karena iri hati banyak orang melakukan kejahatan besar. Iri hati menyebabkan Kain membunuh Habel, adiknya (Kej. 4:1-8). Karena iri hati sekarang ini beberapa orang berusaha membunuh reputasi atau kebaikan orang lain. Karena iri hati orang Yahudi menyerahkan Yesus agar disalibkan. Pilatus “memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.” (Mat. 27:18).

Karena iri hati-lah sehingga Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya ke perhambaan. (Kej. 34). “... Dan saudara-saudaranya iri hati kepadanya.” (Kej. 34:11). Iri hati membawa orang kepada tindak kriminal, berbuat dosa.

Sifat iri hati harus disingkirkan dari karakter hidup kita. Iri hati akan membuat orang berpusat pada diri sendiri. Iri hati dan sifat mementingkan diri sendiri itu berdekatan. Sebab iri hati merupakan manifestasi sifat mementingkan diri sendiri. Iri hati akan membawa dosa-dosa mendasar lainnya, yang menularkan kejahatan. Sepeti contoh, Kain membunuh Habel, adiknya, awalnya karena iri hati.

Rasul Petrus menasihatkan, “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.” (1 Pet. 2:1). Jangan beri tempat iri hati di hatimu. Tapi milikilah kasih yang sejati. Sebab “kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri.” (1 Kor. 13:5).

Ke Gereja Hari Sabtu?

Oleh Hugo McCord, P.Hd

Banyak orang saat ini menyebut diri mereka orang Kristen tapi beribadah atau pergi ke gereja hari Sabtu. Alasannya, karena Yesus pergi ke rumah ibadah orang Yahudi, menguduskan hari Sabat dan untuk menaati Sepuluh Hukum.

Benar, Yesus adalah “seorang Yahudi.” (Yoh. 4:9), “pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat,” (Luk. 4:16) seseuai dengan perintah ke-empat dalam Sepuluh Hukum (kel. 20:1-7). Namun itu bukan berarti kalau murid-murid Yesus (Kristen) zaman sekarang (Kis. 11:26), apakah itu “orang Yahudi dan orang Yunani” (Rom. 10:12) harus “menguduskan hari Sabat.” (Kel. 20:8).

Saat Yesus mati, “Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya,” (Ef. 2:15), Ia “menghapuskan surat hutang menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib.” (Kol. 2:14).

“Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat.” (Kol. 2:16).


Dengan demikian, semua peraturan dalam “Sepuluh Hukum,” yang ditulis di atas “dua loh batu,” yang “ditulisi oleh jari Allah” (Kel. 31:18) telah “dibatalkan,” (Ef. 2:15), “dihapuskan” dan “dipakukan dikayu salib.” (Kol. 2:14). Akan tetapi arti sembilan dari sepuluh hukum itu telah “dipindahkan” ke dalam “perjanjian baru” yang diberikan oleh Kristus (2 Kor. 3:6), sebuah “perjanjian yang lebih mulia.” (Ibr. 8:6).



“Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu. Namun demikian kemuliaan Allah menyertainya waktu ia diberikan ... betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh!” (2 Kor. 3:7-8).



Arti sembilan dari sepuluh hukum itu terdapat dalam Perjanjian Baru.

1. Hukum I : Efesus 4:6

2. Hukum II : 1 Yohanes 5:21

3. Hukum III : 1 Korintus 10:31

4. Hukum V : Efesus 6:2

5. Hukum VI : 1 Yohanes 5:21

6. Hukum VII : 1 Korintus 6:9-10

7. Hukum VIII : Efesus 4:28

8. Hukum IX : Efesus 4:15

9. Hukum X : Kolose 3:5


Namun hukum ke-empat (4) tidak digantikan oleh hari “kudus” lainnya. Hari Minggu, hari pertama dalam minggu, adalah hari peringatan khusus, sebab hari pertama itu merupakan hari kebangkitan Tuhan Yesus (Mark. 16:9), dan rupanya disebut “hari Tuhan.” (Why. 1:10), dikhususkan dalam PB bukan agar seperti orang Yahudi yang diperintahkan untuk “menguduskan hari Sabat.”


Tidak Konsisten Dalam Tiga (3) hal:
Orang yang pergi beribadah (ke gereja) pada hari Sabtu dengan argumen karena Yesus juga menguduskan hari Sabat, tidak konsisten dalam tiga (3) hal:

1. Orang yang ke gereja hari Sabtu juga harus mengatakan bahwa bayi laki-laki yang berusia delapan hari harus disunat sekarang, sebab Yesus juga disunat ketika Ia berumur delapan hari (Luk. 2:21). Hukum sunat merupakan salah satu dari hukum yang telah dipakukan “di kayu salib.” (Kol. 2:14). “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.” (Gal. 5:1-3).

“Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” (Gal. 6:15). Kristus menyunat orang berdosa saat ini, laki-laki dan perempuan.

“Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” (Kol. 2:11-12).

2. Orang yang ke gereja hari Sabtu harus mengatakan bahwa orang Kristen saat ini harus merayakan Pesta Paskah, (Kel. 12:11, 17, 43), sebab Yesus juga ikut makan roti Paskah (Mat. 26:17-19; Luk. 2:41). Pesta Paskah orang Yahudi merupakan suatu perayaan untuk mengenang pembebasan yang dilakukan Allah terhadap nenek moyang mereka “dari tanah Mesir,” (Kel. 13:18), yang dalam PB ditujukan kepada Kristus, “Anak domba paskah kita,” (1 Kor. 5:7), yang telah membawa kita keluar dari perhambaan dosa (Mat. 26:28). Karena itu, Yesus memerintahkan orang Kristen untuk ambil bagian dalam Perjamuan Tuhan. “Dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1 Kor. 11:24).

3. Orang yang ke gereja hari Sabtu bukan hanya harus merayakan Paskah, tapi juga harus pergi ke Yerusalem merayakan perayaan itu, sebab Yesus melakukan seperti (Yoh. 2:13). Bahkan orang non-Yahudi mengerti bahwa bagi orang Yahudi “Yerusalem-lah tempat orang menyembah.” (Yoh. 4:24).


Perjanjian dan Wasiat Terakhir-Nya
Yesus menunjukkan bahwa perjanjian dan wasiat terakhir-Nya (Ibr. 9:16) berlaku setelah Ia “mati.” (Ibr. 9:17). Ia mengatakan kepada perempuan Samaria bahwa “... saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yoh. 4:21-24).

Meskipun kota Yerusalem sekarang secara agamawi bukan kota kudus, tapi nama “Yerusalem” lebih bermakna dari pada masa-masa sebelumnya, dan akan tetap ada hingga kekekalan. “Yerusalem baru” sekarang adalah surga, “Yerusalem sorgawi,” (Gal. 4:26), suatu tempat ke mana Yesus telah pergi mempersiapkan: “di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal.” (Yoh. 14:1). (The World Evangelistic, Vol. 30, No. 12 July 2002, Florence, Alabama)

___________________________________________________________________

(Alihbahasa dengan adaptasi seperlunya oleh Marolop Simatupang)

Agar Perkawinan Anda Berbahagia

(Penulis, Anonimus)

Saling Menghibur Satu Sama Lain
Sediakan suatu tempat untuk berlindung dan berteduh bagi masing-masing dari udara dingin dunia ini. Perkawinan Anda adalah sebuah hati (sebuah tempat yang hangat) yang daripadanya keluar kedamaian, keharmonisan dan kehangatan jiwa dan raga.

Peduli Sebagaimana Anda Dipedulikan
Hangatkan tubuh dia yang Anda kasihi dengan sentuhan kasih sayang. Ingat seperti bayi bisa meninggal bila kurang sentuhan kasih sayang, demikian juga perkawinan, bila kurang kedekatan, bisa layu.

Jadilah Seorang Sahabat dan Pasangan
Persahabatan bisa menjadi sebuah “pulau” yang penuh kedamaian, tersendiri, dan terpisah dari dunia kekacauan dan pertengkaran. Pantulkan kedamaian bersama teman sejati yang bersamanya Anda bisa saling berbagi demi tahun-tahun yang akan datang, dan waspada akan kemungkinan timbulnya pertengkaran di bawah atap yang sama.

Saling Terbuka Satu Sama Lain
Jangan balut dirimu dalam kerahasiaan yang bisa menimbulkan kecurigaan dan keraguan. Saling terbukalah dan ungkapkan dirimu satu sama lain, seperti bunga mawar yang sedang mekar menyebarkan keharuman dan keindahan.

Saling Mendengarkan Satu Sama Lain
Dan dengarkanlah, bukan hanya kata-kata saja, tapi juga nada suara, suasana hati dan ekspresinya. Belajarlah mendengar untuk mengerti daripada mendengar untuk membantah. Saling menghormati pandangan masing-masing. Ingat, bahwa masing-masing memiliki tubuh dan darah, berhak atas pilihan dan kekurangannya sendiri. Setiap orang adalah pribadi tersendiri dan memiliki hak untuk sejajar.

Biarkan Yang Lain Menjadi Dirinya Sendiri
Jangan menciptakan sebuah karakter yang baru bagi orang lain, yang bisa membuatnya sangat tidak senang dan menderita. Terima orang lain sebagaimana adanya mereka, sebagaimana engkau diterima apa adanya.

Saling Menerima Satu Sama Lain
Ingat, kritik destruktif bisa membuat perpecahan, sementara pujian tulus menguatkan kepercayaan dalam diri masing-masing. Jangan tergesa-gesa menunjukkan kesalahan orang lain, sebab dia akan mengetahuinya segera.

Hargai Perpaduan Anda
Jangan biarkan satu orang pun ada di antara kebersamaan Anda, bukan anak, bukan teman, bukan juga materi. Namun, tetap pelihara jarak yang cukup untuk membiarkan masing-masing menjadi dirinya sendiri dalam keutuhan yang unik.

Saling Mencintai Satu Sama Lain
Cinta adalah sungai kehidupan Anda – Sumber abadi, yang mengibur dirimu sendiri. Di atas semua itu – saling mencintailah satu sama lain.

Dari Mana Kain Mendapat Istri?

Dari Mana Kain Mendapat Isteri?

Ini sebuah pertanyaan yang sering diajukan oleh orang-orang yang tidak beriman dan penganut paham skeptimisme. Beberapa orang bertanya karena memang ingin tahu. Yang lain bertanya karena kekerasan hati mereka. Ada juga yang bertanya dengan maksud untuk menertawakan kekristenan dan Alkitab.

Ada yang memperoleh jawaban terhadap pertanyaan di atas melalui penyelidikan Kitab Suci dan merasa dicerahkan. Sebagian mencari jawaban bedasarkan ketidakpercayaan dan sikap sinisme. Namun, orang yang tulus hati bisa mengalahkan sikap sinisme itu dengan memakai “pedang roh.”

Kitab Kejadian 4:17 mengatakan, “Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan dinamainya kota itu Henokh, menurut nama anaknya.” Kitab yang sama mencatat bahwa Kain telah membunuh Habel, adiknya, karena iri hati. Akibatnya, Allah mengutuk Kain dan membuatnya menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi. Lalu Kain menetap di “tanah Nod, di sebelah timur Eden.” (Kej. 4:16). Setelah kematian Habel, Adam dan Hawa kemudian memperoleh anak sebagai ganti Habel, dan diberi nama Set (Kej. 4:25).

Jawaban untuk pertanyaan di atas terdapat dalam Kitab Kejadian 5:4-5. Dalam ayat tersebut disebutkan:
1) Adam masih hidup 800 tahun setelah memperanakkan Set;
2) Adam memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan selain Kain, Habel dan Set;
3) Adam hidup mencapai usia 930 tahun, lalu ia mati.

Adam dan Hawa diciptakan dewasa dan diperintahkan agar “Beranakcuculah dan bertambah banyak.” (Kej. 1:28). Tidak lama setelah diusir dari Taman Eden, mereka memperanakkan Kain dan Habel. Karena Adam telah berumur 130 tahun ketika Set lahir, tidak lama setelah kematian Habel, secara logis kita dapat menarik kesimpulan bahwa Adam dan Hawa memperanakkan anak yang lumayan banyak selama periode yang sangat panjang itu. Juga dalam periode 130 tahun itu keturunan mereka telah berkembang dan bertambah banyak, bisa jadi ratusan, keturunan mereka saling menikah dan melahirkan anak-anak.

Lalu, dari mana Kain mendapat istri? Bukti alkitabiah mengindikasikan Kain menikahi salah seorang dari keluarganya – adiknya atau keponakan perempuannya. Praktek seperti itu sudah jamak terjadi pada masa itu. Seperti Abraham yang menikahi Sara, adik tirinya, dan Nahor, saudaranya yang menikahi keponakan perempuannya, Milka (Kej. 11:29; 20:12).

Kejadian 4:17 juga menidikasikan kemungkinan besar Kain sudah menikah sebelum pergi ke tanah Nod. (*)

Senin, 12 April 2010

Perjamuan Tuhan


Oleh William S. Cline

Perjamuan Tuhan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengenang pengorbanan Yesus. Aktivitas ini dilakukan dalam ibadah setiap hari pertama dalam minggu – Hari Minggu (Kis. 20:7). Dalam Per-jamuan Kudus ini orang Kristen makan roti tak beragi – melambang-kan tubuh-Nya – dan minum air buah anggur yang melambangkan darah-Nya.

Rasul Paulus menulis, “Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia di-serahkan, mengambil roti, dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku! Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” (1 Kor. 11:23-26)

Lalu apa arti Perjamuan Tuhan bagi kita? Perjamuan Tuhan dilakukan untuk mengenang akan kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus (Luk. 22:19) –bahwa Ia telah menderita, mati, dikubur dan bangkit pada hari ahad. Ia telah mengalahkan maut. Ini harus selalu diingat dan diresapi, sebab, inilah hakikat pengajaran Injil. Itu sebabnya betapa penting menghadiri ibadah setiap hari Minggu agar selalu bisa ambil bagian dalam Perjamuan Tuhan.

Dalam Perjamuan Tuhan kita bersekutu, bersama-sama, dengan Yesus, dan menunjukkan bahwa kita disatukan dalam tubuh-Nya, gereja-Nya, yang telah Ia tebus dengan darah-Nya.

Perjamuan Tuhan juga merupakan suatu penyataan iman, yakni penyataan iman kita dalam kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus. Juga melambangkan perjanjian yang disahkan dengan darah-Nya, antara Kristus dengan umat Kristen.

Dengan ambil bagian dalam perjamuan kudus itu, secara tidak lang-sung, kita menyatakan komitmen untuk mengabdi dan melayani Dia. Ia telah mengorbankan diri-Nya bagi umat-Nya, umat yang Ia tebus. Sebagai umat, kita harus menunjukkan komitmen dan pelayanan kepada-Nya. Dengan melakukan Perjamuan Tuhan, kita juga memberitakan kematian dan kebangkitan Yesus hingga Ia datang kembali.

Perjamuan Tuhan yang kita lakukan setiap hari Minggu dalam ibadah bukanlah sebuah ritus yang bersifat rutinitas, tapi suatu elemen suci dalam ibadah agar kita selalu mengingat pengorbanan dan kematian Yesus di kayu salib. Dengan demikian kita tetap setia kepada-Nya dan rela berkorban serta mengabdi untuk Yesus. Usahakanlah dirimu agar selalu ikut ambil bagian dalam Perjamuan Tuhan yang dilaksanakan setiap hari Minggu. (*)

Pencobaan Cinta, Mencari Jodoh

Oleh Marolop Simatupang

Sebagai umat Tuhan, entah masih muda atau tua, kita pasti pernah menghadapi pencobaan. Ketika masih kecil mungkin pernah tergoda untuk mencuri uang orangtua guna membeli mainan. Menginjak remaja dan masa puber, mulai menjadi pemberontak pada orangtua, tidak mau mendengar nasihat, dan mulai tergoda pada lawan jenis.

Di bangku kuliah kita menghadapi godaan pergaulan bebas yang kerap menjerusmuskan ke lembah kelam, makin tergoda oleh daya pikat lawan jenis. Stelah menikah, kita menghadapi godaan perselingkuhan, tergodaoleh “rumput tetangga yang lebih hijau.”

Benar bahwa kita hanyalah manusia biasa, yang punya kelemahan dan sering jatuh oleh pencobaan iblis. Namun itu bukan alasan yang bijak untuk tidak bangkit dan melakukan pembaruan diri secara rohani. Kelemahan tersebut jangan dijadikan solusi pembenaran diri bila jatuh ke dalam pencobaan.

Seperti Simson, yang jatuh oleh sesuatu yang menurutnya sepele, kita juga bisa tersungkur oleh hal-hal yang menurut kita sepele, masalah kecil, yang tanpa kita sadari ternyata mengarahkan hidup kita pada kehancuran.

Ketika masih muda dan single, pikiran kita tersita oleh perkara mencari pasangan hidup. Itu wajar mengingat pernikahan adalah salah satu momen penting dalam hidup dan berpengaruh besar dalam kehidupan selanjutnya. Namun dalam proses pencarian “soul-mate” ini, jangan sampai kita terperdaya oleh paras lahiriah belaka, hanya menuruti perasaan suka, mengabaikan apsek rohani sehingga nilai-nilai iman dan kekristenan terpinggirkan.

Mungkin masa pencarian tersebut menurut kita teramat panjang, melelahkan. Bahkan bisa melemahkan iman. Karena belum menemukan lawan jenis yang disukai dan seiman, lalu kita memutuskan untuk menjalin hubungan dengan orang yang tidak seiman. Untuk membenarkan keputusan itu kita pun membuat alasan-alasannya, antara lain dari tidak adanya lawan jenis yang cocok di gereja, masalah idealisme, tak ada yang memenuhi kriteria yang tak berujung itu, sampai alasan penginjilan. Pada hal, lawan jenis yang berperawakan “sempurna,” berada, sangat romantis, dsb, bisa digunakan Iblis untuk menggoda kita keluar dari Ladang Tuhan, dengan cara menanamkan dalam pikiran bahwa pasangan kita lebih penting daripada Tuhan dan Gereja-Nya. Si Penggoda itu juga bisa memengaruhi sudut pandang kita terhadap nasihat-nasihat Kitab Suci sehingga kita melihatnya sebagai peraturan kolot, usang dan menganggapnya pola pikir yang sempit.

Godaan untuk menjatuhkan pilihan pada pasangan yang tak seiman begitu besar, terlebih pada orang yang dikarunai penampilan menarik. Biasanya silih berganti lawan jenis yang melakukan pendekatan. Sadar akan rupa diri yang menarik, kita pun cenderung menetapkan kriteria-kriteria tinggi agar yang lolos benar-benar “berkualitas.” Atau harus memenuhi “3B” kelas satu – “Bibit-Bebet-Bobot.” Di sinilah Iblis bekerja dengan cerdiknya.

Dari syarat-syarat yang kita buat, tanpa sadar, kita lebih menekankan aspek-aspek duniawi, kriteria-kriteria lahiriah sehingga pikiran rohani kita dibutakan oleh Iblis yang menyamar sebagai malaikat terang. Kita menelan mentah-mentah pandangan publik-dunia bahwa pasangan pas seorang pemuda gagah-tampan adalah pemudi cantik-berparas ayu.

Pemuda elok membuat kriteria calon pasangannya harus putri “bersepatu kaca,” pemudi ayu membuat syarat harus pangeran “berkuda putih.” Kebetulan ada yang memenuhi kriteria tersebut, serta dikompori oleh teman-teman yang tak peduli pada aspek rohani, ketertarikan pun muncul, lalu menjalin hubungan meningkat ke jenjang berikutnya, yang tanpa kita sadari kita telah berada di pintu keluar kebun anggur Tuhan.

Atau bisa jadi kita telah lama menantikan datangnya seorang saudara seiman, tapi penantian tinggal penantian, belum ada tanda-tanda. Kita pun mulai tak sabar. Gelisah, mengingat usai terus merambat. Dan saat muncul seseorang menunjukkan ketertarikan, meski penampilan biasa-biasa saja, apalig menarik, kita langsung menyambar kesempatan itu karena sudah terlampau putus asa, tidak lagi peduli apakah ia seiman atau tidak.

Kita mengabaikan nasihat 2 Kor. 6:14, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” Kita menganggapnya nasihat kolot, out of date! Kita melawan nasihat saudara seiman dan orangtua kita. Kita membantahnya dengan menyebut contoh-contoh yang mirip, atau peristiwa yang memang terjadi. Kita beralasan nanti bisa membawa pasangan yang tak seiman kita itu ke kerajaan-Nya. Namun apakah yakin pasti bisa membawanya ke gereja-Nya? Atau yang akan terjadi justru sebaliknya.

Raja Salomo mengatakan, “Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN.” (Ams. 19:14). Pasangan yang berakal budi dan seiman dapat kita mintakan kepada Tuhan, dalam doa. Akan tetapi seringkali kita tiak cukup sabar. Mungkin Tuhan sudah berkali-kali memperlihatkan pasangan hidup seiman di depan mata kita, tetapi kita menutup mata karena bersikeras pada kriteria sepihak dan pada kehendak sendiri. Kriteria-kriteria yang kita tetapkan mungkin saja tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Bisa jadi penantian akan pasangan jiwa yang seiman teramat lama karena daftar kriteria yang kita tetapkan teramat panjang. Ingat, apa yang baik di mata manusia belum tentu baik di mata Tuhan.

Berdoalah dengan tekun, berusaha di jalan-Nya. Allah itu kasih. Ia hanya memberikan apa yang baik bagi jiwa umat-Nya. Gunakanlah masa mudamu untuk berkarya sebaik mungkin di kebun anggur Tuhan. Tuhan akan menolongmu mendapatkan pasangan “yang baik” dan “yang dikenan Tuhan.” (Diadaptasi Warta Sejati, Edisi 59, 2008).

Musik Dalam Ibadah

Oleh Roy E. Cogdill

Musik punya tempat dan tujuan khusus dalam ibadah. Tempat dan tujuan ini telah ditetapkan oleh kuasa Ilahi. Di tempat dan tujuan itu kita harus mengenali pentingnya (1) Jenis musik yang diotoritaskan, (2) tujuan musik disediakan dan (3) tatacaranya.

Dalam kitab Efesus 5:19, “Dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernya-nyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.” Dalam Kolose 3:16, “… dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.”

Hanya ada dua jenis musik, vocal dan instrument. Allah telah menen-tukan yang vocal. Pemakaian alat musik tidak diotoritaskan. Jenis lagu yang dinyanyikan komposisinya harus “bersifat rohani.”

Nyanyian dinaikkan sebagai pujian kepada Allah, bukan hiburan atau entertaiment. Allah tidak berkenan ketika musik dalam ibadah orang Kristen dimaksudkan menjadi usaha untuk menghibur. Tujuan musik bukan untuk menghibur publik, tapi memuji Allah.

Musik dalam ibadah dinyanyikan “dalam roh.” Dari Ef. 5:19 dan Kol. 3:16, kita belajar bahwa hati kita harus menyertai nyanyian itu, dengan sepenuh hati. Juga dinyanyikan “dengan akal budi.” Dalam 1 Kor. 14:15 dikatakan “... aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.” Artinya kita perlu mempelajari arti lagu tersebut, kata-katanya dimengerti. Kita mengekspresikan-nya dalam kata, dan pastikan nyanyian itu sesuai dengan Kitab Suci.

Musik-nyanyian dalam ibadah harus dimengerti. “Berkata-katalah se-orang kepada yang lain” – (Ef. 5:19), “Mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani” – (Kol. 3:16).

Tujuan suci pujian hilang, kecuali liriknya selaras dengan Kitab Suci. Diucapkan dalam nyanyian secara cukup sederhana untuk dimengerti oleh pendengar. Mengajar dan menegur dilakukan dalam bernyanyi harus oleh lirik lagu-nyanyian, karena bunyi dan irama tidak mengajarkan apapun.

Perjanjian Baru memerintahkan umat-Nya bernyanyi, memuji dan ber-syukur kepada-Nya dalam pujian rohani. Kitab Suci tidak meng-otoritaskan jenis musik instrument dalam ibadah gereja, tapi vocal.

Saling mengajar dan menegurlah satu sama lain dalam kidung pujian seperti yang Ia kehendaki. Naikkanlah ucapan syukur kepada-Nya da-lam musik-nyanyian yang berkenan kepada-Nya. (*)

Keluarga Ideal Bukan Produk Instan

Oleh Marolop Simatupang

Persoalan keluarga, kini, makin kompleks. Banyak keluarga menghadapi berbagai persoalan. Pun keluarga Kristen, tidak terkecuali. Namun, hendaknya jangan putus harap untuk menggapai keluarga ideal. Keluarga panutan tidak jatuh dari langit, tidak terjadi dalam satu malam. Untuk mewujudkannya, semua anggota keluarga harus berperan aktif, terlebih kepala keluarga.

Dewasa ini, berbagai persoalan serius melanda keluarga-keluarga. Kasus perselingkuhan meningkat tajam. Kenakalan remaja dan kecanduan narkoba dianggap biasa. Remaja perempuan hamil di luar nikah bukan lagi aib. Tidak ada kepemimpinan yang kuat dalam keluarga, anak-anak kehilangan figur panutan dalam keluarga dianggap lumrah. Dan masih banyak lagi problem serius yang melanda keluarga.

Keluarga adalah pusat atensi Allah, demikian ditegaskan firman Tuhan. Institusi pertama yang ditetapkan Allah di muka bumi ini adalah keluarga – keluarga Adam dan Hawa. Mesias hadir di dunia ini secara personal melalui sebuah keluarga sakinah – keluarga Yusuf dan Maria. Yesus, dalam pelayanan-Nya, tanda ajaib pertama-Nya terjadi di tengah keluarga – di Kana. Istilah anak dan bapa, sapaan sehari-hari dalam komunikasi keluarga, dipakai dalam Alkitab. Lalu mengapa begitu jarang keluarga ideal di tengah masyarakat? Mengapa keluarga-keluarga, kini, justru terus didera masalah serius?

Setiap orang tentu ingin punya dan berada dalam keluarga ideal. Namun mewujudkan keluarga ideal ternyata tidak gampang. Untuk menggapainya, iman yang tangguh mutlak dibutuhkan. Keluarga, lembaga yang didirikan dan dibentuk oleh Allah; maka Ia harus selalu dilibatkan dalam keluarga. Artinya hal-hal yang rohani jangan diabaikan, tapi harus mewarnai hidup keluarga setiap saat. Dan yang terdepan dari keluarga dalam proses ini adalah ayah.

Ayah – Pemimpin Keluarga
Ayah, yang adalah kepala keluarga, memegang peranan kunci dalam hal ini. Perannya sangat krusial. Ia adalah “payung rohani” yang melindungi dan memayungi keluarga secara spiritual dari hujan “persoalan keluarga.” Kalau payung bocor, keluarga akan gampang diterjang “penyakit.”

Kepala keluarga juga harus menjadi imam dan pemimpin. Ia harus menjaga kesucian diri dan keluarga. Dalam membangun keluarga ideal, diperlukan fondasi yang kokoh, yaitu iman dan kesucian. Bila ini diabaikan, pemimpin dan keluarga akan mudah jatuh. Imam keluarga harus mendidik anak-anak dalam karakter kristiani serta menanamkan prinsip-prinsip hidup yang positif. Jika tidak, iblis akan mengambil-alih perannya.

Mungkin ada yang berkata, itu kalau ayah orang Kristen sejati. Bagaimana jika tidak? Mungkinkan ia menjalankan peran sebagai imam keluarga? Bila konteksnya demikian, fungsi imam bisa diserahkan pada ibu, atau anak, khususnya laki-laki yang sudah dewasa rohani.

Lalu bagaimana bila ayah dan ibu beda iman? Pluralitas keyakinan dalam keluarga memang bisa berdampak luas, karena nilai-nilai yang ditanamkan akan berbeda, dan ini kerap menciptakan split personality – kepribadian yang terbelah. Solusinya adalah ayah-ibu, bersama-sama menyepakati nilai-nilai tertinggi, yang harus dibangun dan menjadi patokan bersama.

Ibadah keluarga
Jika ayah berhasil menunjukkan tanggungjawabnya sebagai imam keluarga, maka sudah pasti ada ibadah keluarga (family devotion).

Ibadah keluarga adalah wujud komitmen keluarga terhadap Tuhan. Menciptakan ibadah keluarga sangat penting. Sebab melalui dan dalam ibadah, proses pembelajaran, komunikasi edukatif dan dorongan spiritual berlangsung. Dalam devosi singkat ini pujian, ucapan syukur dan doa dinaikkan.

Dampak positif ibadah keluarga, banyak. Untuk diri sendiri, imam, – ayah dapat merasakan bahwa dirinya adalah pribadi yang bertangggung jawab. Terhadap isteri dan anak, – mereka akan bangga punya pemimpin yang setia. Selain itu, kerukunan dalam keluarga tercipta – keluarga makin harmonis dan solid. Ibadah keluarga juga memperkuat iman, dan suasan nyaman dan menyejukkan tercipta dalam keluarga.

Perlu dicatat, ibadah keluarga yang dimaksud bukan artifisial dan ritualistik belaka, bukan rutinitas, tapi harus diamalkan. Sebab, ritual dan ibadah keluarga minus aplikasi nyata adalah kosong, tidak membawa sesuatu yang lebih baik.

Devosi keluarga ini juga berdampak sosial positif bagi keluarga dan masyarakat. Antara lain fondasi iman keluarga makin kuat, serta menjadi teladan bagi khalayak. Untuk tujuan inilah peran ayah sangat dominan. Ia bukan hanya menjadi tulang punggung keluarga – ekonomi keluarga – tapi juga untuk menanamkan nilai-nilai kristiani, sosial dan keutuhan keluarga, tentu bersama isteri. Nilai-nilai itu mutlak dan harus ada dalam keluarga. Sebab, keluarga tanpa nilai-nilai tersebut adalah keluarga tanpa fondasi, rapuh, dan akan terombang-ambing di tengah “lautan” hidup sosial.

Mengapa Keluarga Ideal?
Dalam pemahaman sosiologis, keluarga adalah ikatan kelompok utama antara laki-laki dan perempuan. Kemudian kelompok primer dalam tatanan masyarakat ini melahirkan proses reproduksi dan kulturasi, yaitu proses nilai-nilai untuk kepentingan sosialisasi keluarga tersebut.

Jika sebuah keluarga mengalami kehancuran, maka efek sosialnya sangat besar, karena nilai-nilai sosial pertama kali disampaikan dan ditanamkan kepada individu melalui keluarga. Apabila keluarga-keluarga hancur, masyarakat bisa ikut hancur, sebab keluarga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat. Dan sebaliknya, jika makin banyak keluarga ideal tercipta, makin baik pula kualitas kehidupan sosial dan moralitas masyarakat; ketenteraman dan kedamaian negara pun tercipta dengan sendirinya.

Oleh sebab itu, menciptakan keluarga ideal harus menjadi tujuan utama keluarga. Keluarga Kristen harus menjadi pioner dan terdepan dalam hal ini. Butuh waktu, pengorbanan dan komitmen untuk mewujudkannya. Semua individu harus terlibat, terutama ayah. Keluarga ideal adalah keluarga standar ilahi. (*)

Kekang Amarahmu

Oleh Marolop Simatupang
Rata Penuh
Banyak orang mudah naik darah dan bertemperamen panas, gampang marah. Banyak yang beralasan karena sudah sifatnyas seperti itu, tak bisa dirobah. Marah adalah salah satu dari sifat emosionil manusia. Lumrah bila manusia marah. Namun menjadi malapetaka bila amarah tak bisa dikekang. Amarah semacam ini bisa menggelembung dan berpusar tak terkendali.

Mereka yang membiarkan dirinya dikuasai oleh amarah menimbulkan masalah bagi diri sendiri dan orang lain. Di rumah, anggota keluarga yang tak bisa mengendalikan emosi amarahnya bisa menciptakan lingkaran setan bagi keluarga. Anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan di rumah semacam ini jadi diperbudak dalam pemikiran salah kaprah bahwa amarah tak terkendali adalah perilaku yang dapat diterima.

Mungkin orang yang tak bisa mengekang amarahnya merasa puas karena perilakunya bisa memberikan apa yang dia inginkan, walaupun hanya sementara. Juga merasa puas karena bisa menumpahkan seluruh emosinya dengan cara yang negatif.

Amarah – Perbuatan Daging
Menurut Kitab Suci, “amarah” adalah “perbuatan daging,” (Gal. 5:19-21), yang dikelompokkan bersama “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya ....”

Semua “perbuatan daging” adalah dosa. Bila dibiarkan, menghasilkan maut. Namun pemahaman sebagian orang tentang amarah, yang ditempatkan dalam kategori yang sama dengan pembunuhan, penyembahan berhala, dsb, adalah dosa tidak jelas, abu-abu. Kadang pemahaman amarah adalah dosa atau tidak diserahkan pada penentuan masing-masing. Ada yang membuat kategori amarah dosa dan amarah tidak dosa, mirip-mirip bohong putih dan bohong hitam. Tetapi kita yang percaya pada Kristus dengan sepenuh hati tahu bahwa dengan nama apa pun disebut, dosa tetaplah dosa di dalam Buku Ilahi.

Melatih Pengendalian Diri – Penting
Kita tahu bahwa kita bertanggung-jawab pada perilaku hidup kita masing-masing. Artinya kitalah yang pertama kali yang semestinya mengendalikan emosi kita. Adalah tidak elok bila kita bisanya hanya menyalahkan orang lain ketika kita naik darah, amarah meledak. Bagaimana pun kesal atau dongkolnya hati karena ulah orang lain, kitalah yang bertanggung-jawab pada emosi kita dan mengendalikannya.

Peperangan rohani dimainkan di panggung teater kehidupan sehari-hari di mana kata-kata dan tindakan mencerminkan karakter yang sesungguhnya. Setiap kali kita terlalu emosional akan seseuatu hal, setiap kali kita menyerah pada ledakan amarah, kita mengalami satu lagi kegagalan pertempuran rohani. Contohnya, ketika kita marah, otak kita macet dan mulut terbuka. Kata-kata menyakitkan berhamburan dari lidah kita.

Penulis Kitab Yakobus mengatakan, lida sesuatu “yang buas, yang tak terkuasai dan penuh racun yang mematikan ... dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk.” (Yak. 3:8-10). Mestinya dari mulut kita yang keluar adalah berkat, kata-kata yang menyejukkan. Untuk itulah kita perlu belajar mengendalikan organ tubuh “yang tak terkuasai” itu agar tidak mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Dan pada saat yang sama kita pun belajar mengendalikan amarah kita.

Amarah yang dikendalikan akan berdampak positif luar biasa pada diri sendiri dan orang lain. Tidak ada lagi kata-kata menyakitkan meluncur dari lidah kita. Tak ada lagi perkakas dapur beterbangan dari tangan kita. Amarah yang dikekang bisa mengurangi kerugian moril dan materil.

Belajarlah mengendalikan amarah, dan lebih efektiflah mencegahnya agar tidak menggelembung dan berpusar tak terkendali. Kekang amarahmu!

Finansial Gereja

Oleh Roy E. Cogdill

Gereja Tuhan diikut-sertakan dalam misi besar surga –menyelamatkan orang berdosa. Dalam melaksanakan dan mendanai pekerjaan gereja tentu uang mutlak diperlukan. Karena itulah penggunaan uang dan kontribusi yang tepat menjadi tema krusial dalam Perjanjian Baru.

Dosa pertama di jemaat di Yerusalem yang diceritakan kepada kita adalah “kecurangan” Ananias dan Safira dalam hal memberikan “korban” kepada Allah (Kis. 5:1-2). Sebuah contoh yang tidak baik!

Seperti dalam rencana lainnya, Allah telah meletakkan hukum yang menjadi pedoman; agar rencana-Nya itu dilakukan dengan komitmen penuh. Kewajiban setiap orang Kristen adalah menaati semua peratu-ran yang telah Ia tetapkan. Kewajiban adalah pribadi. Kita harus melaksanakan rencana dan rencana itu akan berjalan.

Diberikan prinsip-prinsip umum untuk mengatur financial gereja. Antara lain bahwa setiap orang Kristen adalah bendahara. Maksudnya orang Kristen adalah “manager keuangan” pribadi dalam berkat-berkat yang Ia karuniakan kepada umat-Nya.

Setiap pribadi dituntut untuk menggunakannya dengan bijak, serta mengembalikan kepada-Nya dalam persembahan seperti yang telah diatur dalam firman-Nya. Maka pertanyaan yang perlu kita jawab dan renungkan adalah sudahkan saya menjadi bendahara yang baik bagi Tuhan?

Prinsip penting lain yang dicatat dalam Buku-Nya adalah bahwa setiap pribadi dituntut untuk berpartisipasi dalam misi gereja. Dikatakan “hendaklah kamu masing-masing” (2 Kor. 8:12) “memberi” sesuai de-ngan apa yang kamu peroleh. Kemampuan pribadi adalah dasar tanggung-jawab pribadi. Maka peran dan partisipasi “masing-masing” akan meringankan beban bersama. Seseorang tidak dapat berada dalam “persektuan penuh” sampai dia melakukan bagiannya.

Mengapa harus berpartisipasi? Karena setiap orang Kristen adalah mu-rid –murid Yesus. Seorang murid menunjukkan tanggungjawabnya de-ngan pengorbanan diri. Dalam konteks financial gereja, Yesus menun-tut pengorbanan pribadi murid-murid-Nya, yang dalam hal ini berarti setiap orang Kristen harus memberi. Bukan sekadar memberi, melainkan memberi dengan limpahnya.

Memberi harus disertai dengan kasih dan sukarela. Maksudnya mem-beri bukan karena terpaksa –“... jangan dengan sedih hati atau karena paksaan;” (2 Kor. 9:7), penuh tujuan, sistematik dan terencana.

Memberi dengan limpahnya akan membuka pintu ke dalam rahmat dan berkat Allah bagi mereka yang melakukannya. Ini membantu kita agar kaya dalam kemurahan. Dia yang percaya pada janji-janji Allah akan memberi dengan murah hati tanpa rasa takut akan menderita karena melakukannya –memberi kepada-Nya. (*)