Jumat, 30 Oktober 2009

Perlukah Bayi Dibaptiskan?


Judul Asli: Should Babies Be Baptized?))
(diterjemahkan dengan penyesuaian tata bahasa seperlunya)

Apakah baptisan itu? Siapa yang harus dibaptiskan? Lalu, apa tujuan baptisan? Kira-kira itulah pertanyaan yang kerap diajukan oleh orang Kristen, dan sering pula menjadi bahan perdebatan dan tanya jawab hingga saat ini. Ada pula kelompok orang yang membaptiskan anak-anak, bahkan bayi–balita. Apakah ada jawaban yang bisa dipahami dengan mudah dan semua sependapat dengan jawaban itu? Allah telah menyediakan jawabannya –dalam Alkitab.

Baptisan –Definisi
Beragam cara dipakai kalangan orang Kristen membaptiskan orang sekarang. Ada dengan cara air dipercikkan ke kepala objek baptisan, yang lain dengan menuangkan air, ada juga dengan cara membenamkan (–membenamkan berarti menempatkan seseorang –seluruh tubuhnya– di dalam air untuk waktu yang singkat). Berbeda-beda. Lalu mana yang benar?

Kitab Suci mengatakan baptisan adalah suatu penguburan. “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rm. 6:4).


Jika Anda menguburkan jasad, tentu Anda tidak akan memercikkan tanah ke atas kepala tubuh yang telah mati itu, tidak juga hanya menyiram bagian kepala dengan tanah, tapi menutupi seluruhnya dengan tanah. Dikubur. Seperti itulah gambaran baptisan.

Baptisan, sesuai dengan Kitab Suci, adalah penguburan (pembenaman ke dalam air). Artinya, memercikkan air di atas kepala seseorang bukanlah baptisan yang benar. Seluruh tubuhnya harus dikuburkan –masuk– ke dalam air. “Akan tetapi Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis.” (Yoh. 3:23).
Yohanes Pembaptis memilih suatu tempat yag banyak airnya untk membaptiskan orang. Memercik atau menuang air hanya butuh sedikit air. Penguburan butuh banyak air. Yohanes Pembaptis tidak memercikkan air, tapi menguburkan ke dalam air.

“Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.” (Kis. 8:38, 39).

Ketika Filipus membaptiskan sida-sida itu, keduanya turun ke dalam air. Setelah dibaptis, mereka keluar (dari air). Untuk memercikkan atau menuang air tidak perlu turun ke dalam air. Tapi membaptiskan seseorang ke dalam air –menguburkan– harus turun. Artinya, Filipus membaptiskan sida-sida dari Etiopia itu dengan cara menguburkannya ke dalam air, bukan dipercik.

Objek Baptisan
Alkitab mengajarkan bahwa ada beberapa hal penting yang mesti dilakukan objek baptisan. Pertama, harus percaya kepada Yesus Kristus. Firman-Nya, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Mark. 16:6). Percaya maksudnya beriman dalam kebenaran firman Yesus. Caranya? Mendengarkan firman Allah. Rasul Paulus berkata, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Rm. 10:17)

Maka sebelum dibaptiskan, objek baptisan harus beriman dulu, di dalam Yesus. Membaptiskan seseorang sebelum percaya kepada Yesus dan firman-Nya adalah melakukan sesuatu yang tidak berkenan kepada Allah –yang tidak diperintahkan dalam firman-Nya. Baptisan seperti itu tidak tepat.

Sekarang mari kita ajukan pertanyaan. “Dapatkah seorang bayi percaya dalam Yesus dan bahwa Ia adalah Anak Allah yang hidup?” Anda tahu jawabannya. Berarti bayi tidak perlu dibaptiskan. Tidak tepat apabila seorang bayi menjadi objek baptisan.

Sebelum dibaptis, objek baptisan itu juga harus mengaku imannya dalam Kristus lebih dulu. “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” (Rm. 10:9, 10). Mustahil bayi bisa melakukannya.

Contoh terbaik tentang pengakuan iman terdapat dalam kitab Kisah Rasul 8. Filipus mengajar seorang Etiopia. Dia percaya. Kemudian –dalam perjalanan mereka– mereka tiba di suatu tempat yang banyak airnya. Orang Etiopia itu minta dibaptiskan. Namun sebelum dibaptiskan, ia mengaku imannya bahwa ia percaya Yesus Kristus adalah Anak Allah yang hidup. Kemudian ia dibaptiskan. Jelas sekali, baptisan mengikuti pengakuan.

Kita bertanya lagi. Dapatkah bayi mengaku imannya dalam Yesus? Maka dari itu bayi tidak siap untuk dan tidak perlu dibaptiskan. Bayi bukanlah objek yang tepat untuk baptisan yang tepat. Bayi belum tahu apa-apa tentang pengakuan iman. Sebab mengakui Yesus sebagai Putra-Nya harus dilakukan sebelum baptisan.

Objek baptisan juga harus bertobat dulu. Rasul Petrus dengan tegas menjawab, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis. 2:38).

Bertobat artinya merobah cara hidup dari ketidakbenaran, dari perbuatan jahat ke perbuatan yang baik, selalu melakukan apa yang benar, meninggalkan kejahatan. Merobah pola pikir, dari yang jahat ke yang baik. Selalu melakukan apa yang baik. Selalu melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, tidak lagi menurut kehendak sendiri. Apakah bayi bisa dan tahu arti bertobat? Dapatkah dia merobah cara hidupnya? Maka bayi tidak perlu dibaptiskan, sebab praktek baptisan dilakukan sesudah pertobatan.

Lalu apa yang telah kita pelajari dalam traktat ini sejauh ini? Bahwa objek baptisan itu harus mendengarkan firman Allah dulu, beriman, percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup, mengaku imannya di hadapan manusia, bertobat baru dibaptiskan.

Dibaptiskan dulu baru percaya dan bertobat tidaklah tepat. Itu sebabnya bayi bukanlah objek yang tepat untuk dibaptis. Bayi tidak tahu apa arti dan tujuan mengaku iman dan ia tidak perlu bertobat. Alasannya, pertama, bayi tidak memiliki dosa. Kedua, bayi tidak kenal dosa.

Praktekkanlah apa yang diajarkan Kitab Suci. Kita bisa sependapat, tak perlu adu urat leher jika kita meletakkan ajaran firman Allah di atas ajaran manusia. Kitab Suci mencatat, “Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan.” (Kis. 8:12).

Harus Memberi Diri Dibaptis –Tujuan
Alkitab menyebutkan dasar dan tujuan baptisan. Pertama, jika ingin selamat, harus dibaptis. “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Mark. 16:6). Rasul Petrus juga mengatakan, “Kamu diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan ...” (1 Pet. 3:21).

Kedua, jika ingin dosa-dosanya diampuni, maka harus dibaptiskan. Petrus berkata kepada orang banyak pada hari Pentakosta, “... bertobatlah, dan memberi diri dibaptiskan di dalam nama Yesus Kristus untuk keampunan dosa-dosa.” Kis. 2:38). Tidak ada cara lain di mana seseorang selamat saat ini, atau dosa-dosanya diampuni tanpa dibaptiskan (dikuburkan di dalam air) sesuai dengan Kitab Suci.

Tujuan lainnya, agar seseorang itu dimasukkan “ke dalam Kristus.” Menjadi orang Kristen. Anda belum menjadi orang Kristen jika belum masuk “ke dalam Kristus.” Bagaimana caranya? Rasul Paulus, dalam suratnya kepada jemaat Galatia, menjawab, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.” (Gal. 3:27).

Anda masuk “ke dalam Kristus” melalui baptisan dan Anda pun menjadi orang Kristen. Itu juga menempatkan Anda ke dalam tubuh Kristus, yaitu Gereja-Nya. “Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” (Ef. 1:22,23).

Gereja adalah orang yang telah diselamatkan dan ditambahkan ke dalam jemaat-Nya. Kristus adalah penyelamat dan penebus Gereja. Jika Anda ingin Kristus menjadi Juruselamat Anda, maka Anda harus berada di dalam Gereja-Nya. Jalan satu-satunya untuk menjadi orang Kristen dan masuk ke dalam Gereja-Nya adalah melalui baptisan yang benar.

Intisari
Apa kata Alkitab tentang dan cara baptisan? Baptisan adalah diselamkan, menempatkan objek baptisan sepenuhnya ke dalam air untuk sesaat. Mengapa harus dibaptiskan? Agar dosa-dosanya diampuni, dan selamat. Baptisan ini membuatnya menjadi bagian dari tubuh Kristus, yaitu Gereja.

Siapa yang harus dibaptis? Orang yang telah mendengar firman Allah, percaya, bertobat, mengaku imannya di hadapan manusia. Sangat sederhana, bukan? Jadi, bayi tidak perlu dan belum bisa dibaptiskan.

Apakah Anda telah memberi diri dibaptis menurut cara dan kententuan Kitab Suci? Jika ya, apakah Anda melakukannya setelah mempelajari firman-Nya, percaya, mengakui Yesus adalah Anak Allah yang hidup, lalu bertobat? Atau mungkin Anda belum dibaptis menurut cara Alkitab? (*)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
© Truth for the World PO Box 751135
Memphis, TN 38175-1135 USA

Alkitab, Kitab yang Berisi Fakta-fakta


Oleh : Lloyd Frederick*

Dewasa ini, dalam dunia keagamaan, semakin banyak teori bermunculan. Saya tidak tertarik pada teori, saya hanya tertarik pada fakat-fakta Kekristenan Perjanjian Baru. Hanya ada dua bidang ilmu saat ini: Fakta dan Teori. Dalam sebuah fakta terdapat apa yang benar-benar ada, sementara dalam teori hanya berupa ide-ide yang belum terbukti kebenarannya, hanya ada dalam pikiran manusia, yang sewaktu-waktu bisa saja terbukti tidak tepat.

Sebuah fakta tidak dapat dirubah. Sia-sialah usaha manusia apabila mencoba merubah fakta-fakta. Sebaliknya, teori-teori dapat dirubah, sebab teori terdapat dalam pikiran manusia yang bisa berubah-ubah. Teori seseorang mungkin saja kelak terbukti menjadi sebuah fakta. Namun sebaliknya, ada juga kemungkinannya teori tersebut terbukti salah. Dalam keagamaan tidak ada tempat bagi teori, hanya bagi fakta-fakta yang tidak terbantahkan.

Alkitab adalah sebuah kitab yang berisi fakta-fakta sederhana, yang dinyatakan dalam satu atau dua suku kata. Pengajaran yang disampaikan oleh para rasul, yang mereka dapatkan dari bimbingan dan pimpinan wahyu dari surga, adalah pengajaran yang sangat sederhana. Orang banyak dapat mengerti dengan baik. Alkitab adalah kitab yang sederhana. Kata-kata dalam Alkitab merupakan kata-kata yang dapat dimengerti oleh semua orang. Itu adalah kitab Anda dari Allah. Bacalah itu untuk meningkatkan pengetahuan Anda tentang Allah, dan juga tentang hubungan dan tanggungjawab Anda kepada-Nya.

Alkitab diawali dengan pernyataan akan sebuah fakta mengenai penciptaan. Sejak saat itu manusiapun mulai berteori. Setiap teori mengenai penciptaan yang berkembang tidak mengurangi kebenaran akan pernyataan sederhana dalam kitab Kejadian itu.

Dalam beberapa dekade terakhir ini, banyak ilmuwan telah membuang sama sekali semua teori evolusi sebagai sebuah fabrikasi yang tidak dapat dibuktikan tentang setiap fakta baru mengenai asal-usul kehidupan, hanya fantasi. Tahun berlalu, dan penemuan teori evolusi semakin lemah dan semakin lemah, dan fakta-fakta yang dicatat dalam Kejadian Pasal 1 makin kuat dan semakin kuat.

Berbagai teori bermunculan, tumbuh subur, lalu gugur; namun fakta bertahan selamanya. Fakta-fakta dalam firman Allah merupakan senjata ampuh yang dapat dipakai untuk menentang orang-orang yang keyakinannya hanya berdasarkan gelombang waktu dan “kecaman yang lebih tinggi,” telah tumbang sia-sia. Sains yang benar, dari pada menyangkal fakta-fakta yang terdapat dalam firman Allah, tanpa pengecualian, telah menjadi saksi yang dapat dipercaya.

Dalam kitab Kejadian kita membaca kisah tentang air bah yang menutupi seluruh permukaan bumi serta menjadikan lautan yang tak bertepi. Fakta-fakta sederhana yang mengisahkan air bah tersebut telah diserang sejak saat itu, namun tak satu teori pun yang menyerang fakta-fakta itu bisa mengurangi kisah dan fakta-fakta air bah. Para ilmuwan yang menemukan kerang di atas gunung, yang hanya bisa hidup di dalam lautan, mungkin bisa dijadikan teori mengapa kerang-kerang itu ada di sana dan ilmuwan tersebut harus merubah teorinya sebelum ajal menjemputnya.

Alkitab mengatakan bahwa Yesus lahir dari seorang perawan dan fakta itu tetap ada meskipun diserang dengan kecaman tingkat tinggi. Teori-teori buatan manusia, yang telah menyangkal kelahiran-Nya dari seorang perawan dan dipakai juga untuk menyerang Yesus bahwa Dia hanyalah seorang yang baik. Jika fakta kelahiran dari seorang perawan adalah suatu kebohongan maka dunia telah menerima berkat-berkat yang agung melalui suatu kebohongan dan Yesus telah menjadi pembual terbesar.

Doktrin-doktrin dalam Perjanjian Baru juga dituliskan dalam statemen sederhana yang menjdi fakta-fakta. Yesus berfirman, ”Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Mark. 16:16). Yesus mengatakan fakta sederhana bahwa “Siapa yang percaya dan dibaptiskan akan diselamatkan.” Namun dunia keagamaan menyuguhkan teori yang mengatakan baptisan Perjanjian Baru tak ada sangkut pautnya dengan keselamatan manusia. Nah, di sini kita temukan lagi fakta versus teori. Sama seperti penganut paham modernis coba menyangkal keberadaan Allah dalam teori-teori buatan mengenai penciptaan, demikian juga dengan orang yang berusaha menyangkal otoritas Yesus dengan mengatakan apa yang kontradik dengan yang diajarkan Yesus.

“Topi dan sepatu” berarti topi plus sepatu. “Kapur tulis dan penghapus” berarti kapur tulis plus penghapus.” “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan,” berarti siapa yang percaya plus dibaptiskan akan diselamatkan. Bila manusia membuat teori seperti ini “Siapa yang percaya dan tidak dibaptiskan akan diselamatkan” itu berarti dia telah menghilangkan tanda plus (+) dari firman Allah dan menggantinya dengan tanda minus (-); ia telah merubah kebenaran firman Allah dengan kebohongan. Ia tidak punya hak sama sekali untuk mengecam penganut paham modernis atau evolusi sebab dalam kenyataannya ia juga mengajarkan pengajaran yang bertentangan dengan fakta-fakta Perjanjian Baru.

Para penulis Perjanjian Baru dengan mudah menyebutkan nama, waktu dan tempat dengan kesederhanaan, tidak ada muslihat atau kecurangan, membiarkan fakta-fakta tersebut terbuka diserang oleh para pengkritik. Akan tetapi para pengkritik itu tidak bisa menjatuhkan satu fakta pun, dan semua akhirnya menerima satu fakta nyata yang terdapat dalam Kitab suci yang berbunyi: “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” Juga dinyatakan dalam Kitab Suci bahwa Tuhan akan menghakimi apa yang tersembunyi dalam pikiran manusia, oleh Yesus Kritus, sesuai dengan Kitab Suci.

Kita akan berdiri menghadap kursi pengadilan Kristus, dan setiap orang akan menerima apa yang telah dilakukan pada saat ia hidup sesuai dengan segala perbuatannya. Saya sangat yakin bahwa itu semua suatu saat nanti pasti akan terjadi sebab nabi-nabi Allah tidak pernah berdusta dalam setiap nubuatan yang mereka nyatakan .

Bila saya membaca Kitab Suci yang mengatakn bahwa langit dan bumi akan berlalu tapi firman Allah akan kekal selamanya, dan bila saya baca bahwa bangsa-bangsa akan berdiri di hadapan seorang Hakim Agung, dan firman Allah akan menjadi landasan hukum untuk mengadili, saya tidak punya pilihan lain selain dari percaya dan menerimanya.

Para pembaca, Anda dihimbau untuk kembali ke Alkitab. Setiap nama dan kredo buatan manusia harus dibuang jauh-jauh. Segala sesuatu yang dipraktekkan dalam keagamaan yang tidak dinyatakan dalam firman Allah berarti itu teori buatan manusia, dan supaya kita tidak hanya “nyaris” namun benar-benar berkenan kepada-Nya, maka yang harus kita amalkan dalam kehidupan-ibadah kita haruslah selaras dengan apa yang tercatat dalam firman Allah.

Judul Asli: The Bible, A Book of Facts*
Dialihbahasakan oleh Marolop Simatupang
(dengan penyesuain tata bahasa seperlunya)

Senin, 07 September 2009

Menulis – Sebuah Pelayanan Dengan Kasih*

Oleh Marolop Simatupang

Berbicara tentang pelayanan dalam lingkup kekristenan biasanya sebagian orang berpendapat hanya orang-orang tertentu saja, seperti mereka yang mempunyai gelar teologis di depan atau di belakang namanya yang “boleh” melayani. Namun, bila disinggung tentang kasih, semua pasti setuju bahwa orang Kristen harus mengasihi Tuhan dan sesama.

Sebenarnya, apa makna yang dikandung dalam kata “Mengasihi dan Melayani” Tuhan? Apakah aplikasi kedua kata tersebut terpisah? Terbatas kepada sebagian kalangan saja? Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama adalah tanggung jawab orang Kristen (Mat. 22:37-39). Untuk itu semua orang Kristen harus berperan aktif “melakukannya dengan sukacita” (Rom. 12:6-8).

Wujud nyata kasih kita kepada-Nya adalah dengan melayani Dia melalui berbagai sarana dan media. Dalam konteks melayani Tuhan, orang Kristen harus menunjukkan paling tidak tiga hal kepada dunia: (1) Orang Kristen adalah media itu sendiri, “yang dapat dibaca sesama” (2 Kor. 3:2-3); (2) Menyebarkan firman-Nya lewat media lain, dan (3) Mengajar orang lain tentang cara-cara memperoleh keselamatan.

Untuk menyebarkan Kabar Baik itu tersedia cukup banyak media yang dapat digunakan. Salah satu di antaranya adalah media cetak. Dalam hal ini, media cetak yang dimaksud sifatnya umum, bisa mencakup seperti koran, tabloid, majalah, jurnal bulanan atau triwulan, traktat dan buletin mingguan gereja, dan sebagainya. Media elektronik juga bisa dimanfaatkan. Media elektronik yang paling umum, mudah diakses serta gampang dioperasikan adalah internet, seperti situs website, ngebloging, atau dengan menyampaikan pesan-prinsip-alkitabiah lewat situs pertemanan di jejaring sosial yang lagi tren, friendster, facebook.

Menggali dan menulis kembali pesan-pesan Ilahi dalam berita yang termuat dalam lembaran tercetak merupakan suatu pelayanan dengan kasih kepada Tuhan dan sesama. Firman Tuhan yang diberitakan dengan sarana media cetak sangat besar manfaatnya dalam menjangkau jiwa-jiwa yang haus akan kebenaran karena ia dapat pergi ke mana-mana tanpa dilihat atau dicurigai sebagai “orang” asing. Tulisan bisa menjumpai manusia tanpa batas.

Pada dasarnya setiap orang adalah penulis. Orang yang mampu berbicara dengan baik dan melek huruf pasti bisa menulis. Dalam arti tidak sekadar menggoreskan huruf, tapi menyusun kata-kata menjadi kalimat dan alinea yang baik yang pada akhirnya menjadi tulisan yang utuh. Hanya ketakutan (menulis) itu yang dapat mencegah siapa saja menulis.

Alasan Menulis
Sabda Ilahi itu untuk semua orang. Maka dari itu perlu diberitakan melalui berbagai sarana. Memberitakan pesan-pesan Sang Khalik itu merupakan bagian dari pelayanan dan pengabdian manusia sebagai mahkluk ciptaan-Nya. Pesan surgawi yang dimuat dalam lembaran tercetak sangat ampuh menyadarkan manusia dari kesalahannya serta memberi motivasi untuk berbuat baik. Sebab dalam tulisan itu diungkapkan gagasan dan fakta-fakta alkitabiah dengan maksud untuk meyakinkan, mendidik, menghibur serta memberi instruksi. Pesan-pesan ilahi itu akan mengisi kekosongan hati manusia sekaligus menjadi penyejuk jiwa yang haus akan informasi teologis.

Menulis juga bisa menjadi sarana untuk berefleksi, melihat kembali apa yang dipelajari, diolah kemudian dituangkan dalam tulisan. Pada saat menulis pikiran bekerja, mengeksplorasi visi, hasrat dan menorehkannya di atas kertas. Sebenarnya, seorang penulis, saat menulis sedang berbicara kepada diri sendiri, dalam hati. Ia harus mendengar pesan itu sebelum dituangkan melalui pena. Dengan demikian, ia terlebih dahulu “mesti” menguasai materi yang ditulisnya sekaligus membawa dia ke arah pertumbuhan pengetahuan.

Tentu, aktivitas menulis akan memacu si penulis untuk menggali informasi tentang subjek yang akan ditulis lebih dulu. Dengan demikian wawasan penulis dan pembaca pun bertumbuh, semakin dewasa, serta (mudah-mudahan) akan diterapkan dalam hidup sehari-hari yang mewarnai tulisan itu. Tulisan itu menjadi koreksi diri (self-correction) dan sesama.

Landasan Menulis
Dalam Kitab Suci, terdapat landasan alkitabiah dalam menulis. Allah berfirman, dalam kitab Kel. 34:1 dan 27 agar Musa menuliskan firman-Nya pada loh batu. Nabi Habakuk mendapat perintah untuk menulis penglihatan itu agar orang sambil lalu dapat membacanya (Hab. 2:2). Tabib Lukas melakukan investigasi (hunting news) agar memperoleh informasi yang akurat, kemudian menuliskannya dalam bentuk buku (Kitab Lukas dan Kisah Para Rasul).

Di Pulau Patmos, Yohanes mendapat penglihatan. Kemudian ia diperintahkan supaya menulis penglihatan itu dalam kitab serta mengirimkannya kepada ketujuh jemaat di Asia Minor, (Wahyu 1:10-11). Dari tersebut nampak jelas kalau menulis bukanlah semata-mata gagasan manusia. Sang Pencipta sendiri menghendaki agar pesan-pesan-Nya ditulis. Dan Alkitab adalah karya tulis Maha Agung-Nya (2 Tim. 3:16).

Menulis dan Evangelisme
Menulis pesan-pesan Sang Khalik di media cetak dan elektronik termasuk dalam pelayan literatur. Kesempatan untuk melayani-Nya terbentang luas. Peluang itu harus dipergunakan sebaik dan semaksimal mungkin. Kesempatan emas itu mesti diraih. Ladang informasi itu harus direbut demi kemuliaan-Nya.

Sebenarnya, komunikasi media cetak adalah unsur yang tak terpisahkan dari dunia penginjilan. Sejak semula, isi Alkitab dipublikasikan untuk menyebarkan benih ilahi itu. Kalau dulu ditulis di daun lontar, di kulit kayu papirus, kulit binatang atau batu (prasasti), dan gampang punah, kini, dengan dukungan teknologi canggih yang semakin berkembang pesat kita harus melakukan hal yang sama, berbicara langsung ke hati setiap orang tentang Kristus, melalui literatur. Spirit mempublikasikan pesan ilahi itu mestinya harus lebih menggebu-gebu sekarang karena sarana dan prasarana lebih mudah dan tersedia banyak fasilitas.

Program penginjilan bisa dipromosikan lewat media cetak dan elektronik. Kalau media itu bisa dan cukup efektif dipakai sebagai media promosi penginjilan, berarti ia juga bisa dipakai sebagai alat penginjilan itu sendiri. Sebab, lewat artikel atau tulisan rohani seorang penulis dapat menjangkau khalayak luas yang mungkin belum ia kenal sama sekali. Rangkaian kata-kata tersebut dibaca, dipahami dengan baik, dan satu kalimat bisa terpatri di benak pembaca yang akan memengaruhi pola hidupnya kelak. Sebab kata-kata yang tercetak merupakan representasi dari kata-kata berbunyi, yang memberi kita kekuatan intelektual dan emosional.

Kekuatan Tulisan
“Bila saja Anda memberi 26 serdadu, maka saya akan menaklukkan dunia,” kata Benyamin Franklin. Ketika ditanya apa yang dimaksud dengan 26 serdadu, ia menjawab, ”Huruf A sampai Z.”

Tulisan memiliki kekuatan –tanpa batas– dan bertahan lebih lama dibandingkan dengan senjata api sekalipun. Ia tak lekang dimakan zaman, tetap hidup di hati pembaca yang jujur dan berpikiran terbuka. Dunia juga mengakui bahwa informasi memiliki kekuatan dahsyat. Seperti yang kerap diucapkan para pakar komunikasi dan penggiat media jika ingin menguasai dunia, kuasailah informasi dan media, entah itu cetak atau elektronik.

Media cetak adalah ladang emas yang harus digarap dengan serius. Dengan pertolongan Tuhan, para penulis Kristen punya peluang emas untuk membuka jalan dan hati manusia kepada firman-Nya. Melayani pembaca firman yang ditulis adalah melayani Dia yang empunya firman. Kabar Baik itu harus diberitakan oleh umat Tuhan itu sendiri. Jika Tuhan yang membuka jalan, siapa yang dapat menutupnya?

-------------------------------------------------------------------------------------------------
*Telah dimuat di Majalah NARWASTU Pembaruan
Edisi September No. 70/2009
Dengan judul: “Kekuatan Tulisan dalam Penginjilan.”

Ada Apa Dalam Sebuah Nama

Oleh: Mac Layton

“Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” (1 Petrus 4:16)

Ada Apa Dalam Sebuah Nama?
Ya, dalam sebuah nama terdapat makna!
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat d-selamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12)

Dari ayat di atas kita belajar bahwa keselamatan hanya terdapat di dalam nama Yesus. Dan juga segala sesuatu yang kita lakukan baik dalam perbuatan maupun perkataan harus dilakukan di dalam nama Yesus, (Kolose 3:17). Bahwa nama Kristus lebih tinggi dari semua nama adalah benar, (Filipi 2:9; Ibrani 1:4).

Pada surat-surat berharga seperti cek, akte lahir, identitas pribadi, seperti KTP, SIM, Pasport, dll., penulisan nama yang tepat dan benar sangat penting. Tidak boleh ditambah atau pun dikurang. Hal yang sama berlaku dalam konteks kerohanian. Sebagai manusia yang cerdas mestinya kita tahu bahwa Ia telah memberikan nama yang alkitabiah kepada manusia yang menandakan bahwa manusia adalah milik-Nya.

Dalam Perjanjian Lama
Sejak zaman penciptaan, dalam kitab Kejadian, nama selalu pen-ting, (Kejadian 2:19). Allah selalu menghendaki umat-Nya mengenakan nama yang berasal dari Dia saja. Kepada bangsa Israel, Ia berfirman bahwa Ia akan datang menemui mereka hanya jika mereka memakai nama yang Ia berikan kepada mereka, (Keluaran 20:24).

Ia tidak menghendaki kemuliaan-Nya diberikan kepada yang lain, (Yesaya 42:8). Ayub juga mengatakan hal yang sama bahwa ia tidak akan menyanjung-nyanjung siapa pun, (Ayub 31:21,22).

Nabi-nabi Tuhan, melalui wahyu dari-Nya, menunjuk suatu hari di mana Allah akan memberikan nama baru kepada umat-Nya, yang diucapkan oleh mulut Tuhan sendiri, dan nama itu kekal, (Yesaya 56:5-6; 62:2).

Nama Dalam Perjanjian Baru – Kristen
“Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” (Kisah Rasul 11:26). Murid-murid itu disebut dengan nama —tanpa embel-embel di belakangnya— Kristen.

Jelaslah! Karena Allah telah memberikan nama Kristen pada umat-Nya, maka nama itulah yang harus dikenakan, bukan nama pilihan dan buatan manusia. Juga janganlah ditambah-tambahi!

Yesus berbicara mengenai mereka yang memakai nama buatan manusia, “Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak meneri-ma Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?” (Yohanes 5:43, 44).

Firman di atas sangat mengena dengan zaman sekarang ini sebab banyak orang menamai kelompok-kelompok tertentu, kelompok mereka, sesuai dengan kemauan mereka sendiri, mengindahkan na-ma mulia yang Ia berikan dalam Kitab Suci. Nama Kristus dikubur di bawah puing-puing egoisme dan ambisi negatif manusia!

Jadi, kita bukan saja harus menjadi umat-Nya, tapi juga harus mengenakan nama yang Ia berikan –Kristen. Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan, (Matius 6:24). Memakai nama buatan manusia berarti menolak nama yang telah diberikan Tuhan.

Nama Itu Kekal dan Bersifat Ilahi
Mengapa kita harus mengenakan nama itu –Kristen?
Dalam nama itu Kristus dan Allah dimuliakan, dan dihormati.
“Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.” (1 Petrus 4:16). Nama ciptaan manusia menghormati manusia dan organisasinya, nama Kristen menghormati Kristus.

2. Dalam nama itu terdapat kesatuan
Dengan memakai nama yang berbeda-beda, sekte-sekte, maka suatu jalan dan bibit perpecahan dan perselisihan di-mulai. Namun tak seorang pun pengikut Kristus yang ke-beratan dengan nama Kristen. Jadi mengapa tidak memakai nama itu saja? Mustahil bisa mencapai kesatuan yang harmonis bila memakai nama buatan manusia sebab masing-masing akan menonjolkan nama ciptaannya sendiri. Dalam nama Kristen terdapat kesatuan.

3. Nama Kristen adalah nama terhormat (Yakub 2:7)
Itu sebabnya rasul Paulus meyakinkan orang-orang agar menerima Injil dan menjadi orang Kristen, (Kisah Rasul 26:28). Gereja adalah pengantin perempuan Kristus (Efesus 5:26, 27), dan setiap pengantin perempuan senang menghormati nama pengantin prianya, suaminya, yaitu dengan memakai nama dia saja.

Agar Benar Dihadapan Allah – Harus Benar Dalam
Nama
Agar berkenan kepada-Nya, manusia harus memakai nama yang diotoritaskan saja. Dia tidak akan memberikan kemuliaan-Nya kepada yang lain. Gereja harus memakai nama Dia saja sebab Gereja adalah milik-Nya. Ia yang mendirikan Gereja-Nya, (Matius 16:18). Paulus berkata, “Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.” (Roma 16:16).

Karena Kristus yang mendirikan Gereja Perjanjian Baru, Kepala Gereja, satu-satunya pintu menuju gereja-Nya, dan Ia fondasi gereja-Nya, maka Gereja itu tidak dapat disebut dengan nama lain selain dari nama Dia yang berhak, Kristus, yaitu sidang jemaat (Gereja milik) Kristus – The Church of Christ.

Namun nama saja tidak cukup, sebab masih ada ciri-ciri lain yang diberikan Allah – nama itu baru satu bagian yang penting. Nama bagi Allah sangat penting, sebab:
1. Nama itu memperkenalkan dirinya.
2. Nama itu menyatakan milik.
3. Nama itu juga menggambarkan sifat dasarnya.

Lebih jauh lagi, dalam nama itu kita berdoa dan dibaptiskan, maka nama itu yang harus dipakai, (Yohanes 14:13; Matius 28:18-20). Tidak ada yang begitu bodohnya membaptiskan orang dalam nama Yohanes Pempabtis, atau berdoa dalam nama Martin Luther, Maria, Calvin, Paulus, dll. Kalau begitu, mengapa memakai nama mereka?

Jika ada yang berkata tidak ada apa-apa dan tidak ada artinya dalam sebuah nama, dan jika yang mereka maksud adalah nama buatan manusia, mereka benar. Namun bila mengatakan tidak ada apa-apa dalam nama yang diberikan Tuhan, nama Ilahi, nama yang Ia berikan kepada umat-Nya tidak penting, mereka salah.

Sulit dipercaya melihat banyak orang berkumpul dan “berbakti” dalam nama manusia, dengan nama “gereja” yang sama sekali tidak pernah disebutkan dalam Alkitab!

Jika Anda dibaptiskan dalam nama Kristus, (Matius 28:19-20), mengenakan nama yang Ia berikan – Kristen, (Kisah Rasul 11:26; 26:28; 1 Petrus 4:16), berdoa dalam nama-Nya, (Yohanes 14:13), berkata dan berbuat dalam nama -Nya, (Kolose 3:17), berbakti dalam Gereja-Nya – Gereja Kristus, maka Anda bisa menghadap takhta Allah dengan yakin dan penuh sukacita. Muliakanlah Dia dalam nama, dengan cara, serta dalam otoritas yang Ia kehendaki.
-------------------
Alih bahasa dan adaptasi seperlunya oleh: Marolop Simatupang

Dosa yang Tidak Akan Diampuni

Oleh Perry B. Cotham

Salah satu topik sulit dan sedikit membingungkan bagi beberapa orang ketika mempelajari Kitab Suci adalah subjek yang disebut dengan “dosa yang tidak akan diampuni.” Meskipun pernyataan persis seperti itu tidak terdapat dalam Alkitab, namun banyak orang yang bertanya dan ingin penjelasan tentang hal itu.

Banyak orang yang khawatir jangan-jangan telah berbuat “dosa yang tidak akan diampuni,” atau “dosa yang melawan Roh Kudus.” Karena pernyataan Kitab Suci tentang subjek ini telah menimbulkan keingin-tahuan yang begitu besar bagi mereka yang berhati jujur dan berpikiran terbuka, maka pelajaran ini perlu ditelaah dengan saksama.

Pertanyaannya adalah, “Apakah Alkitab mengajarkan bahwa mungkin saja seseorang itu berada di luar jangkauan anugerah Allah?” Apakah “dosa yang tidak akan diampuni” itu?

Alkitab dengan jelas telah mengajarkan syarat-syarat agar selamat, di antaranya:
Titus 2:11: “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah
nyata.”
Markus 16:15, 16: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”

Jelas, Tuhan tak menghendaki seorang pun binasa. Ia menghendaki agar “semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (1 Tim. 2:4).

Namun kemudian pertanyaan timbul, “Bukankah Yesus telah berkata bahwa ada dosa yang tidak akan diampuni? Jika benar, dosa apakah itu?” Yesus berkata bahwa “hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.” (Mat. 12:31). Apa arti pernyataan tersebut?

Pembaca, mohon pelajari statemen tersebut sesuai dan dalam konteksnya. Yesus menyembuhkan seorang bisu dan buta yang kerasukan setan. “’Maka takjublah sekalian orang banyak itu, katanya: “Ia ini agaknya Anak Daud.”’ (Mat. 12:23). Orang Farisi tak dapat menyangkal bahwa Yesus baru saja melakukan sebuah tanda ajaib besar.
Namun anehnya, para penentang Yesus tersebut tak mau mengakui kalau mereka kagum melihat mujizat itu. Mereka malah marah dan mengeraskan hati setelah melihat itu semua. Mereka berkata, “Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan.” (Mat. 12:24). Mereka menuduh Yesus melakukan tanda ajaib dengan kuasa dari setan.

Ketika orang Farisi itu menolak apa yang telah dilakukan Yesus, dengan mengaitkannya pada roh Beelzebul, Yesus merespon tuduhan mereka dengan berkata setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti hancur; kalau Ia mengusir setan dengan kuasa setan, maka setan pasti melawan dirinya sendiri. Setan jelas tidak akan melawan dirinya sendiri.

Kemudian Yesus berkata, “Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.” (Mat. 12:31, 32).

I. Yesus Tidak Mengatakan Menghujat Roh Kudus Berarti:
1. Menghujat Roh Kudus Bukan Berarti Membunuh
Orang-orang yang menyalibkan Yesus telah diampuni setelah mereka menaati syarat-syarat pengampunan (Kis. 2:36-41). Saat di atas kayu salib, Ia berdoa bagi mereka yang menyalibkan-Nya. Akan tetapi, Dia tidak bermaksud bahwa mereka akan atau dapat selamat tanpa menaati syarat-syarat yang telah ditentukan.

Rasul Paulus, sebelum bertobat, menganiaya orang Kristen, namun ia telah diampuni (Kis. 7:58-8:3; 9:1-18; 22:16). Dalam surat kirimannya ia berkata dulu ia seorang penghujat, penganiaya, dan yang menghancurkan jemaat. Namun kini ia telah mendapat anugerah pengampunan sebab semua itu ia lakukan tanpa pe-ngetahuan, yaitu di luar iman (1 Tim. 1:13-15). Jadi, “orang yang paling berdosa” pun masih bisa mendapat pengampunan.

2. Menghujat Roh Kudus Artinya Bukan Bunuh Diri
Beberapa orang menduga Yesus sedang berbicara tentang bunuh diri. Mereka sampai pada dugaan seperti itu sebab membunuh itu dosa, dan orang yang bunuh diri tak punya kesempatan untuk bertobat.

Memang Alkitab mengajarkan bahwa orang yang tidak bertobat dan belum diampuni, kemudian mati, tidak akan masuk surga. Namun bukan itu yang dimaksud Yesus ketika Ia berbicara tentang dosa yang tidak akan diampuni. Dalam konteks terlihat jelas bahwa orang yang melakukan “dosa yang tidak akan diampuni” itu bisa saja masih tetap hidup di dunia ini.

3. Menghujat Roh Kudus Artinya Bukan Mengucapkan Kata-kata Kotor
Jika itu yang dimaksud Yesus, maka rasul Petrus tidak akan dapat pengampunan. Ia mengutuk, bersumpah, namun ketika ia bertobat ia diampuni (Mat. 26:69-75; Yoh. 21).

4. Menghujat Roh Kudus Artinya Bukan Melakukan Tindakan Imoralitas
Yesus berkata kepada perempuan yang berbuat zinah, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi dari sekarang.” (Yoh. 8:11). Banyak orang Kristen di Korintus, sebelum bertobat, penuh dengan dosa imoralitas, namun mereka telah diampuni (1 Kor. 6:9-11; Kis. 18:8). Bahkan orang Kristen yang jatuh ke dalam dosa karena hal yang sama masih bisa mendapat pengampunan (1 Kor. 5:2; 2 Kor. 2:6-8).

5. Menghujat Roh Kudus Bukan Berarti Kembali Melakukan Perbuatan-perbuatan Dosa
Beberapa orang mengatakan hanya orang Kristen yang bisa jatuh ke dalam dosa yang tidak akan diampuni, sebab hanya orang Kristen yang punya (karunia) Roh Kudus; lalu disimpulkan, “dosa yang tidak akan diampuni” itu artinya kembali melakukan perbuatan-perbuatan tercela.

Dalam konteks, Yesus, saat mengatakan tentang dosa yang tidak akan diampuni, berbicara kepada orang Farisi dan ahli Taurat yang jahat itu, bukan kepada para pengikut-Nya. Alkitab mengatakan memang mungkin saja umat-Nya jatuh ke dalam dosa dan binasa. (Yoh. 15-1-16) Akan tetapi firman-Nya juga mengatakan tentang pemulihan, di mana orang yang jatuh ke dalam dosa masih bisa bertobat dan kembali ke jalan-Nya (Kis 8:22).

6. Menghujat Roh Kudus Bukan Berarti Menunda-nunda Menaati Injil Sampai Mati
Meskipun tidak mungkin lagi bisa menaati Injil setelah mati, namun orang yang tidak berbuat “dosa yang tidak bisa diampuni” dapat menaati Injil dan selamat sebelum ia mati. Yang dimaksud Yesus dalam teks adalah orang yang, setelah menghujat Roh Kudus, tak punya lagi pengharapan akan pengampunan. Karena itu “dosa yang tidak akan diampuni” bukanlah semata-mata karena melalaikan kewajiban.

II. Lalu Apa Yang Dimaksud Yesus Dengan “Menghujat Roh kudus?”
1. Menghujat Roh Kudus Artinya Mengucapkan Kata-kata Jahat Terhadap dan Melukai Perasaan Roh Kudus.
Menurut Standard Greek Lexicons, menghujat artinya “mengucapkan kata-kata jahat terhadap,” “menista” atau “mengucapkan penghinaan dengan sengaja kepada Allah atau terhadap hal-hal yang kudus.” Roh Kudus adalah pribadi dalam lem-baga keallahan, bukan sekadar pengaruh. (Mat. 28:19).

Karena itu, menghujat Roh Kudus berarti mengucapkan kata-kata jahat, menista, atau menghina (Roh Kudus) dengan sengaja. Menghujat merupakan suatu perbuatan nyata. Mengucapkan kata-kata jahat selalu melekat pada kata menghujat. Di bawah hukum Musa, orang yang menghujat dapat dihukum mati (Imm. 24:16).

Tentunya, sudah ada dosa sebelumnya di hati orang yang mengujat Roh Kudus sebelum ia menghujat. Sama halnya dengan orang yang baru berencana membunuh saja telah berdosa, sebab Tuhan tahu apa yang ada dalam hati setiap orang.

Akarnya adalah apa yang jahat yang sedang direncanakan adalah dosa juga, seperti kebencian, iri hati dan dengki. Ini bisa membawa orang pada tindakan pembunuhan. Kebencian dalam hati sama dengan membunuh dalam hati. (1Yoh 3:15).

Jadi, mengenai orang Farisi itu dikatakan, Yesus telah “mengetahui pikiran mereka,” (Mat 12:25) dan kata-kata yang mereka ucapkan merepresentasikan apa yang ada dalam hati mereka. Di kesempatan lain dikatakan Yesus “berdukacita karena kedegilan hati mereka” (Mark. 3:5).

Kata-kata mereka, yang menghujat Roh Kudus, seperti yang disebutkan dalam bahasan ini, berasal dari hati jahat mereka dan mengindikasikan hati yang jahat. Meskipun menghujat dan kedegilan hati tidak sinonim, namun menghujat yang dimaksud Yesus adalah berasal dari hati yang benar-benar degil. Itu sebabnya Yesus mengatakan tidak akan ada lagi pengampunan.

Jadi, dalam Mat 12:32, Yesus berbicara tentang jenis penghujatan tertentu. Ia menyampaikan hal yang mengerikan itu kepada orang Farisi sebab mereka mengatakan ”Ia kerasukan roh jahat.” Karena hati mereka degil, melawan pengajaran Allah, mereka benar-benar berada dalam bahaya. Hati mereka telah menjadi degil, tidak ada pengharapan, dan sama sekali tak mempan pengajaran Kristus, hati mereka dikelilingi oleh sikap prejudis kebencian.

2. Roh Kudus Memberikan Injil Demi Keselamatan Jiwa Manusia
Yohanes Pembaptis diutus Allah untuk mempersiapkan orang-orang bagi kedatangan Tuhan. (Yoh. 1:6; Luk. 1:17; 7:29-30). Pemberitaan Firman oleh Yohanes diikuti kemudian oleh pelayanan Yesus. Namun banyak yang menolak Yesus ... bahkan oleh kelompok yang sama, orang Farisi! Setelah pelayanan Yesus, pribadi ketiga dari lembaga keallahan diutus, yaitu Roh Kudus, untuk mengilhamkan para penulis Perjanjian Baru.

Yesus berjanji akan mengutus Roh Kudus untuk memimpin rasul-rasul kepada seluruh kebenaran. Roh kudus datang untuk memberi kesaksian tentang Yesus serta menyatakan syarat-syarat pengampuan. (Yoh 15:26 ; 16:7-13). Roh Kudus turun ke atas rasul-rasul pada hari pentakosta (Kis 2:1-4). Dalam kesempatan itu, Roh Kudus menawarkan pengampunan kepada orang-orang yang telah menolak Yesus, bahkan kepada mereka yang telah menyalibkan Dia (Kis 2:36-38). Namun pengampuan itu bersyarat, yaitu berdasarkan penerimaan mereka akan Kristus sebagai Anak Allah sebagai satu-satunya pengharapan pengampunan.

Mereka yang hidup pada masa pelayanan Kristus mungkin saja telah berdosa kemudian diselamatkan di bawah dipensasi Roh Kudus. Namun jika orang Farisi itu menolak penawaran terakhir dari kasih karunia itu dengan menghujat Roh Kudus, maka tidak ada lagi cara lain untuk menyelamatkan mereka; mereka tidak akan mendapat pengampunan dosa.

Jadi, pada saat itu Yesus berkata kepada orang Farisi itu bahwa orang boleh mengucapkan ”sesuatu menentang Anak Manusia” dan ia “akan diampuni, tetapi jika menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.” (Mat 12:32).

Maksudnya begini: “Kamu boleh menolak Firman Allah, namun jika kamu bertobat kamu akan diampuni; kamu boleh menolak-Ku dan menentang pelayanan-Ku, namun kamu akan diampuni jika bertobat; namun jika kamu menghujat dan menolak firman yang diajarkan Roh Kudus bila Ia datang dan berbicara melalui rasul-rasul-Ku maka tidak akan ada lagi pengampunan bagimu, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak. Pesan dari Roh Kudus itu akan menjadi tawaran pengampunan terakhir bagimu; dan orang yang menghujat Roh Kudus tidak akan diampuni.”

3. Pengajaran Roh Kudus Mesti Ditaati.
Jika seseorang menolak Roh Kudus pada zaman kekristenan sekarang, maka tidak akan ada lagi pengampuan bagi dia sebab Roh Kudus-lah, dari lembaga ke-allahan, yang terakhir diutus untuk mentobatkan manusia dari dosa. Tidak ada lagi rencana keselamatan yang ditawarkan kepada dunia. Itulah yang terakhir.

Agar selamat, setiap orang harus menaati hukum pengampunan dari Roh Kudus, yaitu hukum yang telah diberitakan oleh para rasul dan ditaati oleh mereka yang pertobatannya dicatat dalam kitab Kisah Para Rasul, yaitu: harus mendengarkan Injil, percaya, bertobat, mengaku iman dalam Kristus dan dibaptiskan. (Mark. 16:15-16; Kis. 2:36-38; 22:16).

Namun jika seorang Kristen jatuh ke dalam dosa, ia harus bertobat, mengakui dosanya dan berdoa. (Kis. 8:13-24;Yak. 5:16;). Semua dosa, tanpa terkecuali, akan diampuni apabila orang yang berdosa itu bertobat dan menaati Firman-Nya. Allah selalu “sudi mengampuni” (Neh. 9:17).

Allah akan mengampuni orang berdosa yang mau bertobat dan melakukan kehendak-Nya, namun yang tidak bertobat, tidak. Ia “...memberitakan kepada ma-nusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.” (Kis. 17:30). Ia “... menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang ber-balik dan bertobat.” (2 Pet. 3:9). Yang tidak menaati Injil, binasa (2 Tes. 1:7-10).

Jadi, ketika Yesus berkata “segala dosa dan hujat manusia akan diampuni” kecuali dosa hujat terhadap Roh Kudus, Ia tidak bermaksud bahwa setiap dosa akan diampuni tanpa menaati ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Tentu saja, orang yang menghujat Roh Kudus adalah orang yang jahat dan tidak akan pernah mau menaati syarat-syarat pengampuan dosa. Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang tidak mau bertobat. Sebab salah satu syarat pengampunan atau keselamatan adalah pertobatan (Luk. 13:3).

Lalu apakah “dosa menghujat Roh Kudus” itu? Itu adalah suatu watak-kekerasan hati yang membawa seseorang menghujat atau menista Roh Kudus. Ketika seseorang benar-benar tak mau menerima pengajaran Roh Kudus, dan malah menghujat-Nya, ia telah berbuat dosa yang tidak akan diampuni.

III. Mungkinkah Manusia Saat Ini Berbuat Dosa yang Tidak Akan Diampuni?
1. Seseorang Mungkin Saja Menentang Roh Kudus Saat Ini
Roh Kudus, sekarang, berbicara kepada manusia melalui Alkitab, firman yang diilhamkan. Stefanus mengatakan kepada orang yang menganiaya dirinya bahwa mereka menentang Roh Kudus saat mereka menolak firman yang ia beritakan (Kis. 7:51).

Bila manusia menolak apa yang diberitakan oleh para rasul yang diilhamkan, itu sama dengan ia telah menentang Roh Allah, karena Ia berbicara kepada manusia melalui hamba-hamba-Nya. Jadi, saat ini, jika seorang berdosa menolak menaati Injil, atau ketika seorang Kristen berdosa dan tidak mau bertobat, itu sama dengan ia telah menentang Roh Allah.

Manusia punya kebebasan untuk memilih, ia dapat menolak. Namun setiap kali ia menolak menaati Injil, ia mengeraskan hatinya dan makin jauh dari ketaatan. Karena tidak mau menaati Injil, akhirnya ia tidak akan mampu lagi menaati Kabar Baik itu. Ini akibat dari penolakan yang disengaja terhadap pengajaran Roh Kudus.

Kitab Suci dengan jelas mengajarkan bahwa seseorang yang mengeraskan hatinya akan makin sulit menaati kehendak-Nya. Walaupun kekerasan hati, tidak mau menerima Injil bukanlah menghujat Roh Kudus, akan tetapi akibatnya sama, yakni tidak ada pengampunan. Kira-kira seperti itulah keadaan hati yang dimaksud Yesus ketika Ia berbicara seperti yang dicatat dalam kitab Mat. 12:31-32, dan Ia berkata tidak akan ada pengampunan bagi orang yang menghujat seperti itu.

2. Ilustrasi
Contohnya, seseorang diikat dengan tali yang tipis di sebuah kursi. Tentu ia dapat memutuskan tali itu dengan mudah. Tapi coba orang itu diikat dengan tali yang berlapis-lapis, maka ia akan sulit melepaskan diri dari ikatan tali itu. Kira-kira seperti itulah dosa, yang mengikat setiap kali berbuat dosa yang akhirnya ikatan dosa itu makin banyak, berlapis-lapis, sampai akhirnya benar-benar terbelenggu.

Salomo berkata, “Orang fasik tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri.” (Ams. 5:22). Mungkin ada yang bertanya, “Apakah Kristus tak dapat memerdekakan orang?” (Yoh. 8:31-36). Jawabannya tidak, jika orang tersebut sangat jahat dan akhlaknya buruk serta tidak mau bertobat.

Ilustrasi lainnya, seseorang meneteskan setetes cuka ke matanya setiap hari. Lama-lama sudah pasti penglihatannya akan rusak. Dokter pribadinya mungkin telah memperingatkan, kalau itu tetap dilakukan maka ia akan benar-benar buta. Namun ia tidak mengindahkan peringatan itu, sampai akhirnya ia benar-benar buta total. Melakukan seperti itu gambarannya sama dengan berbuat dosa yang tidak akan diampuni. Jika seseorang berbuat dosa, dengan sengaja menentang Roh Kudus, setiap hari, maka jiwanya pasti akan binasa.

IV. “Apakah Saya Telah Berbuat Dosa yang Tidak Akan Diampuni?”
Oleh karena menolak dan menghujat Roh Kudus merupakan dosa yang tidak akan diampuni, maka orang yang benar-benar memerhatikan subjek ini tidaklah berbuat dosa yang tidak akan diampuni. Namun orang yang berbuat “dosa yang tidak akan diampuni” tidak akan peduli dengan hal itu. Jika seseorang berbuat dosa seperti ini, maka itu menjadi pertanda bahwa ia tidak peduli pada keselamatan jiwanya. Ia sama sekali tidak punya rasa sesal dan tidak takut akan Allah.

“Dosa yang tidak akan diampuni,” bagaimanapun itu dilakukan, pada dasarnya adalah dosa yang dilakukan dengan kemauan sendiri, dan sengaja melawan firman Allah, yang bersumber dari kedegilan hati serta tidak mau bertobat. Namun orang yang mau bertobat, yang ditunjukkan dengan ketaatannya pada firman-Nya, tidak berbuat dosa yang tidak akan diampuni.

Pengharapan pengampunan itu hanya untuk orang yang mau bertobat. Kasih karunia Allah itu besar; Ia akan mengampuni setiap orang berdosa yang datang kepada-Nya, entah itu orang berdosa atau orang Kristen yang jatuh ke dalam dosa, yang mau bertobat dan menaati kehendak-Nya, (Luk. 15; 1 Kor. 5:5; Yak. 5:19,20).

1. “Dosa yang Tidak Akan Diampuni” itu Tidak Dilakukan Dengan Tiba-tiba
Artinya “dosa yang tidak akan diampuni” itu tidak terjadi seketika, atau hanya dalam tempo satu hari, tapi secara perlahan-lahan.

Memadamkan artinya memberangus, membredel, melumpuhkan. Bila Roh Kudus dilumpuhkan, itu sama dengan telah berbuat dosa yang dilakukan secara terus menerus, yang akhirnya sampai pada dosa yang tidak akan diampuni. Bila seseorang mendukakan dan menentang Roh Kudus, ia sedang mempersiapkan jalan yang akan membawanya sampai pada memadamkan Roh Kudus.

Setiap langkah yang menjauh dari Tuhan adalah sangat berbahaya; langkah yang akan membawanya pada pemisahan yang kekal dari Allah. Selalu menolak Injil akan berakibat fatal. Orang yang selalu menentang Roh Kudus dan tidak mau mendengar firman Tuhan akan semakin jauh dan sulit untuk “kembali kepada Tuhan.” (Yes. 55:7). Semakin sering himbauan agar datang kepada Tuhan ditolak semakin degillah hatinya. Hanya segelintir orang yang selalu menolak Injil namun akhirnya bertobat.

2. Orang Kristen Harus Berharap dan Berdoa Bagi Keselamatan Semua Orang (Rom. 10:1; 11:23)
Beberapa orang hidup tanpa pengharapan. Lalu hati mereka makin degil; akan tetapi karena tak ada yang tahu pasti akan hal ini, maka janganlah simpulkan mereka tak mungkin lagi bisa diselamatkan. Selama orang berdosa itu masih hidup, tetaplah beritakan firman kepadanya.

Jika orang tersebut mau bertobat, ia akan selamat. Jangan menyerah! Belum tentu orang itu berbuat dosa yang tidak akan diampuni. Kita harus mengerahkan segala daya-upaya membawa orang berdosa kembali kepada-Nya, melalui pertobatan yang murni menaati firman-Nya.

3. Hari Ini Adalah Hari Keselamatan Itu
Di atas tebing Air Terjun Niagara ada sebuah tanda berbunyi, “Titik Penyelamatan Terakhir.” Awak kapal yang berlayar tahu bahwa ia tidak boleh melewati tanda tersebut. Sebab di seberang sungai itu terdapat ngarai yang curam dengan arus yang sangat deras. Jika ia melewati tanda itu ia tidak dapat kembali lagi.

Kira-kira seperti itulah keadaan orang yang berbuat “dosa yang tidak akan diampuni” atau menunda-nunda menaati Injil sampai ajal menjemput. Ia telah sampai pada titik di mana tidak ada lagi penyelamatan atau penebusan. Tidak ada lagi kesempatan untuk berbalik (bertobat).

Tak seorang pun tahu berapa lama ia akan hidup atau kapan kematian itu datang. Namun ada satu hal yang dapat ia ketahui dan pastikan agar keselamatan itu diperoleh, yaitu ia harus menaati Tuhan, sekarang. “... Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyela-matan itu.” (2 Kor. 6:2).

Tidak ada kebodohan yang paling besar selain daripada berfoya-foya dalam duniawi sampai jiwanya benar-benar rusak oleh duniawi. Kita harus mencari Tuhan selagi kita masih dapat menyelamatkan diri dari cengkeraman maut; besok mungkin akan terlambat (Ams. 27:1; Yak. 4:13-17).
-----------------------------------------
Alih Bahasa dengan penyesuaian tata bahasa seperlunya oleh: Marolop Simatupang

Rabu, 29 Juli 2009

Naskah Perjanjian Baru dan Keotentikannya

Kritikus Alkitab mempertanyakan keotentikan/keabsahan Perjanjian Baru. Ada yang bilang cerita Perjanjian Baru adalah rekayasa pribadi yang tidak historis. Ada lagi yang berpendapat kalau Injil itu hanya mitos atau legenda. Atau ada yang mengatakan Yesus memang ada, tetapi tidak pernah disalibkan maupun bangkit.

Apakah Perjanjian Baru itu otentik, berasal dari sumber yang sah? Mungkinkah ada distorsi sejarah yang mengubah peristiwa asli?

Ada 3 hal yang menentukan otoritas keotentikan naskah Perjanjian Baru:

1. Penyelidikan manuskrip-manuskrip (naskah-naskah salinan kuno) Perjanjian Baru.

2. Perbandingan manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru dengan manuskrip-manuskrip kuno yang lain.

3. Penanggalan naskah asli Perjanjian Baru.

Penyelidikan manuskrip-manuskrip yang berhubungan dengan Perjanjian Baru

Ada banyak, berlimpah manuskrip dan akurat untuk Perjanjian Baru dibandingkan dengan naskah-naskah kuno lainnya. Ada banyak manuskrip yang disalin dengan keakuratan lebih tinggi dan penanggalan yang lebih awal daripada manuskrip naskah-naskah kuno lainnya.

Berikut kita bicarakan beberapa manuskrip penting:

1. The John Rylands Fragment

Papirus ini berisi 5 ayat Yohanes 18:31-33, 37-38. Ditulis antara tahun 117–138 M, sekarang disimpan di John Rylands Library, Manchester, Inggris.

2. The Bodmer Papyri

Papirus-papirus ini ditulis sekitar tahun 200 M, berisi kitab Yohanes, Lukas, Yudas, 1 dan 2 Petrus.

3. Codex Vaticanus

Ditulis antara tahun 325–350 M. Manuskrip yang ditulis pada kulit binatang ini berisi seluruh Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Sekarang disimpan di Vatican Library.

4. Codex Sinaiticus

Ditulis tahun 340 M, berisi seluruh Perjanjian Baru dan sebagian Perjanjian Lama. Sekarang disimpan di University Library, Leipzig, Jerman.

5. Codex Alexandrius

Ditulis tahun 450 M berisi seluruh Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Sekarang disimpan di National Library dalam British Museum.

6. Codex Bezae

Ditulis tahun 450/550 M, berisi keempat Injil, Kisah Para Rasul dan beberapa bagian dari 3 Yohanes. Dan masih banyak lagi manuskrip-manuskrip berbahasa Yunani salinan Perjanjian Baru yang bertanggal awal. Total manuskrip berbahasa Yunani Perjanjian Baru ada sekitar 5000.

Tidak ada naskah kuno lainnya yang mempunyai manuskrip sebanyak Perjanjian Baru. Perbandingan naskah Perjanjian Baru dengan naskah kuno lainnya. Dari sisi dokumentasi, Perjanjian Baru memiliki bukti yang sangat berlimpah dibanding naskah-naskah kuno lainnya.

Tabel di bawah menunjukkan jumlah yang berlimpah, penanggalan yang lebih awal, dan keakuratan lebih tinggi yang dimiliki Perjanjian Baru dibandingkan buku-buku kuno lainnya.


Naskah

Waktu Penulisan

Manuskrip paling awal

Jumlah Salinan

Tingkat keaku-ratan salinan

Caesar

Abad 1 SM

900 M

10

-

Livy

Abad 1 SM

-

20

-

Tacitus

100 M

1100 M

20

-

Thucydides

Abad 5 SM

900 M

8

-

Herodotus

Abad 5 SM

900 M

8

-

Demosthenes

Abad 4 SM

1100 M

200

-

Mahabharata

-

-

-

90%

Homer

Abad 9 SM

-

643

95 %

Perjanjian Baru

30 - 100 M

130 M

5.000

99 + %

Beberapa pengamatan berhubungan dengan tabel di atas:

1. Tidak ada naskah kuno yang mempunyai manuskrip/salinan lebih dekat dengan naskah asli dan jumlah lebih banyak dibanding Perjanjian Baru.

2. Jarak antara penulisan pertama dengan penyalinan paling awal untuk Perjanjian Baru adalah sekitar 30 tahun untuk yang bersifat potongan dan kurang dari 250 tahun untuk keseluruhan naskah. Bandingkan dengan naskah kuno lain yang jarak antara penulisan pertama dengan penyalinan paling awal mencapai lebih dari 1000 tahun.

3. Tingkat keakuratan salinan Perjanjian Baru lebih tinggi dibanding naskah kuno lainnya yang dapat dibandingkan. Kebanyakan naskah tidak mempunyai jumlah manuskrip yang cukup supaya perbandingan dapat dilaksanakan. Penyalinan yang berjarak 1000 tahun dengan naskah aslinya membuat para sarjana tidak mempunyai cukup keyakinan untuk merekonstruksi naskah aslinya.

Bruce Metzger membuat perbandingan yang menarik antara Perjanjian Baru dengan Homer dan Mahabharata. Perjanjian Baru mempunyai 20.000 baris. Dari 20.000 baris ini hanya ada 40 baris (400 kata) yang masih dipertanyakan. Ini berarti keakuratannya: (20.000 - 40)/20.000=99,8%. Homer mempunyai 15.600 baris dengan 764 baris yang dipertanyakan. Ini berarti keakuratannya: (15.600-764)/15.600=95%. Mahabharata mempunyai 26.000 baris yang 10% nya masih dipertanyakan, yang berarti keakuratannya 90%.

Dengan demikian, dari sisi dokumentasi, Perjanjian Baru mempunyai dokumentasi yang jauh lebih baik dibanding naskah-naskah kuno lainnya. Perjanjian Baru mempunyai lebih banyak manuskrip, mempunyai jarak waktu terpendek antara salinan dengan naskah asli, dan mempunyai tingkat keakuratan yang lebih tinggi. Penanggalan naskah asli Perjanjian Baru tentang Kematian Kristus terjadi antara tahun 29–33 M. Argumentasi kehandalan catatan Perjanjian Baru berhubungan dengan penanggalan naskah asli Injil.

Rasul Paulus mati martir saat Nero berkuasa pada tahun 67. Tulisannya yang paling awal ia tulis sebelum dipenjara di Roma antara tahun 60–62 (Kisah Para Rasul 28). Dalam surat-suratnya ditemukan hal-hal penting mengenai kehidupan, pengajaran, kematian dan kebangkitan Yesus yang ditulis oleh saksi-saksi mata yang hidup pada saat itu.

Paulus mengajarkan bahwa Yesus lahir dari seorang perawan (Galatia 4:4), Dia sudah ada sejak semula dan pencipta alam semesta (Kolose 1:15-16), berada dalam rupa manusia dan rupa Allah (Filipi 2:5-8). Yesus adalah keturunan Abraham dan Daud (Roma 9:5; 1:3) yang hidup di bawah hukum Yahudi (Galatia 4:4), yang dikhianati pada malam Dia menetapkan Lembaga Perjamuan Kudus (1 Korintus 11:23-26), disalibkan di bawah pemerintahan Roma (1 Korintus 1:23; Filipi 2:8) meskipun ini tanggung jawab pemuka Yahudi (1 Tesalonika 2:15).

Yesus yang sama dengan Yesus yang ada di Injil ini dijelaskan telah dikuburkan selama 3 hari, bangkit dari kematian, telah dilihat lebih dari 500 saksi mata, yang sebagian besar masih hidup pada saat Paulus menulis surat ini (1 Korintus 15:4-6). Paulus mengenal murid-murid Yesus secara personal (Galatia 1:17). Petrus, Yakobus, dan Yohanes disebut sebagai 'tiang' dari komunitas Yerusalem (Galatia 2:9).

Paulus mengenal saudara laki-laki Yesus dan tahu bahwa Petrus beristri ( 1 Korintus 9:5). Paulus mengutip perkataan Yesus (1 Korintus 7:10-11; 9:14; 11:23-26). Di tempat lain Paulus menyimpulkan khotbah di bukit (Roma 12:14-21) dan mengajak mengikuti teladan Yesus Kristus (Roma 13:14).

Secara singkat disimpulkan, “Garis besar berita Injil yang bisa kita telusuri dalam tulisan Paulus sama dengan garis besar yang bisa kita temukan di tempat lain di Perjanjian Baru dan dalam keempat Injil”.

Beberapa penyelidikan mempertanyakan keotentikan Paulus terhadap naskah Perjanjian Baru. Mengenai hal tersebut, ini bisa dijawab:

1. Meskipun Paulus bukan saksi mata kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus, tetapi Paulus hidup pada zaman Yesus hidup.

2. Paulus menulis dalam 30 tahun setelah peristiwa-peristiwa kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus terjadi. Waktu 30 tahun ini terlalu singkat untuk terjadinya distorsi informasi. Di samping itu Paulus menantang pembacanya untuk mengecek kebenaran apa yang ia tulis dengan saksi mata yang sebagian besar masih hidup (1 Korintus 15:4-6). Tidak ada bukti sejarah yang menentang pernyataan Paulus, sebaliknya tulisan Paulus khususnya surat Roma, Korintus dan Galatia makin menegaskan keakuratan dan keotentikannya.

Injil Yohanes disebut ditulis oleh “murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus...” (Yohanes 21:20). Dengan proses penyisihan, murid ini pastilah Yohanes. Murid lain seperti Petrus, Filipus, Tomas dan Andreas disebut sebagai orang ketiga (Yohanes 1:41; 6:8; 14:5,8).

Lebih daripada itu, penulis adalah adalah salah satu dari 'inner circle' Yesus yang terdiri dari Yakobus, Petrus dan Yohanes seperti dibuktikan “bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya” (Yohanes 13:23-25), dia adalah saksi mata dan mempunyai informasi 'dalam' (Yohanes 18:15), dan pada kematian-Nya Yesus mempercayakan ibu-Nya dalam pemeliharaan Yohanes (Yohanes 19:26,27).

Yakobus mati awal (tahun 44M), sedangkan Petrus disebut sebagai orang ketiga (Yohanes 21:21). Dengan demikian, dengan metode penyisihan, penulis dari Injil keempat ini pastilah Rasul Yohanes.

Ada banyak bukti esksternal dan internal yang menunjukkan bahwa Injil ini ditulis oleh rasul Yohanes, murid Yesus. Iranius, Tertulianus, dan Clement dari Aleksandria setuju penulisnya adalah rasul Yohanes. Pentingnya pernyataan Iranius karena murid Yohanes yaitu Polycarp adalah guru Iranius.

Bukti internal kepenulisan rasul Yohanes untuk Injil keempat ini adalah:

1. Identifikasi melalui metode penyisihan seperti yang telah dijelaskan.

2. Injil ditulis oleh saksi mata pertama (Yohanes 20:2; 21:4)

3. Penulis adalah seorang Yahudi yang mengenal detil kebiasaan Yahudi dalam pembasuhan (Yohanes 2:6) dan penguburan (Yohanes 19:40), perayaan-perayaan orang Yahudi, bahkan kelakuan mereka (Yohanes 7:49)

4. Penulis adalah seorang Yahudi di Palestina yang mengenal baik geografi dan topografi daerah itu (Yohanes 2:12;5:2;19:17).

Semua bukti ini menunjuk kepada satu arah yaitu Yohanes, murid Yesus Kristus. Sarjana-sarjana sekarang menerima tradisi yang kuat mengenai kepenulisan Yohanes, yang bertanggal tahun 30-66 M. Dengan demikian kita memiliki kekayaan sejarah, dari tangan pertama, keterangan saksi mata mengenai kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus dan Lukas). Kunci penanggalan dari Injil-injil sinoptik adalah kitab l Lukas.

Kunci penanggalan Lukas adalah buku berikutnya setelah Injil Lukas yaitu kitab Kisah Para Rasul:

1. Kitab ini ditulis oleh rekan kerja Paulus, yang ditunjukkan dalam pemakaian “kami,” ditulis dalam bentuk orang pertama (Kisah Para Rasul 16:10-17; 20:5-21; 27:1-28:30).

2. Dengan proses penyisihan, satu-satunya rekan dekat Paulus yang tidak dituliskan dalam bentuk orang ketiga adalah Lukas, seorang tabib. Timotius, Silas, Markus, dan Barnabas semua namanya disebut ( Kisah Para Rasul 15:39; 16:1,25). Tingkat pemakaian bahasa Yunani yang dipakai, pemakaian istilah-istilah medis, dan pengetahuan yang melimpah semua cocok mengarah kepada karakter Lukas.

3. Narasi Kisah Para Rasul berakhir dengan penahanan Paulus di Roma yang terjadi dari tahun 60–62 M. Karena di sini dijelaskan Paulus masih hidup ketika Lukas menulis, dan karena di sini Lukas menutup narasinya, kita mengasumsikan bahwa tahun 60–62 M adalah penyusunan Kisah Para Rasul. Andaikata Lukas menulis sesudah tahun 67 M, maka ia akan menuliskan juga kematian Paulus yang mati martir tahun 67 M.

4. Injil Lukas adalah bagian pertama dari buku sejarah Lukas–Kisah Para Rasul. Kitab Para Rasul menunjuk kepada 'buku pertama' yang ditulis untuk orang yang sama yaitu Teofilus (Kisah Para Rasul 1:1; Lukas 1:3). Jika Lukas selesai menulis Kisah Para Rasul sekitar tahun 62 M, maka Lukas menulis Injilnya sekitar tahun 60 M.

Penyelidikan para sarjana menyimpulkan bahwa kitab Matius ditulis dalam periode yang sama, sekitar tahun 60 M, sedangkan kitab Markus ditulis lebih dahulu antara tahun 50–60

M. Matius, penulis Injil Matius adalah murid Yesus (Matius 9:9-13). Markus, penulis Injil Markus adalah sekretaris Petrus.

Kesimpulan

Kita mempunyai 5 sumber otentik yang berbeda mengenai kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus:

1. Paulus, yang hidup saat saksi mata tentang kehidupan Yesus masih hidup, menulis

10 surat yang ditulis tahun 50–60 M berisi pengajaran penting mengenai kehidupan, pengajaran, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus.

2. Lukas, rekan kerja Paulus, memakai sumber yang akurat dan keterangan saksi mata, menulis kehidupan yang lengkap Yesus Kristus dan sejarah gereja mula-mula hingga tahun 60–62 M.

3. Injil Markus yang ditulis sebelum Injil Lukas dan Injil Matius, ditulis antara tahun 50–60 M. Markus adalah sekretaris Petrus, murid Yesus, saksi mata kehidupan, pengajaran, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

4. Yohanes, saksi mata pertama, termasuk murid terdekat Yesus menulis antara tahun 30–66 M.

5. Matius, murid Yesus Kristus, saksi mata pertama, menulis Injil Matius sekitar tahun 60 M.

Dari sisi sejarah kita mendapati bahwa Perjanjian Baru:

a. Mempunyai keakuratan penyalinan yang sangat tinggi

b. Ditulis oleh sumber yang dapat dipercaya, ditulis dari sumber yang otentik/asli

c. Ditulis dalam kurun waktu di mana saksi mata masih hidup, yang andaikata ada kesalahan maka akan banyak menentang. Namum ternyata semua bukti menunjuk kepada keakuratan naskah Perjanjian Baru.

Dengan demikian maka dari segi keotentikan/keasliannya, maka kita menyimpulkan bahwa kehandalan dan keakuratan naskah Perjanjian Baru dapat dipercaya.
--------------
Sumber:
Geisler, Norman L. Christian Apologetics. Baker Book House, Grand Rapids, Michigan 49516,

Jalan dan Kebenaran dan Hidup

Banyak orang mengatakan jalan menuju pengharapan, kebahagiaan dan surga itu banyak. Bermacam-macam filsafat, kepercayaan dan ide yang masing-masing memiliki akhir kebenaran sendiri-sendiri.

Bahwa kehidupan manusia itu sangat dihargai sekali adalah benar. Mayoritas kita ingin hidup di dunia ini selama mungkin. Masing-masing kita mendambakan hidup yang kekal. Namun, hanya ada Satu Jalan untuk mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Hanya ada Satu Kebenaran yang bisa membuat manusia bebas dari dosa. Hanya Satu Kehidupan yang bisa memberikan hidup yang kekal bagi manusia.

Yesus Kristus, Anak Allah, adalah “Jalan dan Kebenaran dan Hidup” seperti yang disebutkan dalam kitab Yohanes 14:6, Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Yesus Kristus adalah “Jalan dan Kebenaran dan Hidup” karena Dia mati untuk dosa-dosa kita. Manusia berdosa karena melanggar hukum Tuhan (Roma 3:23; 1 Yohanes 3:4). Dan Kitab Suci mengatakan bahwa “Upah dosa ialah maut” (Roma 6:23). Maut adalah kematian yang kedua di neraka (Wahyu 21:8; Matius 10:28). Karena dosa, kita layak mendapat hukuman yang kekal di neraka.

Namun Allah tidak menghendaki satu orang pun binasa (Kisah Rasul 17:31), sehingga dalam kasih anugrah-Nya yang Agung, Ia mengutus Putra-Nya yang Tunggal mati di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia (Yohanes 3:16-17; Roma 5:6-10; 6:17-23)

Yesus Kristus adalah “Jalan dan Kebenaran dan Hidup” karena Dia telah bangkit dari kematian. Sebelum Kristus datang, kita hidup di dunia kekelaman tanpa pengharapan. Tapi sekarang Kristus telah datang dan menaklukkan kematian, bangkit dari kubur.

Karena Yesus telah menaklukkan kematian, maka Dia mampu memberi kita kemenangan dan menaklukkan kematian (1 Korintus 15:20-23; Wahyu 1:17-18). Dalam Yohanes 11:25, Yesus berfirman, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”

Yesus Kristus adalah “aJalan dan Kebenaran dan Hidup” karena Dia akan menghakimi semua manusia pada akhir zaman (Kisah Rasul 17:31). Semua akan berdiri di hadapan Kristus dan mempertanggung-jawabkan kehidupannya di bumi. Paulus, rasul yang di-ilhami menulis, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” (2 Korintus 5:10).

Yesus Kristus satu-satunya jalan menuju hidup yang kekal. Ia adalah Kebenaran. Tak seorang pun sampai kepada Bapa –memperoleh hidup kekal– kecuali melalui Dia. Supaya kita memperoleh berkat dari Kristus, kita harus percaya bahwa Ia adalah Anak Allah yang hidup, sebab Yesus sendiri bersabda, “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” (Yohanes 8:24)

Kita juga harus bertobat dari dosa (Lukas 13:3) serta mengakui Kristus di hadapan manusia. Seseorang tidak akan menerima berkat rohani dari Kristus kalau ia sendiri tidak mengakui-Nya di hadapan manusia. “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 10:32-33).

Setelah itu harus dibaptiskan ke dalam Kristus agar memperoleh pengampunan dari dosa (Kisah Rasul 2:38). Yesus berfirman, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Markus 16:16)

Yesus Kristus adalah “Jalan dan Kebenaran dan Hidup” yang sesungguhnya. Seseorang tidak akan selamat, sampai kepada Bapa kecuali melalui Dia (Kis. 4:12).